Tag Archives: Makna

Rahasia Kehilangan

Kelompok kafir Quraisy itu datang bergerombol ke rumah paman Nabi SAW, Abu Thalib. Beberapa dari mereka adalah tokoh terkenal dalam masyarakat Mekkah. Setelah dibukanya pintu oleh sang paman Nabi, seorang dari mereka memulainya, “Kami sudah tidak tahan dengan celaan yang diberikan oleh keponakanmu itu! Dia telah mencela nenek moyang kita, tuhan-tuhan kita, sembahan-sembahan kita. Tolong kamu nasehati dia ya Abu Thalib!”. Mendengarkan pesan ultimatum yang sangat jelas, dan juga dengan berbagai fasilitas duniawi yang ditawarkan untuk sang Nabi jika bersedia menghentikan dakwah “agama baru” ini, maka Abu Thalib pun berbalik badan dan masuk ke rumah hendak menemui sang Nabi SAW.

Ketika didapatinya sang keponakan, disampaikanlah pesan yang menjadi ultimatum dari pihak kafir Quraisy. Dan akhirnya Abu Thalib mengatakan dengan penuh harap: “Ya anak saudaraku, jangan kamu bebankan masalah yang tidak dapat aku pikul. Kamu telah mendengar  apa yang diinginkan mereka secara langsung dan mengerti imbalan-imbalan yang mereka janjikan.

Inilah saat yang mungkin agak dilematis, saat Nabi SAW dihadapkan pada pilihan, antara mematuhi sang paman yang telah merawatnya, mendidiknya, memberikan perlindungan kepadanya sedari kecil; atau melihat dakwah Islam yang tengah bertumbuh yang diturunkan lewat tangannya. Maka Nabi pun berkata, perkataan yang tak akan dilupakan oleh Quraisy dan sejarah: “Wahai pamanku, ketahuilah, andaikan matahari diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, untuk menghentikan dakwah ini, maka aku tidak akan menghentikannya. Sehingga Islam jaya atau aku binasa karenanya!”, setelah itu Nabi berlalu dengan raut muka yang sedih, dan memunculkan keyakinan dalam hati Abu Thalib untuk menyampaikan pesan jelas ini kepada gerombolan kaum Quraisy yang datang membawa penawaran itu.

Di satu masa dalam kehidupan sang Nabi, kita mengenang dua orang yang menjadi sandaran sang Nabi dalam menyampaikan dakwahnya yang masih bertumbuh waktu itu: Abu Thalib, dan Khadijah.

Kita mengenang Abu Thalib lewat peranannya yang luarbiasa kepada Nabi SAW sejak lahir: merawat, mendidik mandiri, sampai kepada tahapan luar biasa seperti perlindungan yang diberikan sang paman kepada Nabi SAW ketika dakwah ini tengah menghadapi konfrontasi yang luar biasa. Dalam masa hidupnya yang lain, kita juga mengenang Khadijah sebagai sosok yang sangat berperan besar dalam kehidupan dan perjuangan sang Nabi dalam memperjuangkan dakwahnya. Khadijah adalah simbol kesempurnaan wanita  Makkah: cantik, cerdas, kaya dan bangsawan. Pria Makkah mana yang tak ingin melamarnya? Tapi dengan potensi itulah luar biasa banyaknya peran yang biasa diberikan Khadijah kepada sang Nabi: sandaran hati, sandaran jiwa, sandaran finansial bagi dakwah, dan bahkan pengaruh status sosial Khadijah. Bahkan harta Khadijah pun habis oleh karena pengorbanannya dalam membantu dakwah, terutama ketika boikot tiga tahun yang sangat sadis, yang dilancarkan oleh kaum kafir Makkah.

Abu Thalib dan Khadijah, adalah dua keping mata uang emas bagi Nabi SAW. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang terjadi jika tiba-tiba Allah SWT menghilangkan kedua orang penting ini dari kehidupan dan perjuangan sang Nabi, dengan dakwah yang baru tumbuh?

***

Di suatu hari pada tahun ke sepuluh kenabian, wajah sang Nabi SAW terlihat sedih. Dengan kondisi tubuh yang sedang tidak sehat, diriwayatkan, beliau tidak melaksanakan shalat malam selama satu atau dua hari. Tahun itu dikenal di dalam berbagai pembahasan sirah sebagai ‘Aamul Huzni, atau tahun kesedihan.

Hari-hari itu adalah hari yang sangat berat bagi sang Nabi, dan waktu itu tibalah jua: meninggalnya dua orang yang menjadi sandaran jiwa dan keamanannya, Abu Thalib, dan sang istri tercinta, Khadijah. Hal ini mungkin juga ditambah dengan masih terasanya boikot tiga tahun terhadap kaum muslimin yang minoritas di Makkah oleh Quraisy dan kroni-kroninya. Dan juga, wahyu yang tidak turun-turun sejak kejadian meninggalnya dua orang penting dalam kehidupan sang Nabi SAW itu.

Saat itulah, datang seorang perempuan kepada sang Nabi SAW, dengan bernada mencela dan provokasi: “Ya Muhammad, aku tidak lagi melihat syaithanmu[1] melainkan dia telah meninggalkanmu!”.

Inilah tahun kesedihan, dimana ujian begitu berlipat-lipat yang didapatkan sang Nabi SAW. Dan tahun kesedihan adalah waktu uji konsistensi, komitmen, menyentak kembali pikiran utama dakwah ini: apakah sang Nabi SAW masih mau melanjutkannya?

Nah, di sinilah Allah SWT menurunkan sebuah surat di dalam Al Qur’an yang mengingatkan kembali sang Nabi SAW tentang dirinya, asalnya, sebagian dari nikmat apa saja yang Allah SWT berikan kepadanya, dan sanggahan Allah SWT terhadap tuduhan orang-orang musyrik bahwa Allah SWT telah meninggalkan nabi-Nya dengan masalah-masalah yang dia harus hadapi sendiri. Hendaklah kita, apabila dirundung ujian dan musibah yang begitu berat dalam hidup kita, untuk membaca dan merenungi kembali surat ini. Surat itu adalah Adh-Dhuha[2].

  1. Waddhuhaa – Demi waktu apabila matahari naik sepenggalah;
  2. Wallaili idzaa sajaa – Dan demi malam apabila sedang berada dalam keadaaan sunyi;
  3. Maa wadda aka Rabbuka wa maa qalaa – Tuhanmu tidak meninggalkanmu (ya Muhammad) dan Dia tidak pula membenci kamu;
  4. Walal aakhiratu khairul laka, minal ‘ulaa – Dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan;
  5. Walasau fa yu’tiika Rabbuka, fatardhaa – Dan kelak pasti RabbMu memberikanmu sampai kamu puas;
  6. Alam yajdika yatiiman fa aawaa – Bukankah Dia telah mendapatimu dalam keadaan yatim, lalu dia melindungimu;
  7. Wa wajadaka dhaallan fa hadaa – Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk;
  8. Wa wajadaka ‘aailan fa aghnaa – Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan lalu Dia mencukupimu;
  9. Fa ammal yatiima fa la taq har – Adapun terhadap anak yatim, janganlah kamu bersewenang-wenang;
  10. Wa ammas saaila fa la tanhar – Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya;
  11. Wa amma bini’mati rabbika fa haddits! – Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.

Mari membuka tafsir, renungi maknanya kembali. Bahwa Allah SWT memberikan ujian semata-mata sebagai sarana tarbiyah dan sarana untuk meninggikan derajat seseorang. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menerima ujian dengan lapang dada dan usaha menemukan makna hakikat dari setiap rangkaian hidup yang telah digariskan Allah SWT kepada kita masing-masing.

Maka berkatalah sang Nabi SAW, ketika peristiwa hijrah ke Madinah. Sang Nabi serta Abu Bakar dalam gua tsur, Abu Bakr yang ketakutan, ditenangkan oleh Nabi SAW dengan keyakinan bahwa Allah SWT tidak pernah meninggalkannya: La tahzan, Innallaha ma’ana! Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita!

Masjid Al Hurriyyah IPB, Bogor,

Dini hari, 5 Juni 2012,

Muh. Ihsan Harahap

*Tulisan amatir ini saya tulis untuk teman saya, Ina Walia Fathonah dan Ina Agistina.


[1] Yang dimaksud oleh perempuan ini sebagai ‘syaithan’ adalah Malaikat Jibril yang bertugas membawa wahyu dari Allah SWT kepada Nabi SAW.

[2] Ayat 1 dan 2 adalah Allah bersumpah atas nama waktu; Ayat 3 menyanggah tuduhan orang kafir: Allah tidak pernah meninggalkan rasul-Nya; Ayat 4 dan 5 adalah janji Allah kepada hambanya; Ayat 6 sampai 8 adalah untuk mengingatkan kembali keadaan Nabi Muhammad SAW sejak lahir sebagai orang yang yatim, dan sewaktu umur 37 tahun ketika beliau berkata: aku waktu itu diberikan keadaan dimana aku menyukai kesendirian; Ayat 9 dan 11 adalah perintah untuk melakukan hal-hal tersebut dengan merefleksikan isi ayat 6 sampai 8. Untuk lebih lengkap silahkan membuka tafsir Ibnu Katsir untuk surat Adh Dhuha ini.

Tagged , ,