Tag Archives: kaderisasi

Mengenang 63 Tahun Syahidnya Sang Pembangun

Khilafah baru saja runtuh. Kekhalifahan Islam yang saat itu berada di tangan Daulah Utsmaniyah, dan telah bertahan sekitar 1300 tahun lamanya, akhirnya runtuh pada 3 Maret 1924, oleh Mustafa Kemal, dan setelahnya, pada 29 November 1924, Mustafa Kemal resmi terpilih menjadi Presiden pertama Turki. Menjadikan Turki sebagai negara dengan masyarakat sekuler, setidaknya sampai sekarang.

Sejarah memang mendaftar banyak sekali kudeta berdarah, intrik licik politik, haus kekuasaan dan nafsu megalomania. Tak terkecuali runtuhnya khilafah pada tahun 1924. Namun, sejarah juga selalu menyaksikan, bahwa para pahlawan justru lahir dengan kondisi di tengah kudeta berdarah sedang dilancarkan, intrik licik politik menjadi hal biasa dan kekuasaan disembah bagai Tuhan. Di kondisi yang sedemikian parahnya, biasanya, pahlawan dilahirkan untuk memikul beban perubahan.

Dan pahamlah kita ketika Umar bin Abdul Azis tercatat sebagai tokoh reformasi di tengah ‘miringnya’ bangunan Daulah Umayyah, yang ketika istri Umar agak ragu untuk mendukung reformasinya, maka Umar mengancam menceraikannya. Juga Muhammad SAW, Che, Gandhi, Soekarno, Muhammad Natsir, pun muncul dari kondisi seperti itu. Tak terkecuali seorang tokoh yang tubuhnya dijebak konspirasi timah panas thogut di sebuah jalan di Mesir, 63 tahun yang lalu. Dialah Sang Pembangun, sesuai namanya, Hasan Al Banna.

Di antara tiga tokoh penting yang berkaitan dengan “pembaharuan Islam” dan “Pan-Islamisme” waktu itu, yakni Jamaluddin Al Afghani, Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh, maka ada yang berbeda dari Hasan Al Banna. Kalau Al Afghani, Rasyid Ridha dan Abduh “hanya” melakukan penyadaran melalui jalur pemikiran, ceramah, berkelana sampai Eropa dan serangkaian aksi nyata-nya, maka Hasan Al Banna menyempurnakannya dengan satu hal penting yang mungkin terlupa dari tiga pembaharu tadi: kaderisasi.

Maka dimulailah kaderisasi itu dengan enam orang yang dapat direkrut Sang Pembangun di kafe tempat beliau biasa berdakwah. Ya, di beberapa kafe dan warung kopi di berbagai pelosok Mesir-lah enam orang rekruitan pertama ini tertarik dengan ajakan Sang Pembangun. Jangan bertanya soal kualitas yang mumpuni tentang rekruitan yang awal ini. Beberapa riwayat konon mengatakan bahwa rekruitan pertama itu berwudhu saja tidak bisa. Tapi di kemudian hari, mereka menamakan dirinya sebagai Ikhwanul Muslimin, di dunia barat lebih dikenal dengan sebutan Muslim Brotherhood, yang disegani di Timur dan Barat.

Begitulah Hasan Al Banna, Sang Pembangun, yang membangun orang dengan sentuhan kasih sayang dan cinta yang tulus menumbuhkan, orang yang di suatu kesempatan harus berjalan kaki pulang ke rumahnya karena tidak ada uang yang tersisa untuk membayar jasa angkutan umum. Padahal di kesempatan lain beliau yang punya puluhan kelompok halaqah dan usar terbiasa menjamu para binaannya dengan hidangan kesukaan mereka masing-masing.

Ibnu Khaldun mengatakan di dalam Mukaddimah bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang karena tingginya gengsi dan rasa ukhuwah yang tidak kuat, mereka para Arab itu, tidak akan bersatu di bawah satu bendera kecuali ia adalah bendera Islam, di luar itu pastilah mereka bertengkar. Apa yang Sang Pembangun lakukan? Tidak lain adalah membuat para anggotanya saling mencintai melebihi cinta mereka kepada diri masing-masing, sesuai namanya, Ikhwanul Muslimin. Persaudaraan kaum Muslim.

Hal lain dari Al Banna, Sang Pembangun, adalah membangun manusia paripurna salah satunya dengan mengkaji secara dalam Sirah Nabawiyah atau sejarah hidup dan perjuangan Rasulullah SAW. Maka tak heran jika pada suatu saat, salah seorang agen CIA di Mesir diketahui merekomendasikan satu hal kepada CIA: mewaspadai gerakan Ikhwan yang mengkaji sejarah perjuangan Rasulullah SAW secara khusus, karena mengakibatkan meningginya semangat kaum muda untuk memperbaiki keadaan umat Islam. Sang Pembangun adalah sosok sederhana namun ditakuti dan disegani para musuh.

Al Banna, Sang Pembangun, status keulamaannya pun ‘diragukan’ beberapa orang yang menyebut diri mereka ‘ulama’. Tapi Ikhwanul Muslimin tak peduli penilaian manusia yang seringkali dhaif. Tetapi kita cukup melihat bukti keistimewaan Sang Pembangun dengan manusia-manusia yang dilahirkannya. Mereka adalah manusia-manusia langka seperti Abul Hasan Ali An Nadwi, Muhammad Ghazali, Syaikh Mustafa Masyhur, Sayyid Quthb, Yusuf Qardhawi, Fathi Yakan, Said Hawwa, Mustafa Siba’I dan banyak lainnya.

Suatu hari, setelah dewasa, setelah kematian sang Imam Hasan Al Banna, anaknya yang telah tumbuh dewasa membolak-balik risalah perjuangan peninggalan ayahnya. “Kalian akan diburu, dianiaya dan difitnah seumur hidup. Kalian akan dipenjara dan digantung!” Pahamlah sang anak mengapa Sayyid Quthb, sang calon sekularis besar yang terekrut ke jamaah Ikhwan setelah terbunuhnya Al Banna, dengan tegas mengatakan sebuah kalimat, yang kelak menginspirasi para pejuang Ikhwan: “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah SWT setiap shalat, menolak untuk menuliskan satupun huruf penundukan untuk menyerah pada rezim thagut!”. Maka sang Sayyid pun dijebloskan ke dalam penjara, selama 15 tahun, maksud hati sang Presiden Jamal Abdul Nasir untuk membuat jera para pejuang Ikhwan, tapi penjara 15 tahun itulah bagian dari petaka Abdul Nasir: Sayyid Quthb mempersembahkan Fii Zhilalil Qur’an yang fenomenal itu, dan benderanglah Mesir dan dunia.

Sekarang gerakan Ikhwan telah berkembang di ratusan Negara, dan menumbuhkannya menjadi bara api perlawanan terhadap ketidakadilan. Maka lahirlah Recep Tayyip Erdogan dengan AKP-nya di Turki, An Nahdah di Tunisia, HAMAS di Palestina, FJP di Mesir sendiri, bahkan sampai meraja di Indonesia dan ratusan gerakan dengan nama yang berbeda di tiap negara dengan tetap bermanhaj sama.

Apa yang harus dilakukan seorang Imam yang telah syahid, ketika pada 1952 secara resmi Ikhwanul Muslimin dilarang di seluruh Mesir oleh pemerintah. Ketika kelompok usar dan halaqah harus berhati-hati di tengah rezim Mubarak, ketika seorang mahasiswa Indonesia ditangkap oleh pemerintah Mesir pada 2007 karena di kamarnya terdapat foto Syaikh Ahmad Yassin, sang pendiri HAMAS. Apa yang mesti dilakukan Sang Syahid yang telah pergi dari dunia yang fana ini?

Beruntunglah, beliau mewariskan risalahnya, meskipun ‘hanya’ dua buah –dan dibuat ‘syarah’nya oleh puluhan pengamat politik dan ulama. Ketika arkanul bai’ah atau rukun baiat yang sepuluh itu: bermula dari Al-fahmu dan berakhir pada Ats-tsiqoh, cukuplah kiranya kita mengerti mengapa gerakan Ikhwanul Muslimin yang dibredel pada 1952 sampai 2010, kemudian mendirikan partai bernama Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizbul Al Hurriyyah wal ‘Adalah/Freedom and Justice Party), dan menang 49% dalam Pemilihan Umum Mesir.

Sekarang kita akan menunggu kabar selanjutnya dari tanah dimana Al Azhar berdiri, bagaimana sepak terjang Ikhwanul Muslimin yang lebih lanjut. Insya Allah setelah Pemilihan Presiden Mesir yang rencananya dipercepat pada April 2012 ini. Saksikan.

Mengenang 63 tahun syahidnya Imam Syahid Hasan Al Banna.

Bontokaddopepe, 20 Februari 2012

Muh. Ihsan Harahap

—-

NB: Menang 49% di paragraf terakhir tulisan ini berasal dari hitung cepat media waktu itu.

Advertisements
Tagged