Tag Archives: ikhwanul muslimin

Transaksi Peradaban

Sejarah telah diwarnai, dipenuhi dan diperkaya oleh orang-orang yang sungguh-sungguh. Bukan oleh orang-orang yang santai, berleha-leha dan berangan-angan. Dunia diisi dan dimenangkan oleh orang-orang yang merealisir cita-cita, harapan dan angan-angan mereka dengan jiddiyah (kesungguh-sungguhan) dan kekuatan tekad!
– KH. Rahmat Abdullah

Jika kita membaca sejarah tentang Muhammadiyah, Nahdatul ‘Ulama, Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jama’ah Islami di Pakistan dan HAMAS di Palestina, maka kita akan menemukan satu hal penting yang melahirkan narasi panjang sesudahnya: pengorbanan.

Pengorbanan dan kesadaran adalah dua keping uang yang selalu jalan bersamaan. Ia adalah sahabat karib yang berjalan berirama di lorong sejarah. Pengorbanan lahir dari kesadaran. Kesadaran lahir dari pencarian kebenaran hakiki yang tidak mungkin sebentar. Kesadaran yang lahir dari perenungan mendalam atas masalah tertentu, akan membuat ‘pelaku kesadaran’ mengumpulkan semua ‘syarat-syarat’ yang semuanya tertuju pada tercapainya target-target yang ditetapkannya. Kesadaran, telah membuat orang-orang besar yang telah menghiasi literatur sejarah kita, mengetahui, bahwa untuk mencapai visi tertinggi mereka adalah dengan meninggalkan semua pekerjaan yang tidak ada hubungannya dengan visi itu. Seperti di dalam hadits Nabi SAW:

Hadist

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu’anhu, dia berkata: “Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya”.”
(Hadits hasan. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan beberapa periwayat).

Salah satu ciri kekerdilan seseorang, atau kelompok, atau sebuah bangsa, adalah apabila cita-cita besar yang diimpikannya tidak sesuai dengan pengorbanan yang mereka berikan. Kalau kita membaca di buku-buku sejarah di dunia, imperium-imperium yang telah tumbang satu-persatu itu adalah peradaban-peradaban yang tidak mampu mengelola potensi-potensi besar yang ada pada dirinya. Ada pengorbanan lain yang mereka lupa.

Dan hari ini, lebih dari enam dasawarsa negeri ini merdeka, tapi sudahkah negara kita benar-benar merdeka? Merdeka di dalam pengelolaan sebuah negara berarti kemampuan untuk mandiri, mandiri di dalam berbagai bidang dengan tetap membuka kerjasama yang menguntungkan dengan negara lain. Negeri ini, Indonesia, adalah negeri yang telah dijajah sekitar 350 tahun oleh Belanda, 4-6 tahun oleh Jepang, dan kemudian kita ‘dijajah’ lagi dengan 32 tahun orde baru, setelahnya pun, 13 tahun reformasi, membuat kita masih tidak mengerti format apa yang seharusnya cocok untuk mengurus negeri ini.

Lihatlah Aljazair yang dijajah Prancis selama 125 tahun, lalu Afganishtan yang dijajah 14 tahun oleh Uni Soviet kemudian AS. Dan bahwa jumlah korban yang ditimbulkan oleh Perang Dunia kedua adalah sekitar 20 juta orang, dan kita pun tahu, pengorbanan yang sebesar itulah yang membuat AS menjadi negara adidaya seperti sekarang ini. Jangan lupa, gerakan Ikhwanul Muslimin yang pengaruhnya ke seluruh dunia, bahkan sampai ke negeri kita itu, didirikan oleh Hasan Al Banna di usianya yang ke-22 tahun.

Tentang ‘daya tahan’ ketika pengorbanan itu sedang kita nikmati, sepatutnyalah kita kreatif ‘membuat’ harapan terhadap negeri kita, seperti Nabi SAW dan para Sahabat menjaga harapan terhadap Islam ini ketika perang Khandaq. Waktu itu, ketika perang yang digambarkan oleh banyak periwayat sebagai sebuah kongsi untuk mengembargo negara Madinah, Rasulullah atas saran Salman Al Farisi menyuruh para Sahabat untuk menggali parit dalam menghadapi perang melawan koalisi Jazirah itu. Di beberapa bagian, tanah Madinah bisa digali, tapi tidak di bagian lainnya. Sehingga para Sahabat kemudian mengadu kepada Rasulullah SAW. Ketika Rasulullah SAW menghantamkan cangkulnya ke tanah yang bercampur batu itu, terpercik api, maka Rasulullah SAW mengatakan telah melihat bayangan Istana Mada’in, dihantam dan terpercik api lagi, Rasulullah SAW mengatakan telah melihat bayangan istana Persi dan Romawi, dan alhasil parit Khandaq berhasil dibuat. Itulah keoptimisan.

Lain lagi ceritanya dengan para sahabat. Para sahabat, yang menderitakan pengepungan Khandaq (sebagaimana dalam sebuah riwayat: mereka sampai harus memakan akar pohon karena tak ada lagi bahan makanan), para sahabat mengatakan: Sungguh kemenangan telah tiba. Telah kami lihat kondisi semakin gelap, dan fajar kemenangan kian dekat.”

Inilah transaksi sejarah. Setiap kejayaan sejarah yang ingin kita raih, membutuhkan ‘biaya’-nya masing-masing. Naiflah kita, jika visi agung yang telah kita tulis di dalam kita, kita ingin capai dengan pengorbanan sedikit dan tidak sepadan.

Ada tiga suku kata untuk orang yang seperti itu: MUS-TA-HIL!

 

Bontokaddopepe, 14 Januari 2012

Muh. Ihsan harahap

Advertisements
Tagged