Tag Archives: daniel johnson

Mehdi Hasan di Oxford Union: Argumen Cerdas di Debat Berkelas

Oxford Union (Est.1823) (source: oxford.union.org )

[ket: Agar mendapatkan kesan yang bagus, lebih baik menonton video debatnya langsung, sambil membaca tulisan ini sebagai terjemahannya.]

Di tengah keterbatasan kemampuan bahasa Inggris yang saya punya, kita akan membicarakan sebuah debat yang menjadi topik pembicaraan menarik akhir-akhir ini, terutama setelah Oxford Union mengunggah video debat ini pada 3 Juli 2013.

Pada 28 Februari 2013, Oxford Union, lembaga tradisi diskusi dan debat paling tertua di dunia (didirikan sejak 1823), mengadakan debat dengan tema yang cukup panas, yaitu, “Apakah Islam adalah agama cinta damai?”. Debat ini menghadirkan tiga pembicara di masing-masing pihak, pihak pro dan pihak kontra.

Dari pihak kontra. Pembicara pertama adalah Anne-Marie Waters, seorang aktifis politik dari partai kiri terkemuka di Inggris: Partai Buruh (Labour Party). Anne-Marie juga aktif dalam mengkampanyekan kekhawatiran dan ke-anti-an terhadap penerapan hukum syari’ah. Di dalam argumennya di debat ini, Anne-Marie banyak mengambil contoh-contoh yang dilakukan oleh oknum muslim: bom bunuh diri, kekerasan seksual, terorisme dan sejenisnya. Pembicara kedua adalah Daniel Johnson, jurnalis dan editor di majalah Standpoint, alumni bidang Modern History dari Universitas Oxford. Pembicara ketiga adalah Peter Atkins, seorang kimiawan terkemuka Inggris. Peter Atkins dianugerahi gelar Professor dari Universitas Oxford dan sekarang juga masih mengajar di Lincoln College, Universitas Oxford. Peter Atkins juga dikenal baik sebagai seorang Atheis.

Dari pihak pro. Pembicara pertama adalah Matthew Handley, seorang mahasiswa jurusan Sejarah di Universitas Oxford. Pembicara kedua adalah Adam Deen, intelektual dan debater muslim terkemuka di Inggris, juga Direktur Eksekutif di The Deen Institute. Pembicara ketiga adalah Mehdi Hasan, editor politik di Huffington Post dan pembawa acara “Head to Head” di Aljazeera Inggris. Mehdi Hasan adalah lulusan Christ Church, Universitas Oxford. Beliau lulus dalam bidang PPE (Philosophy, Politics, Economics). Sekedar tambahan, jurusan PPE di Oxford ini sangat terkenal di dunia karena menjadi “pabrik” bagi pemimpin-pemimpin dunia. Alumni-alumninya antara lain: Benazir Butho, Ali Butho, keduanya mantan Perdana Menteri Pakistan, Tony Abbot (PM Australia), Ferdinand Marcos Jr (Senator Filipina), sampai kepada orang yang  dikenal atas film The Lady: Aung Sang Suu Kyi (Politisi Burma paling terkenal, peraih Nobel Perdamaian). Bahkan BBC dan The Guardian secara khusus membuat tulisan tentang jurusan PPE di Oxford yang fenomenal.

Debat ini menjadi banyak dibicarakan akhir-akhir ini, terutama karena pembicara terakhir ini yang memukau: Mehdi Hasan.

Di tulisan ini kita akan sedikit membahas -sebisa saya- tentang performa Mehdi Hasan di dalam debat ini, terutama adegan-adegan di dekat tepuk tangan. Di debat ini Mehdi Hasan beberapa kali membuat penonton tersenyum, bertanya-tanya dan bertepuk tangan. Mehdi Hasan tampil sebagai pembicara keenam, atau terakhir, setelah semua pembicara mengambil giliran. Dengan penuh kekuatan dan semangat dia berbicara.

Mehdi Hasan. (source: oxford-union.org)

Menit-menit Pertama

Di menit pertama, Mehdi Hasan memulai dengan mengatakan,

Sebagai seorang muslim, wakil dari Islam, duta Islam, pengikut Islam dan nabinya. Maka dalam kapasitas ini, marilah saya mulai dengan meminta maaf kepada Anne-Marie atas tragedi Bom Bali dan lainnya. Saya minta maaf atas apa yang “telah dilakukan” oleh agama saya, oleh orang-orang saya untuk tragedi-tragedi itu. Ya, “Itu adalah karena kami”. “Itu dilakukan oleh Islam, oleh Qur’an”, “Itu dilakukan oleh muslim”, dan sebagainya. Tapi, ini adalah tuduhan yang sangat mengejutkan. *Mehdi Hasan tersenyum*

Di menit 01:00 sampai 01:30, Mehdi Hasan mengatakan bahwa pernyataan-pernyataan yang “mengejutkan” dari Anne-Marie bisa membuat dia sendiri kehilangan karirnya di Partai Buruh, tapi, kata Mehdi Hasan sambil menyindir dengan cerdas, “Jangan khawatir, Partai Nasional akan merekrutmu.”

Di menit 01:30 sampai 01:50, Mehdi Hasan beralih. Setelah menanggapi pernyataan Anne-Marie, kini dia menanggapi pernyataan Daniel Johnson, pembicara kedua, yang mengatakan bahwa Islam lahir di Arab Saudi;

Mari kita bicara fakta. Pembicara kontra yang kedua (Daniel Johnson) mengatakan bahwa “Islam lahir di Arab Saudi”. (Mehdi Hasan kemudian berikan faktanya bahwa) Islam lahir pada 610 Masehi, sedangkan Saudi baru lahir 1932 Masehi! *tepuk tangan kedua..penonton sambil tertawa*

Mehdi Hasan bicara Sejarah

Sebagai seorang alumni PPE, Mehdi Hasan tentu akan banyak bicara tentang sejarah. Sekarang dia menanggapi pembicara kontra yang mengatakan bahwa Islam adalah kejahatan, kekerasan, terorisme; Mehdi Hasan kemudian berbicara sejarah, yang menunjukkan sebaliknya: jasa-jasa besar ilmuwan Muslim yang mengantarkan Eropa menjadi seperti sekarang;

Mari kita bicara tentang matematika. Seseorang bernama Al Khawarizmi, yaitu matematikawan terbesar di sepanjang dunia Islam. Orang inilah yang menemukan Aljabar, bahkan bukan hanya Aljabar, tapi Algoritma! Tanpa algoritma, Eropa takkan punya laptop, dan tanpa laptop maka Daniel Johnson (pembicara kontra kedua) tidak akan bisa memprint pidato kali ini untuk (kemudian) menuduh semua muslim dan semua kontribusi Besarnya kepada Barat yang telah berlalu dengan banyak kontribusi, termasuk kepada para Yudea dan semua kristen: manusia-manusia Eropa.

FAKTANYA, David Levering, sejarawan pemenang Pulitzer Prize dua kali, dan juga seorang sejarawan beragama Kristen, mengatakan bahwa TIDAK AKAN ADA Abad Renaissance, tidak akan ada reformasi-reformasi di Eropa TANPA kontribusi besar dan peran penting dari Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan ilmuwan-ilmuwan besar muslim lain, ahli teologi dan ilmuwan filsafat, yang membawa kembali teks Yunani ke Eropa!

*tepuk tangan besar kedua*

The Great of Andalus

Book: God’s Crucible: Islam and The Making of Europe, by David Levering Lewis, in Bahasa Indonesia. (source: personal documentation)

Mehdi Hasan melanjutkan dengan argumen sejarah yang lebih berani,

Juga atau karena ini universitas “kita” *mehdi hasan menekuk kedua jari tengah dan telunjuknya* -saya sedang mencari siapa itu “kita” dan yang lain. Saya juga belajar di universitas ini.

Hmm, mengejutkan! Mengejutkan pernyataan (dari debater kontra) tentang kasus ini malam ini. Saya pikir itu (pernyataan debater kontra) hanya campuran dari distorsi,  mispersepsi dan salah mengutip ditambah pendapat-pendapat pribadi. Daniel (debater kedua) berbicara tentang tulisan saya di New Statesman tentang beberapa komunitas muslim di timur tengah yang menunjukkan anti-semitisme (anti Yahudi). Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa itu ajaran islam.

Faktanya, anti-semitisme modern yang berkembang sekarang di Timur Tengah, diimpor dari..? Kristen eropa! Yang membuat banyak keburukan kepada Yahudi Eropa!

(Holocaust terhadap orang-orang Yahudi Eropa oleh Adolf Hitler dan Nazi)

552332

Mein Kampf, Adolf Hitler, in Bahasa Indonesia. (source: personal documentation)

Kemudian Mehdi Hasan lanjutkan argumennya soal anti-semitisme dan cara berpikir paradox para pihak kontra, di menit 03:30 ke atas;

Faktanya, Thomas Friedman (pemenang Pulitzer Prize tiga kali), seorang kolumnis beragama Yahudi di New York Times, memberitahu kepada saya di ruangan ini (aula Oxford Union Debate) di pertemuan terakhir kami, dia mengatakan jika Islam sudah dijalankan di Eropa pada waktu itu, maka 6 juta lebih pelarian Yahudi pada 1940 (Perang Dunia Kedua, ketika Nazi melakukan pemberantasan kepada para Yahudi) pasti masih hidup sampai sekarang. Maka mari mengambil pelajaran dari tuduhan anti-semit (tuduhan Daniel ke Mehdi Hasan) yang kita dengar malam ini dari beberapa orang kristen Eropa (maksudnya 3 orang debater kontra ini), dimana nilai-nilai merekalah yang menjadi sebab pengejaran dan pembantaian kepada 6 juta yahudi. *penonton bertanya-tanya*

Sekarang sampai menit 03:50, seorang penonton kontra, anak muda Eropa, melakukan protes, “Bagaimana anda memastikan dan menjustifikasi (bahwa Eropa adalah pembunuh)?”. Mehdi Hasan kemudian menolaknya dengan mengatakan, “No, no, no… Saya setuju dengan anda, saya setuju 110%. Ini poin saya: saya tidak berpikir (dan menuduh) bahwa Eropa itu setan. Karena saya juga bangga sebagai orang Eropa.”

Mehdi Hasan melanjutkan,

Tapi jangan lupa semua “permainan” selama ini (dan juga di debat ini). Kita menjustifikasi Bom Bali (bahwa muslim pelakunya), dan kita menuduh komunitas muslim anti-semit di timur tengah tadi. Tentu saja kita (harus adil membawa, menilai, membahas, masalah ini) dan tidak boleh mengabaikan masalah ini.

Di menit 04:35 sampai 05:30, Mehdi Hasan menyambung, dengan jawaban jleb,

Yang menjadi masalah, adalah bahwa Daniel (debater kontra kedua) seolah-olah membawa ideologi suci Kristen, namun di saat yang sama, melupakan bahwa teman-teman kristennya, orang-orang yang sering menjuluki diri mereka sebagai pengikut Yesus, malah memberikan kita Perang Salib, Inkuisisi Spanyol (oleh Isabella dan rajanya), Program Anti Yahudi (oleh Nazi), Kolonialisme Barat di Afrika dan Asia, Lord’s Resistance Army di Uganda, belum lagi penyerangan dan pemboman yang tidak terhitung terhadap klinik-klinik aborsi di Amerika di TV setiap hari!

Saya ingin yang pertama merendahkan hati saya ke Daniel (pembicara kontra kedua) dengan tidak menggurui kepada agama-agama dan komunitas-komunitas yang berbeda tentang kejahatan, teror dan intoleransi!

Ratusan penonton bertepuk tangan untuk argumen Mehdi Hasan. Di sini Mehdi Hasan meminta air minum kepada fasilitator debat. Dan Mehdi Hasan melanjutkan dengan menanggapi argumen pemrotes tadi,

Tapi saya ingin mengatakan ini, spesial untuk laki-laki yang memprotes saya tadi, bahwa: saya tidak melakukan permainan seperti itu. Saya tidak percaya bahwa Kristen adalah agama kekerasan dan kebencian, meskipun telah terjadi sejarah seperti perang salib dan LRA di Uganda, tapi biarlah berlalu.

Saya percaya bahwa Kristen seperti Islam seperti agama-agama besar lain pasti berbasis pada cinta, kasih dan kesetiaan.

Saya juga seorang pemeluk agama. Ada 113 sampai 114 ayat dalam Qur’an memulai dengan memperkenalkan Tuhan islam (Allah) sebagai tuhan yang maha rahman dan rahim.  Saya meragukan agama, jika Allah memperkenalkan dirinya kepada manusia sebagai Tuhan perang, tuhan kejahatan, tuhan kebencian dan ketidakadilan.

Adam (Adam Deen, debater pro) sudah mengatakan tadi bahwa bukalah Qur’an dan kamu akan menemukan ajaran kasih, cinta dan keadilan. Dan ya, anda pasti akan menemukan ayat yang bisa ditafsirkan ke dalam “perang” dan “kekerasan”. Tentu saja.

Isi Al Qur’an bukan merupakan tanda “pasifisme”. Tidak! Tetapi Islam membolehkan aktifitas militer dan kekerasan, tetapi dalam konteks tertentu dan terbatas. Dan ya, ada minoritas yang mengambil ayat-ayat itu untuk berbuat sesuatu di luar konteks dan batas (yang dibolehkan oleh Qur’an).

Tapi apakah itu tindakan yang religius?

Daniel dan Anne-Marie mengatakan bahwa itu tentu saja tindakan religius (yang dilakukan oleh pengikut Islam).

Muka Anne-Marie memerah

Di sini Mehdi Hasan menyindir debater kontra dengan argumen yang membuat muka Anne-Marie menjadi merah,

Apa yang saya temukan malam ini sungguh menggelikan. Kita sampai sekarang sudah berdebat tentang Islam. Dan pihak kontra malam ini maju berbicara dengan latar belakang bervariasi.

Ada yang lulusan Hukum (Anne-Marie Waters), ada yang lulusan Sejarah Modern (Daniel Johnson) dan lulusan Kimia (Peter Patkins). Dan tahukah anda? Tidak satupun dari mereka bertiga yang bisa dianggap sebagai ahli dalam Islam, bukan intelektual yang belajar tentang islam, bukan sejarawan Islam, tidak bisa berbahasa arab, bahkan bukan seorang ahli tentang terorisme dan keamanan. Tetapi mereka bertiga datang kesini sambil berbicara tentang ideologi islam dan mensweeping pendapat-pendapat dari orang Islam!

Raut muka Anne-Marie di menit 05:06, merah, malu.

Ekspresi Anne-Marie di menit 05:06: merah dan menahan malu.

Mehdi Hasan melanjutkan,

“Mari kita mendengarkan Professor Robert Pape, dari Universitas Chicago, peneliti terkemuka Amerika Serikat tentang terorisme, yang tidak seperti tiga orang kontra kita di sini. Professor Robert Pape mempelajari setiap jengkal tentang terorisme dan bom bunuh diri, dari 1990 sampai 2005, meneliti 350 kasus, dan dia menyimpulkan, dan saya mengutipnya disini:

Hanya ada SEDIKIT hubungan antara bom bunuh diri yang dilakukan para fundamentalis Islam ataupun semua agama di dunia, dibandingkan dengan aksi serupa yang dilakukan dengan tujuan spesifik sekular tertentu, atas nama demokrasi yang menggunakan kekuatan militer pada wilayah-wilayah yang para “teroris” anggap sebagai tanah air mereka! (seperti invasi amerika ke Afgan, Irak, Perang Vietnam, dan lainnya)!”

Mehdi Hasan Membalik Logika Para Penonton

Di sini saya tergeleng-geleng menyaksikan betapa cerdasnya Mehdi Hasan dengan menggunakan argumen lawan debatnya sendiri untuk membuat mereka sendiri malu. Mehdi Hasan mengatakan,

Betapa ironinya. Ironisnya adalah kita berbicara sekarang tentang terorisme. Apa yang ironis adalah bahwa ternyata pihak kontra (debater kontra) dan teroris muslim, seperti Al Qaeda, misalnya, TERNYATA mereka memiliki pendapat yang sama!

Karena mereka berdua percaya bahwa Islam adalah agama kejahatan, kekerasan dan terorisme. Dua pihak ini nyata! Mereka memiliki komentar yang sama! Ternyata Osama bin Ladin menyetujui pendapat pihak kontra kita! Osama setuju pada mereka (pihak kontra)!

*tepuk tangan keras ratusan penonton*

Menyelamatkan Stereotype “Muslim adalah Teroris”

Mehdi Hasan melanjutkan,

Masalahnya adalah mayoritas muslim ragu, umat muslim seluruh dunia tidak setuju kepada mereka berdua (teroris muslim dan pihak kontra).

Faktanya adalah The Gallup, mengadakan survei yang terbesar di dunia-melibatkan 50.000 orang di 35 negara mayoritas muslim- menyatakan bahwa: 93% muslim menolak (dan hanya 7% yang setuju) bahwa peristiwa 9/11 dan bom bunuh diri dilakukan dengan dan karena motif agama, tetapi lebih menyetujui keduanya terjadi karena motif politik.

Mehdi Hasan melanjutkan dengan mengambil contoh intelektual muslim, yang berasal dari Universitas Oxford sendiri, yang menolak maupun mengeluarkan fatwa haramnya membunuh orang tidak berdosa. Beliau misalnya menyebut Syekh Afifi al Akiti, seorang ulama lulusan Oxford, belajar di banyak negara, dan mengeluarkan fatwa seperti yang saya sebut tadi. Beliau juga menyebut ulama besar Pakistan seperti Syekh Dr. Tahir al Qadri, yang mengeluarkan fatwa setebal 600 halaman yang menegaskan mengharamkan membunuh dengan sengaja dan bom bunuh diri, meski atas nama Islam, di semua waktu dan kondisi, terhadap orang-orang yang tidak bersalah dan tidak berdosa. Dan melanjutkan dengan mengatakan,

Ini bukan hal baru. Inilah Islam. Inilah muslim mayoritas. Ulama mayoritas. Yang mengatakan kepada anda, “Jangan kamu membunuh orang, baik itu di jalan, di bus, di mall, dengan dalil satu ayat yang kamu ambil secara sembarangan tanpa konteks, tanpa penafsiran, dan tanpa komentar dari para ulama.”

Syekh Afifi al-Akiti

Menjawab Ketakutan Terhadap Penerapan Hukum Syari’ah

Di menit 09:45, seorang ibu mengangkat tangannya dan dipersilakan oleh Mehdi Hasan. Tapi di video ini suara ibu itu tidak terdengar dengan jelas. Saya menebak-nebak saja -dengan memperhatikan jawaban Mehdi Hasan terhadap ibu ini- bahwa ibu ini mengatakan, “Tapi bukankah ada kelompok muslim yang mengkampanyekan Islam dengan versi itu (Islam dengan kekerasan dan terorisme)?”. Maka Mehdi Hasan menjawab,

Tidak. Saya tidak mengatakan bahwa itu adalah kesalahan Islam. Ok, ini poin yang sangat bagus. Kami, (orang-orang yang tidak percaya bahwa Islam itu identik dengan kekerasan dan terorisme) mengkampanyekan untuk melawan semua apapun yang mengatasnamakan Islam, kami mengkampanyekan perlawanan terhadap tafsir bebas terhadap ajaran Islam (seperti yang dilakukan para teroris). Anne-Marie selalu takut terhadap penerapan hukum syari’ah. Nah, sekarang saya mau melihat bagaimana buku “Hukum Syari’ah” itu. Dan bukunya tidak pernah ada memang! Orang-orang bertanya-tanya apa hukum syari’ah itu?

*penonton bertepuk tangan keras*

Dan kamu (Anne-Marie) mendorong dan menyemangati para ekstremis Islam dengan mengatakan hanya ada satu versi (yaitu versi penafsiran yang menempatkan hukum pidana sebagai bagian utama; seperti yang diinginkan para ekstrimis).

Anne-Marie kemudian memprotes dengan kata-kata “..beberapa negara..”, namun dia disuruh diam oleh Mehdi Hasan dengan cara yang cerdas, dan membuat orang-orang tertawa.

Saya tidak percaya lagi interupsimu, Anne-Marie. Jadi lebih baik kamu diam di situ sejenak.

Membalas Generalisasi dari Anne-Marie dkk

Mahdi Hasan secara cerdik membalas generalisasi yang dilakukan Anne-Marie, secara sederhana,

Ini yang kita setujui: bahwa (Islam adalah) sebuah agama berusia 1400 tahun yang diikuti oleh 1,6 Milyar manusia yang tersebar di seluruh dunia, dengan bermacam-macam latar belakang dan etnis. Dan pihak kontra kita malam ini hanya bisa menggeneralisasi, membuat stereotype dan menuduh dalam rangka -dengan sangat menyedihkan- untuk memenangkan debat malam ini.

Dan, ini pertanyaan saya, okelah jika orang mengatakan bahwa bom-bom yang meledak kemarin bisa terjadi karena dimotivasi oleh Islam. Saya kira itu perdebatan, dan saya sendiri tidak percaya. Mari misalnya menyebut Faisal Shahzad, pembom di Time Square, dan dikatakan dia melakukan itu karena dimotivasi oleh Islam. Atau misalnya, mari berasumsi bahwa Richard Reid Shoe melakukan pemboman karena dimotivasi oleh Islam. Nah, pertanyaan saya, jika Islam disuruh bertanggungjawab, maka pertanyaannya yang timbul adalah: apakah memang Islam memotivasi umatnya untuk membunuh orang? Ataukah memang Islam adalah agama perang?

Maka pertanyaan saya sendiri adalah: mengapa tidak semua dari kami (orang Islam) melakukannya? Mengapa hanya sedikit dari minoritas Islam yang mengartikan agamanya seperti yang pihak kontra malam ini klaim?

Mari melihat 16.000 bom bunuh diri yang sudah terjadi. Itu semuanya. Mari melihat apa argumen Shoe? Itu hanyalah nol koma nol nol sekian persen dari populasi muslim di seluruh dunia. Bagaimana dengan 99,99% muslim, yang pihak kontra malam ini abaikan begitu saja.

Mehdi Hasan: Kalau Kami Teroris, Mengapa Kami Tidak Membom Kalian Sekarang?

Mehdi melanjutkan, dan mempermalukan Daniel Johnson dengan cara elegan,

Faktanya adalah pihak kontra malam ini sama sekali tidak khawatir terhadap Adam Deen, Matthew dan saya, yang menurut mereka, di dalam jaket kami terselip bom yang akan meledak dan setelahnya kami menganggap diri kami pahlawan muslim yang akan mengambil alih seluruh Eropa dan Universitasnya Daniel. (Oxford maksudnya.)

Kecuali kalau Peter Atkins mau menjelaskannya malam ini. Mengapa mayoritas muslim tidak melakukan kekerasan seperti minoritas yang agresif tadi, atau mengapa mayoritas tidak secara politik mendorong para ekstrimis?

Final Statement dari Mehdi Hasan

Mulai menit ke 11:54 sampai 13:48, Mehdi Hasan menyampaikan final statementnya.

Saudara dan saudari sekalian. Saya ingin mengatakan kepada anda. Pikirkan kembali terhadap apa yang pihak kontra tawarkan malam ini. Apakah Islam adalah agama cinta? Atau agama kekerasan, agama perang dan agama yang agresif? Kalau begitu, orang-orang yang mengikuti Islam, saya, istri saya, kedua orangtua saya, anak saya yang berumur 6 tahun, 1,8 juta orang Islam di seluruh Inggris, 1,6 milyar orang di seluruh dunia, sesamamu manusia: semuanya, adalah pengikut dan pendakwah dari agama kekerasan. Dapatkah kamu bayangkan jika itu benar?

Mereka mengatakan itu di Oxford Union, tradisi debat paling terkenal di dunia. Ketika pada tahun 1933, ketika Hitler menunggu hasil dari mosi Raja dan Negara. Dan malam ini, 60 tahun setelah peristiwa itu berlalu, ada dua grup orang di bumi ini: jutaan orang dengan perdamaian dan tanpa kekerasan yang ada di Inggris, Eropa, Asia, Afrika dan lainnya, dimana mereka melihat Islam sebagai identitas sosial, agama sosial dan harapan.

Dan di sisi lain, ada beberapa orang phobia dan bigot di luar sana yang menginginkan dan mendorong pembenturan peradaban (the clash of civilization). Mereka yang mau memisah-misahkan kita ke dalam sebutan “mereka” dan “kita”.

Saudara dan saudari. Saya menekankan, tidak untuk membakar argumen-argumen dari para pembenci (phobia), bigot dan membenarkan kebencian.  Tapi untuk membuat para muslim percaya bahwa: kalian tahu, kalian dengar.

Yang anda harus percayai adalah mereka para muslim yang anda temui dan anda dengar, mereka yang tidak percaya pada kekerasan, mereka yang mengamalkan perintah perdamaian dalam Al Qur’an kepada semua muslim, bahwa Islam adalah agama perdamaian, cinta, kasih-sayang dan penuh ampunan. Islam yang bukan diterjemahkan oleh Al Qaida.

Mehdi Hasan, setelah berbicara sekira 13 menit, menutup argumennya, “I argue to vote ‘Yes’ tonight. Thank you very much for your time.”


(sampai saya cantumkan di sini, sudah lebih dari 850.000 penonton dalam satu bulan)

Debat ini berakhir dengan 286 suara untuk ‘yes’, dan 168 suara untuk ‘no’. Dengan demikian, Oxford Union di kesempatan itu menyimpulkan bahwa: Islam adalah agama yang cinta kedamaian.

Semoga bermanfaat.

Muh. Ihsan Harahap

Makassar, 14 Agustus 2013
(Tepat 68 tahun, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, setelah dijatuhi  bom nuklir oleh Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Ini yang mesti dikategorikan sebagai kejahatan, lebih jahat dari terorisme yang dituduhkan kepada para muslim akhir-akhir ini)

Advertisements
Tagged , , , ,