Tag Archives: Charlie Hebdo

Pelajaran dari Paris: Je Suis Charlie, Je Suis Ahmed

Oleh: Muh. Ihsan Harahap[1]

Salah satu scene aksi solidaritas #JeSuisCharlie et #JeSuisAhmed (Diambil dari http://www.chicagotribune.com)

Peristiwa penyerangan terhadap kantor majalah pekanan Charlie Hebdo di Paris, Prancis, Rabu 7 Januari 2015, menjadi perhatian dunia. Sekurangnya 12 orang tewas dalam peristiwa penyerangan tersebut. Mereka terdiri dari tiga orang kartunis, seorang Pemimpin Redaksi, seorang editor (yang juga dosen di Universitas Paris VIII), dua orang polisi dan beberapa orang lainnya yang sedang berada di sana. Sekurangnya tiga orang ditengarai menjadi aktor utama aksi ini. Mereka mendatangi kantor majalah Charlie Hebdo dengan menggunakan sebuah mobil sedan, dimana dua orang dari mereka membawa senjata laras panjang AK-47 dan sebuah peluncur roket. Dalam rekaman video yang beredar, mereka berteriak “Allahu Akbar” dan berkomentar “Ini adalah pembalasan dendam terhadap Nabi” ketika melancarkan aksi sadis tersebut.

Sekilas Tentang Charlie Hebdo

Majalah pekanan Charlie Hebdo sendiri adalah majalah dengan gaya satir khas Prancis. Kejadian ini bukan satu-satunya yang pernah dialami oleh majalah tersebut. Pada 2011, kantor majalah ini mendapatkan serangan bom molotov setelah menerbitkan kartun yang “diandaikan” sebagai Nabi Muhammad. Pada covernya terdapat tulisan “Cambuk 100 kali jika anda tidak mati tertawa”.

Sebenarnya bukan hanya unsur Islam saja yang pernah dikartunkan di majalah ini. Pada beberapa edisinya, majalah ini memuat kartun Santaklaus yang sedang merokok, karikatur Yesus yang sedang dilahirkan oleh Bunda Maria, dan termasuk yang belum lama ini karikatur dari “Khalifah” ISIS: Abu Bakar Al Baghdadi.

Bukan hanya itu, bahkan Presiden Francois Hollande sendiri pernah dikartunkan dan dijadikan cover di majalah ini dengan bergaya sambil kemaluannya terbuka. Gaya satir memang menjadi gaya jurnalistik dari majalah pekanan yang berbasis di Paris ini.

Respon

Professor Tariq Ramadan (Diambil dari tariqramadan.com)

Bagaimanapun, mau diakui atau tidak yang akan menjadi korban selanjutnya dari peristiwa ini adalah masyarakat muslim di Barat. Berbagai organisasi dan tokoh-tokoh Muslim dunia merespon peristiwa sadis ini dengan mengutuk. Professor Tariq Ramadan, salah satu tokoh Muslim yang paling terkenal di Barat, mengatakan bahwa “semua orang harus mengutuk tindakan ini dan adalah salah jika mengatakan ini adalah revenge (pembalasan dendam) yang tepat diterima oleh para awak media”. Liga Arab dan Universitas Al Azhar pun turut mengutuk peristiwa ini.

Babak Baru Islamophobia

Beberapa jam setelah berita tentang peristiwa ini beredar, seorang teman yang sedang menempuh kuliah Politik di Universitas Manchester, Inggris, menghubungi penulis. Dia yang seorang aktivis Islam itu menceritakan kekecewaannya atas pemberitaan beberapa media-media “berbau” Islam di tanah air. Kekecewaan itu keluar dikarenakan beberapa pemberitaan tentang peristiwa penyerangan Charlie Hebdo di Paris seolah-olah menjustifikasi bahwa apa yang dilakukan tiga orang penyerang tersebut adalah benar dan Charlie Hebdo deserved it –pantas untuk mendapatkannya. Pemberitaan seperti bukan hanya berbahaya, tetapi bisa saja memprovokasi aksi-aksi serupa di masa depan.

Salah satu aksi demonstrasi PEGIDA di Dresden pada senin lalu. (Diambil dari http://bilder.bild.de)

Tak ketinggalan, satu hal yang paling berbahaya yang akan menjadi dampak dari peristiwa ini adalah meningkatnya kembali Islamophobia. Di Jerman, gerakan yang disebut PEGIDA (Patriotic Europeans Against the Islamization of the West) sedang maraknya melakukan aksi demonstrasi anti-Islamisasi. Gerakan yang berbasis di Dresden ini bahkan telah berdemonstrasi sejak Oktober tahun lalu dengan menghadirkan massa puluhan ribu orang. Para pendukung PEGIDA menganggap peristiwa Charlie Hebdo sebagai bukti bahwa Islam tidak bisa hidup berdampingan dengan nilai-nilai Demokrasi dan Liberalisme Eropa.

Je Suis Charlie, Je Suis Ahmed

Paska kejadian ini, ribuan warga Paris berkumpul di Place de la Republique untuk melakukan aksi solidaritas dan mengutuk peristiwa penyerangan kantor majalah Charlie Hebdo. Spanduk dan poster bertuliskan “Je Suis Charlie” (Saya Charlie) terlihat dimana-mana. Di Twitter dan media sosial lainnya tidak ketinggalan pula tanda pagar #JeSuisCharlie dan #JeSuisAhmed diposting oleh para netizen. Je Suis Ahmed (Saya Ahmed) diambil dari nama Ahmed Merabet, salah seorang polisi yang berada di kantor Charlie Hebdo ketika aksi sadis tersebut terjadi.

Penulis kira ini adalah salah satu pelajaran yang bisa diambil dari masyarakat Paris. Searogan-arogannya Les Parisiens, seperti mitos dan yang penulis rasakan ketika berkunjung ke sana, ada pelajaran yang patut kita ambil dari peristiwa ini: bahwa lambat laun debat tentang integration perlahan pudar. Aksi solidaritas yang terjadi di Place de la Republique dan di berbagai media sosial menunjukkan bahwa Ahmed Merabet, yang seorang keturunan Afrika Utara, dipandang sama dengan warga Paris lainnya. Semoga ini bisa kita contohi dan terapkan di Indonesia. Bahwa bangsa kita bukan hanya ras Melayu saja, tetapi terdiri dari berbagai ras dan suku, dan oleh karenanya kita harus hidup saling menghargai. Semoga ini bisa kita teladani. Je Suis Charlie, Je Suis Ahmed.

[1] Penulis adalah Pengurus KAMMI Komisariat Universitas Hasanuddin

***

Artikel ini dimuat di harian Tribun Timur edisi 10 Januari 2015. Versi online bisa diakses di http://makassar.tribunnews.com/epaper/index.php?hal=23

Tagged , ,