Category Archives: dunia Islam

Selawat Untuk Orde Baru

Tulisan ini diterbitkan di Indoprogress pada 7 April 2017.

Oleh: Muhammad Ihsan Harahap[1]

fe4cf7de096438af3cc6f3b5db17af46

Salah satu poster acara Shalawat Untuk Negeri. (sumber: allevents.in)

Jika ingin melihat betapa lemahnya posisi umat Islam di Indonesia, maka barangkali sekaranglah waktu yang tepat. Di tengah bangkitnya populisme konservatif di seluruh dunia, sepertinya sebagian gerakan Islam di Indonesia turut mengambil bagian. Tanpa sadar, mereka telah rela bergabung dengan barisan populisme konservatif serupa dengan gagasan yang selama ini dilemparkan oleh Donald Trump dan kaum konservatif kulit putih di Amerika Serikat, Marine Le Pen di Prancis, Brexit di Britania Raya, gerakan PEGIDA di Jerman, hingga politikus Geert Wilders di Belanda. Parahnya, kebangkitan populisme konservatif di Indonesia bisa dibilang dipimpin oleh tokoh yang selama ini dikenal sebagai pemimpin organisasi  Islam yang cukup “keras”, seperti Habib Muhammad Rizieq Syihab dari Front Pembela Islam (FPI), termasuk tokoh-tokoh Islam lainnya sebagaimana yang terlihat dalam aksi populis “411” dan “212”.

Di saat yang sama, sesuai dengan nature-nya, kaum Islam Abangan di Indonesia sepertinya tertarik sekali dengan retorika yang dibawa oleh populisme konservatif tersebut. Sebagian retorika itu jika dilihat secara mendalam, baik dari sudut pandang sekuler maupun sudut pandang Islam (terutama maqashid syari’ah), tidak terlalu menyentuh persoalan mendasar dari problematika yang diderita umat Islam dan masyarakat Indonesia secara umum. Jika mau jujur, sebagian gagasan dan retorika yang selama satu tahun ini dikembangkan, terutama terlihat dalam aksi “411” dan “212” malah lebih beraroma politis yang kadang dibumbui dengan aroma rasisme dan sentimen etnis, meski tentu saja tidak semuanya seperti itu.

Hal yang lebih menyedihkan adalah merapatnya barisan keluarga Soeharto kepada populisme konservatif, dimana sepertinya, pendekatan tersebut berlangsung hampir tanpa perlawanan dari umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari acara “Shalawat Untuk Negeri” yang diadakan di Masjid At-Tien, Taman Mini Indonesia Indah, pada Sabtu 11 Maret 2017 yang lalu, sekaligus memperingati ‘haul’ Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Acara tersebut diadakan oleh keluarga dan anak-anak mantan presiden Soeharto: dibuka oleh Titiek Soeharto, dihadiri oleh Tommy Soeharto, Mamiek Soeharto, Tutut Soeharto serta tokoh-tokoh yang diundang seperti Habib Muhammad Rizieq Syihab (FPI), Prabowo Subianto, Abdullah Gymnastiar, Hidayat Nur Wahid, hingga para calon yang bertarung dalam Pemilihan Gubernur Jakarta seperti Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Djarot Saiful Hidayat.

Bagi banyak orang, acara tersebut mengerikan. Muhammad Al Fayyadl, salah satu aktivis muda NU yang terkenal progresif, dalam postingan media sosialnya menyatakan kekhawatirannya atas acara selawat yang sekaligus memperingati ulang tahun Supersemar tersebut. IslamBergerak.com, salah satu media Islam progresif, mengeluarkan semacam fatwa tentang hukum mengidolakan Soeharto. Hal yang sama juga disuarakan oleh sejumlah aktivis Islam progresif.

Di atas semuanya, acara yang bisa dibilang ‘naas’ tersebut seolah menggambarkan ‘amnesia’ yang diderita umat Islam Indonesia. Seolah-olah umat Islam Indonesia telah melupakan bagaimana salah satu korban terbesar dari kebijakan-kebijakan Orde Baru sepanjang 32 tahun itu adalah umat Islam sendiri. Peristiwa mengerikan seperti Peristiwa Tanjung Priok (1994), Insiden Talang Sari (1991), Daerah Operasi Militer di Aceh (1988-1998), hingga berbagai penangkapan terhadap ulama dan aktivis Islam, serta pembungkaman berbagai organisasi dan pergerakan Islam selama periode Orde Baru.

Selawat Asyghil: Selawat Untuk Orde Baru

Tidak perlu 32 tahun bagi umat Islam di Indonesia untuk menyadari bagaimana anti-nya Orde Baru pada Islam. Di awal tahun 1970-an, muncullah sebuah bentuk selawat yang berisi doa umat Islam agar dihindarkan dari kezaliman penguasa, dalam hal ini tentu saja Orde Baru. Selawat tersebut terkenal  dengan nama “selawat asyghil”, merujuk pada kata “asyghil” (artinya: sibukkanlah) di dalam kalimat selawat tersebut. Selawat tersebut juga dikenal dengan sebutan “selawat betawiyyin” (Selawat Betawi), “selawat mlipir”, dan “selawat sibuk”. Beginilah bentuk selawat tersebut:

file_1486275753

Selawat Asyghil. (sumber: inspira.co)

Artinya: Ya Allah, sampaikanlah selawat kami kepada Baginda Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang-orang zalim yang lain, dan keluarkanlah kami dari (kebatilan) mereka dengan selamat, dan sampaikan salam kami juga kepada keluarga (Ahlul Bait) dan para sahabat semuanya.

Menurut almarhum KH. Rahmat Abdullah, seorang tokoh penting Jema’ah Tarbiyah, dalam sebuah ceramahnya di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia pada awal tahun 2000-an, selawat tersebut dipopulerkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1971-1972 melalui radio milik Yayasan Perguruan Asy-Syafi’iyah, sebuah perguruan Islam yang dihormati di Jakarta. Selawat ini sangat spesial karena dilantunkan dengan irama merdu yang cenderung sedih dan sentimental.

Selawat ini dianjurkan oleh almarhum KH. Abdullah Syafe’i untuk dibaca dilantunkan di masjid-masjid pada waktu Magrib, antara azan dan iqamah. Selawat ini pun menjadi populer di antara kalangan umat Islam, termasuk Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan umat Islam Indonesia secara umum di zaman Orde Baru. Selawat Asyghil menjadi doa pamungkas umat Islam memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kezaliman Orde Baru. Dalam berbagai kampanye politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP; dianggap sebagai representasi suara Umat Islam waktu itu) pada zaman Orde Baru, Selawat Asyghil sering dilantunkan.

Tidak terlalu jelas siapa dan kapan selawat ini dibuat. Dalam beberapa bacaan, dikatakan bahwa banyak kalangan menisbatkan selawat ini kepada Habib Ahmad bin Umar Al Hinduan (W. 1122 H) dikarenakan syair selawat tersebut tercantum di dalam kitab Al Kawakib Al Mudhi’ah, sebuah kitab kumpulan syair selawat karangan sang ulama. Meskipun di dalam kitab itu, beliau hanya mencantumkannya, bukan sebagai pengarang selawat tersebut. Di sumber lain dikatakan bahwa selawat ini diamalkan dan kemungkinan besar disusun oleh Jafar Al Shadiq (W. 138 H), cicit Nabi Muhammad di generasi keenam. Beliau adalah seorang intelektual Islam yang hidup di masa peralihan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah yang awalnya dipenuhi konflik politik. Selawat Asyghul tersebut dilantunkan oleh beliau agar orang-orang yang berkonflik dan zalim disibukkan oleh orang-orang zalim juga, tidak mengganggu pengembangan keilmuan dan pengetahuan saat itu. Biarlah orang-orang berebut kuasa politik, sedangkan ulama dan intelektual tetap mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan.

Perlu penelusuran lebih mendalam tentang sejarah Selawat Asyghul, namun yang penting bagi umat Islam saat ini adalah menyadari bagaimana sejarah kemunculan Selawat Asyghul di Indonesia. Selawat Asyghul yang awalnya dilantunkan di radio milik Perguruan Asy-Syafi’iyah milik almarhum KH. Abdullah Syafi’i itu dipanjatkan sebagai doa melawan kezaliman penguasa Orde Baru. Maka menjadi hal yang ironis apabila di zaman reformasi ini tokoh-tokoh umat Islam malah berjalan bersama para keluarga dan kroni Soeharto sebagai simbol utama kezaliman Orde Baru. Umat Islam harus bangkit untuk mengambil posisi yang lebih terhormat daripada yang terjadi saat ini. Berbagai organisasi dan pergerakan Islam yang di Era Reformasi ini bebas bergerak dan berdakwah juga jangan sampai lupa bagaimana organisasi dan pergerakan mereka ditindas, dizalimi dan dipaksa tiarap selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa Asyghiliz Zhalimin biz Zhalimin!

Makassar, 14 Maret 2017

[1] Penulis pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Komisariat Universitas Hasanuddin (2015). Pernah bekerja sebagai Monitoring Officer di Indonesian Interfaith Weather Station (IIWS) dan Academic Fellow on International Civil and Human Rights di Kennesaw State University, Georgia, Amerika Serikat (2016)

rahmat-abdullah-foto-dok1-sabili-arief-kamaludin

Rahmat Abdullah via koinquran.wordpress.com

*** Tulisan ini dibuat setelah penulis mendengarkan kembali ceramah alm. Ust. Rahmat Abdullah di acara Seminar 20 tahun Tarbiyah di Indonesia yang dilaksanakan (kalau tidak salah) tahun 2000 di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok.

Advertisements

Empat Abad Islam di Makassar: Sebuah Refleksi

The Conquest of Makassar.

The Conquest of Makassar.

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di rubrik Budaya portal Selasar.com

Salah satu peristiwa yang sempat menjadi headline di media-media tanah air adalah soal konflik di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Konflik tersebut melibatkan Bupati Gowa, Adnan Purichta Yasin Limpo, dengan keluarga Kerajaan Gowa dan pendukungnya di sisi yang lain. Konflik itu bermula dari pengesahan Peraturan Daerah (perda) bernama Lembaga Adat Daerah (disingkat ‘LAD’), yang menurut keluarga Kerajaan Gowa merupakan cara sang Bupati untuk melantik dirinya sebagai ‘Somba’, sebuah gelar yang turun temurun diperuntukkan untuk Raja Gowa. Buntut dari konflik tersebut adalah pembakaran Gedung DPRD Kabupaten Gowa oleh oknum yang kini sedang di bawah penyelidikan kepolisian. Hingga saat ini, beberapa proses hukum sedang berjalan. Termasuk penetapan status tersangka kepada Pelaksana Teknis Satpol PP Kabupaten Gowa karena kejadian pembukaan paksa benda-benda pusaka Kerajaan Gowa di Istana Tamalate, Kabupaten Gowa.

Namun dalam tulisan ini kita tidak akan membahas lebih lanjut tentang konflik tersebut. Hal yang ingin kita bahas adalah mengenai eksistensi dan peran agama Islam dalam sejak ia pertama kali dibawa masuk ke Kerajaan Gowa, lebih dari empat abad yang lalu. Mengapa hal ini perlu diperingati? Salah satu jawabannya, Islam masuk ke Sulawesi Selatan melalui Kerajaan Gowa, dan kerajaan inilah yang kemudian menyebarkannya kepada hampir seluruh kerajaan di Pulau Sulawesi. Implikasinya, mayoritas masyarakat di Pulau Sulawesi hari ini memeluk agama Islam.

Kurang lebih sebulan yang lalu, tepatnya hari Kamis, 22 September 2016, menjadi hari yang bersejarah bagi eksistensi Islam di Makassar. Hari itu menandai 411 tahun (sejak 22 September 1605) masuk islamnya Raja Tallo ke-7, I Malingkang Daeng Sultan Abdullah Karaeng Matoaya Tumenanga ri Agamana, bersama Raja Gowa ke-14, I Mangarangi Daeng Manrabia Sultan Ala’uddin Tumenanga ri Gaukanna. Peristiwa masuk islamnya Raja dan Perdana Menteri Kerajaan kembar Gowa-Tallo tersebut disusul dengan pengislaman seluruh rakyat Makassar di Masjid Tallo dua tahun kemudian, tepatnya 9 November 1607.

Setelah Gowa-Tallo memeluk Islam, kerajaan tersebut kemudian menyebarkannya kepada semua kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan seperti Sidenreng dan Soppeng (1609), Wajo (1610), Bone (1611) hingga Bima (1640). Sedangkan Luwu sudah diislamkan dua tahun sebelumnya. Orang-orang Bugis dari Bone, Soppeng, Wajo dan lainnya yang hendak mempelajari Islam berdatangan ke Makassar, tepatnya di Bontoala, dimana Abdul Makmur Khatib Tunggal mengajar. Khatib Tunggal atau yang lebih dikenal dengan Dato’ Ri Bandang adalah satu dari tiga ulama Minangkabau yang mengislamkan penguasa Kerajaan Luwu’ (1603) dan Kerajaan Gowa-Tallo (1605). Dua ulama lainnya dikenal sebagai Dato’ Patimang (meninggal di Patimang, Luwu’) dan Dato’ Ri Tiro (meninggal di Tiro, Bulukumba).

Jatuhnya Melaka ke tangan Portugis sekitar satu abad sebelumnya (1511) menjadi sebab pusat penyebaran Islam dengan perlahan bergeser ke arah timur. Pelabuhan utama Kerajaan Gowa-Tallo, Somba Opu, semakin ramai sebagai pelabuhan dagang transito ke Maluku (Kepulauan Banda dan lainnya). Hal ini membuat Somba Opu menjadi kota yang menawarkan kesempatan untuk menjumpai berbagai macam komoditas, ide, pedagang dari berbagai bangsa dan ras. Dari segi politik, dengan bertransformasinya Gowa-Tallo menjadi kerajaan Islam (kesultanan), membuatnya secara otomatis bersekutu dengan Kesultanan Aceh dan Kesultanan Mataram. Persekutuan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi VOC yang pada masa yang sama meluaskan pengaruhnya di Nusantara bagian timur, terutama Kepulauan Banda. Pada 1603, para pedagang Belanda di Banda menyurat kepada Sultan Ala’uddin untuk membuka kantor perwakilan dagang di Makassar. Permintaan tersebut dikabulkan dengan syarat para pedagang tersebut hanya semata-mata untuk berdagang. Sultan Ala’uddin paham bahwa Portugis dan Belanda sedang dalam keadaan perang di Eropa, sehingga akan sedikit banyak mempengaruhi hubungan antar pedagang-pedagang mereka yang berniaga di Nusantara.

Delapan tahun setelah dikabulkannya permintaan untuk memiliki kantor dagang, pada tahun 1611, VOC mengirim Samuel De Nijs ke Makassar dan mengajak Sultan Ala’uddin untuk memerangi Banda. Sultan Ala’uddin menolak permintaan tersebut karena tahu VOC bermaksud memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Selain karena curiga atas niat memonopoli, Sultan Ala’uddin menolak permintaan tersebut karena penduduk Banda juga adalah muslim. Oleh karenanya VOC menjadi sadar bahwa Makassar menjadi halangan terbesarnya untuk memonopoli perdagangan di Nusantara bagian timur. VOC dan ‘monopoli perdagangan’ seakan tidak bisa dipisahkan. Selama aktifnya kantor perwakilan dagangnya di Makassar (1607-1615), VOC berulang kali meminta Sultan Ala’uddin untuk mengusir orang-orang Portugis dari Makassar. Permintaan itu selalu dijawab tegas, ‘Negeri saya terbuka untuk semua bangsa’. VOC juga meminta agar para pedagang Makassar dan bangsa lainnya agar dilarang pergi ke Kepulauan Banda karena daerah tersebut sudah dikuasai oleh VOC. Sultan Alau’ddin menjawab permintaan tersebut dengan ucapannya yang terkenal, ‘Tuhan yang menciptakan bumi dan laut telah membagikan daratan di antara manusia, dan memberikan laut untuk digunakan bersama. Tidak pernah kudengar seseorang dilarang untuk berlayar di lautan’.

Prinsip keterbukaan yang dianut oleh orang-orang Makassar serta doktrin Islam tentang anti-penjajahan menjadi pemicu bagi Sultan Ala’uddin untuk melanjutkan perlawanan terhadap aksi-aksi monopoli dari VOC. Pada 1634, saat itu VOC melakukan pemusnahan yang masif terhadap pohon-pohon cengkeh dan pala di Maluku. Kejadian tersebut ditanggapi Sultan Ala’uddin dengan mengirim armada ke Ambon untuk membantu melawan VOC. Berbagai perlawanan dilancarkan selama bertahun-tahun untuk melawan dominasi VOC di bagian timur Nusantara. Sejak saat itu, VOC dan Gowa-Tallo menjadi musuh bebuyutan sampai terjadinya Perang Makassar, 1667-1669. Perang tersebut terjadi setelah perang satu tahun (1666-1667) yang kemudian diikuti dengan penandatanganan Perjanjian Bungaya. Kurang lebih 30 poin dalam perjanjian tersebut betul-betul menghabisi kekuatan Kerajaan Gowa-Tallo. Dampaknya juga mengenai para pedagang internasional yang sudah berdagang di Somba Opu sejak lama akhirnya diusir, karena kelompok non-pribumi yang bisa berdagang di Makassar hanyalah VOC. Perang Makassar berakhir dengan kekalahan Kerajaan Gowa-Tallo oleh persekutuan VOC dan Kerajaan Bone.

Setelah kalahnya Kerajaan Gowa-Tallo, berbagai bangsawan Makassar yang tidak mau hidup di bawah naungan VOC memilih untuk merantau meninggalkan Makassar. Karaeng Galesong, pergi ke Pulau Jawa bagian timur dan bergabung dengan Trunojoyo, seorang raja dari Madura yang mengadakan pemberontakan atas Amangkurat I yang didukung VOC. Jejak-jejak bangsawan Makassar juga bisa dilihat jejaknya pada kerajaan Melayu yang signifikansinya besar seperti Selangor dan Johor. Bahkan Perdana Menteri Malaysia Najib Rajab (anak dari mantan PM Malaysia Tun Abdul Razak) mengaku keturunan dari putra Raja Gowa XIX Sultan Abdul Jalil Tumenanga ri Lakiung yang konon pergi ke Pahang, Malaysia.

Tiga abad hingga diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia, Islam menjadi agama mayoritas orang-orang Makassar dan Sulawesi Selatan secara umum. Masuknya Islam di Makassar pada 1605 juga menjadi jalan bagi Tuanta Salamaka Syekh Yusuf Al Makassari yang kemudian membawa Islam dari Makassar ke Cape Town, Ibukota Afrika Selatan sekarang.  Syekh Yusuf Al Makassari bahkan dinobatkan sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan pada tahun 2005. Dengan genapnya 411 tahun dipeluknya Islam di Makassar, semoga bisa menjadi refleksi bagi masyarakat Sulawesi Selatan agar tidak melupakan sejarah. Kekuatan sejarah Makassar tercermin dari prinsip hidup orang Makassar dan nilai Islam yang dipegang teguh pada masa Sultan Ala’uddin: terbuka terhadap perbedaan dan selalu menantang ketidakadilan. Dengan nilai-nilai itulah sejarah mencatat kegemilangan Makassar dan membuatnya bertahan lebih dari 400 tahun hingga sekarang.

Penulis adalah lulusan Jurusan Sejarah, FIB, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Komisariat Unhas (2015) dan YSEALI Academic Fellow on International Civic and Human Rights di Kennesaw State University, Georgia, Amerika Serikat (2016). Tulisan-tulisan penulis pernah dipublikasikan di The Jakarta Post, Tribun Timur, Muhammadiyah Studies dan lainnya.

Muslim Democrats of the World, Unite!

Di awal Februari 2015, empat intelektual Muslim Progresif (Ghaleb Bencheik, Anwar Ibrahim, Felix Marquardt, dan Tariq Ramadan) mengeluarkan pernyataan yang intinya mengajak kaum “Demokrat Muslim” untuk bersatu. Reformasi keagamaan harus kembali dibangkitkan di tengah kondisi dunia yang dipenuhi oleh prasangka dan kesalahpahaman. Demokrasi harus ditegakkan dalam maknanya yang progresif. Kaum muslim harus terlibat aktif dalam soal-soal toleransi dan hidup berdampingan secara damai. Kontributor Jurnal KAMMI Kultural, Muhammad Ihsan Harahap menerjemahkan pernyataan sikap tersebut pada para pembaca sekalian.

oleh:  Ghaleb Bencheik, Anwar Ibrahim, Felix Marquardt & Tariq Ramadan 

Tariq Ramadan and one of his books. (source: http://blogoup.electricstudiolt.netdna-cdn.com)

Sejak akhir abad ke-19, gerakan untuk refleksi kritis atas fondasi dan interpretasi terhadap Islam telah kehilangan momentum, berganti dengan dominasi wacana keislaman yang “sklerotik” (tidak responsif pada perkembangan zaman), Arab sentris, serta berbasis pada cara pandang dunia (worldview) yang usang dan seringkali menyingkirkan (pandangan) Islam-non Arab.

Hari ini, kita bersungguh-sungguh menyeru para pemimpin Muslim yang komitmen kepada demokrasi, baik itu tokoh-tokoh politik maupun para intelektual dan para agamawan untuk bertemu di Prancis pada awal tahun 2016 untuk mendefinisikan kontur dari interpretasi Islam progresif abad ke-21.

Mengikuti jejak para intelektual seperti Malek Bennabi (di Indonesia lebih dikenal dengan nama “Malik bin Nabi”, ed), kita perlu untuk memulai mempertanyakan nostalgia sejarah yang (cenderung) “romantis” yang tersebar di masyarakat Islam. Adalah hal yang penting untuk (kembali) memeriksa secara hati-hati (sebab-sebab) kegagalan-kegagalan peradaban kita, dari era sebelum kolonial ke era globalisasi dan alasan mengapa seruan untuk Kebangkitan (renaisans) Islam di masa lalu lenyap tanpa jawaban yang pasti

Anwar Ibrahim. (source: http://kualalumpurpost.net)

Penting juga kami mengingatkan kembali tentang karya-karya ijtihad dari para reformis yang diusahakan oleh beberapa tokoh, antara lain Muhammad Abduh, Abdurrahman Al Kawakibi dan Muhammad Iqbal di awal abad abad ke-20: analisis kritis atas Qur’an dan Sunnah.

Inilah waktunya kita menghentikan parokialisme budaya terhadap dogma agama. Muslim di seluruh dunia harus memahami lebih dalam dan lebih jelas dimana Islam dan dimana praktek-praktek budaya diletakkan.

Ghaleb Bencheikh. (http://www.bonnenouvelle.ch)

Inilah waktunya kita mempertanyakan legitimasi dan pengaruh yang cenderung menguasai dari negara-negara dengan latar politik dan sosial tertentu dalam menentukan apa yang “islami” dan apa yang “tidak islami”, siapa muslim “yang baik” dan siapa yang tidak. Dan juga penting, inilah waktunya kita memberikan porsi lebih kepada permasalahan yang ada pada Muslim Asia, yang tidak jarang dianggap sepele, (secara) demokratis dan legitimatif, berdasarkan demografi, di abad ke-21.

Masyarakat Muslim Asia, seperti juga Eropa, sub-Sahara Afrika dan Amerika, bukanlah Muslim kelas dua. Terlalu sering, pertentangan antara Barat dan pemerintahan negara Arab tertentu disamarkan sebagai pertentangan antara Barat dan Masyarakat Muslim. Apapun bangsa dan keyakinan keagamaannya, manusia harus bebas untuk mendapatkan status kewarganegaraannya dan agamanya sesuai dengan apa yang dianggap cocok baginya. Pada 2015, kami menekankan bahwa dunia ini bukan hanya untuk Barat, tapi juga Timur, atau tidak hanya untuk Judea-Kristen, tapi juga Islam.

Felix Marquardt. (http://s3.amazonaws.com/)

Hal yang juga krusial adalah kita tidak akan membiarkan para otokrat sekali lagi menodai reputasi kita sebagai Muslim dengan membajak (hijacking) tujuan kita sebagai reformis, dan menganggap sepele salah satu aspirasi terbesar Masyarakat Muslim seluruh dunia di Abad ke-21: hidup dalam masyarakat adil dan demokratis. Di saat kita harus berdiri sebagai umat Islam untuk menyuarakan secara terbuka keterikatan kita dengan politik sekuler, mari kita tidak pernah lupa bahwa pada skala global, umat Islam sendiri adalah korban pertama dari para literalis-dogmatis yang mengklaim mewakili Islam dan juga oleh otokrat sekuler yang mengklaim mereka adalah satu-satunya solusi. Diktator seperti Bashar al Assad di Suriah dan Abdul Fattah Al Sisi di Mesir, untuk menyebut sebagian dari mereka, bisa seenaknya menyerukan reformasi atas Islam sebanyak yang mereka suka, tapi semoga tidak ada ambiguitas di sana: mereka bukan bagian dari kami, dan kami juga bukan bagian dari mereka.

Kita juga harus memperhatikan ISIS dan Boko Haram yang mengklaim mengamalkan Islam yang sesungguhnya secara serius –mari tunjukkan bahwa terorisme yang dilakukan dilakukan atas nama Islam, tidak berhubungan sama sekali dengan Islam, seperti Perang Salib tidak ada hubungannya dengan Kristen. Tuduhan yang diarahkan terhadap umat Muslim sebagai silent majority, sebagai akibat dari tindakan kelompok-kelompok teroris mungkin saja dirasa tidak adil, namun ini tetap harus disikapi. Sekali lagi, kita harus membuat para pembunuh barbar yang menganggap kejahatan-kejahatannya dilakukan atas nama Islam, tahu: ketika mereka menyerang seseorang, mereka sebenarnya menyerang kita sebagai Muslim, keyakinan dan nilai-nilai kita, pertama dan terutama.

Pemuka pendapat Muslim harus menyadari tanggung jawab penting mereka di area ini. Jika kita tidak ingin Islam dibajak secara permanen, itu adalah tugas kita untuk terus mendukung moderasi dan pendekatan reformis terhadap isu-isu pendidikan agama, pemerintahan, penegakan hukum, kebebasan berekspresi dan perlindungan kebebasan mendasar (fundamental liberties) dan saat yang sama mengambil sikap yang jelas pada interpretasi kitab suci.

Mereka yang ingin memecah belah kemanusiaan menggunakan jalan pintas yang sama sekali tidak cerdas dengan tujuan untuk mengasosiasikan Islam dan barbarisme dan menyiratkan bahwa ada kekerasan intrinsik dalam agama kita, (seakan-akan) ada solidaritas alami antara Muslim dan teroris. Mereka menyiratkan bahwa Islam secara intrinsik tidak kompatibel dengan demokrasi.

Pada kenyataannya, sebagian besar umat Islam menolak kekerasan. Dan ketika kebebasan dan demokrasi bermasalah, mereka juga akan bermasalah, seperti juga Budha, Sikh, Hindu, Kristen atau Yahudi. Musuh kita bukanlah tetangga kita yang pergi ke sinagog, gereja, atau kuil. Apa yang berbahaya bukanlah tetangga kita yang menutup rambutnya dengan jilbab, ataupun memilih tidak berjilbab. Bahaya yang paling nyata sebenarnya yaitu: kebodohan, dan stigmatisasi terhadap orang lain; itu adalah prasangka yang memisahkan kita ketika kita harus bergabung bersama sebagai manusia.

Telah tiba saatnya bagi kita untuk mengubah keadaan, dan menetapkan arah baru bagi Islam di abad ke-21. Masa depan kita, sebagai Muslim Moderat yang cinta damai, dipertaruhkan!

Kaum Muslim Demokrat Sedunia, Bersatulah!

9 Februari 2015,

Ghaleb Bencheik adalah Presiden World Conference for Religions for Peace.

Anwar Ibrahim adalah mantan Deputi Perdana Menteri Malaysian dan saat ini menjadi pemimpin oposisi Malaysia serta Ketua Umum World Forum for Muslim Democrats.

Felix Marquardt adalah Pendiri Abd al-Rahman al-Kawakibi Foundation dan Gerakan “Khlass the silence!”

Tariq Ramadan adalah Profesor Studi Islam di University of Oxford dan cucu dari Pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan al-Banna.
Penerjemah: Muh Ihsan Harahap, Aktivis KAMMI Universitas Hasanuddin, Makassar

Tersedia juga di Jurnal KAMMI Kultural: http://www.kammikultural.org/2015/02/intelektual-muslim-dunia-kaum-muslim.html

Diterbitkan di berbagai media dalam berbagai bahasa pada 9 Februari 2015. Versi berbahasa Inggris dari artikel ini bisa dilihat pada Huffington Post: http://www.huffingtonpost.com/felix-marquardt/muslim-democrats-unite_b_6648898.html