Selawat Untuk Orde Baru

Tulisan ini diterbitkan di Indoprogress pada 7 April 2017.

Oleh: Muhammad Ihsan Harahap[1]

fe4cf7de096438af3cc6f3b5db17af46

Salah satu poster acara Shalawat Untuk Negeri. (sumber: allevents.in)

Jika ingin melihat betapa lemahnya posisi umat Islam di Indonesia, maka barangkali sekaranglah waktu yang tepat. Di tengah bangkitnya populisme konservatif di seluruh dunia, sepertinya sebagian gerakan Islam di Indonesia turut mengambil bagian. Tanpa sadar, mereka telah rela bergabung dengan barisan populisme konservatif serupa dengan gagasan yang selama ini dilemparkan oleh Donald Trump dan kaum konservatif kulit putih di Amerika Serikat, Marine Le Pen di Prancis, Brexit di Britania Raya, gerakan PEGIDA di Jerman, hingga politikus Geert Wilders di Belanda. Parahnya, kebangkitan populisme konservatif di Indonesia bisa dibilang dipimpin oleh tokoh yang selama ini dikenal sebagai pemimpin organisasi  Islam yang cukup “keras”, seperti Habib Muhammad Rizieq Syihab dari Front Pembela Islam (FPI), termasuk tokoh-tokoh Islam lainnya sebagaimana yang terlihat dalam aksi populis “411” dan “212”.

Di saat yang sama, sesuai dengan nature-nya, kaum Islam Abangan di Indonesia sepertinya tertarik sekali dengan retorika yang dibawa oleh populisme konservatif tersebut. Sebagian retorika itu jika dilihat secara mendalam, baik dari sudut pandang sekuler maupun sudut pandang Islam (terutama maqashid syari’ah), tidak terlalu menyentuh persoalan mendasar dari problematika yang diderita umat Islam dan masyarakat Indonesia secara umum. Jika mau jujur, sebagian gagasan dan retorika yang selama satu tahun ini dikembangkan, terutama terlihat dalam aksi “411” dan “212” malah lebih beraroma politis yang kadang dibumbui dengan aroma rasisme dan sentimen etnis, meski tentu saja tidak semuanya seperti itu.

Hal yang lebih menyedihkan adalah merapatnya barisan keluarga Soeharto kepada populisme konservatif, dimana sepertinya, pendekatan tersebut berlangsung hampir tanpa perlawanan dari umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari acara “Shalawat Untuk Negeri” yang diadakan di Masjid At-Tien, Taman Mini Indonesia Indah, pada Sabtu 11 Maret 2017 yang lalu, sekaligus memperingati ‘haul’ Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret). Acara tersebut diadakan oleh keluarga dan anak-anak mantan presiden Soeharto: dibuka oleh Titiek Soeharto, dihadiri oleh Tommy Soeharto, Mamiek Soeharto, Tutut Soeharto serta tokoh-tokoh yang diundang seperti Habib Muhammad Rizieq Syihab (FPI), Prabowo Subianto, Abdullah Gymnastiar, Hidayat Nur Wahid, hingga para calon yang bertarung dalam Pemilihan Gubernur Jakarta seperti Anies Baswedan, Sandiaga Uno dan Djarot Saiful Hidayat.

Bagi banyak orang, acara tersebut mengerikan. Muhammad Al Fayyadl, salah satu aktivis muda NU yang terkenal progresif, dalam postingan media sosialnya menyatakan kekhawatirannya atas acara selawat yang sekaligus memperingati ulang tahun Supersemar tersebut. IslamBergerak.com, salah satu media Islam progresif, mengeluarkan semacam fatwa tentang hukum mengidolakan Soeharto. Hal yang sama juga disuarakan oleh sejumlah aktivis Islam progresif.

Di atas semuanya, acara yang bisa dibilang ‘naas’ tersebut seolah menggambarkan ‘amnesia’ yang diderita umat Islam Indonesia. Seolah-olah umat Islam Indonesia telah melupakan bagaimana salah satu korban terbesar dari kebijakan-kebijakan Orde Baru sepanjang 32 tahun itu adalah umat Islam sendiri. Peristiwa mengerikan seperti Peristiwa Tanjung Priok (1994), Insiden Talang Sari (1991), Daerah Operasi Militer di Aceh (1988-1998), hingga berbagai penangkapan terhadap ulama dan aktivis Islam, serta pembungkaman berbagai organisasi dan pergerakan Islam selama periode Orde Baru.

Selawat Asyghil: Selawat Untuk Orde Baru

Tidak perlu 32 tahun bagi umat Islam di Indonesia untuk menyadari bagaimana anti-nya Orde Baru pada Islam. Di awal tahun 1970-an, muncullah sebuah bentuk selawat yang berisi doa umat Islam agar dihindarkan dari kezaliman penguasa, dalam hal ini tentu saja Orde Baru. Selawat tersebut terkenal  dengan nama “selawat asyghil”, merujuk pada kata “asyghil” (artinya: sibukkanlah) di dalam kalimat selawat tersebut. Selawat tersebut juga dikenal dengan sebutan “selawat betawiyyin” (Selawat Betawi), “selawat mlipir”, dan “selawat sibuk”. Beginilah bentuk selawat tersebut:

file_1486275753

Selawat Asyghil. (sumber: inspira.co)

Artinya: Ya Allah, sampaikanlah selawat kami kepada Baginda Nabi Muhammad, dan sibukkanlah orang-orang zalim dengan orang-orang zalim yang lain, dan keluarkanlah kami dari (kebatilan) mereka dengan selamat, dan sampaikan salam kami juga kepada keluarga (Ahlul Bait) dan para sahabat semuanya.

Menurut almarhum KH. Rahmat Abdullah, seorang tokoh penting Jema’ah Tarbiyah, dalam sebuah ceramahnya di Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia pada awal tahun 2000-an, selawat tersebut dipopulerkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1971-1972 melalui radio milik Yayasan Perguruan Asy-Syafi’iyah, sebuah perguruan Islam yang dihormati di Jakarta. Selawat ini sangat spesial karena dilantunkan dengan irama merdu yang cenderung sedih dan sentimental.

Selawat ini dianjurkan oleh almarhum KH. Abdullah Syafe’i untuk dibaca dilantunkan di masjid-masjid pada waktu Magrib, antara azan dan iqamah. Selawat ini pun menjadi populer di antara kalangan umat Islam, termasuk Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan umat Islam Indonesia secara umum di zaman Orde Baru. Selawat Asyghil menjadi doa pamungkas umat Islam memohon perlindungan kepada Allah SWT dari kezaliman Orde Baru. Dalam berbagai kampanye politik Partai Persatuan Pembangunan (PPP; dianggap sebagai representasi suara Umat Islam waktu itu) pada zaman Orde Baru, Selawat Asyghil sering dilantunkan.

Tidak terlalu jelas siapa dan kapan selawat ini dibuat. Dalam beberapa bacaan, dikatakan bahwa banyak kalangan menisbatkan selawat ini kepada Habib Ahmad bin Umar Al Hinduan (W. 1122 H) dikarenakan syair selawat tersebut tercantum di dalam kitab Al Kawakib Al Mudhi’ah, sebuah kitab kumpulan syair selawat karangan sang ulama. Meskipun di dalam kitab itu, beliau hanya mencantumkannya, bukan sebagai pengarang selawat tersebut. Di sumber lain dikatakan bahwa selawat ini diamalkan dan kemungkinan besar disusun oleh Jafar Al Shadiq (W. 138 H), cicit Nabi Muhammad di generasi keenam. Beliau adalah seorang intelektual Islam yang hidup di masa peralihan Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyyah yang awalnya dipenuhi konflik politik. Selawat Asyghul tersebut dilantunkan oleh beliau agar orang-orang yang berkonflik dan zalim disibukkan oleh orang-orang zalim juga, tidak mengganggu pengembangan keilmuan dan pengetahuan saat itu. Biarlah orang-orang berebut kuasa politik, sedangkan ulama dan intelektual tetap mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan.

Perlu penelusuran lebih mendalam tentang sejarah Selawat Asyghul, namun yang penting bagi umat Islam saat ini adalah menyadari bagaimana sejarah kemunculan Selawat Asyghul di Indonesia. Selawat Asyghul yang awalnya dilantunkan di radio milik Perguruan Asy-Syafi’iyah milik almarhum KH. Abdullah Syafi’i itu dipanjatkan sebagai doa melawan kezaliman penguasa Orde Baru. Maka menjadi hal yang ironis apabila di zaman reformasi ini tokoh-tokoh umat Islam malah berjalan bersama para keluarga dan kroni Soeharto sebagai simbol utama kezaliman Orde Baru. Umat Islam harus bangkit untuk mengambil posisi yang lebih terhormat daripada yang terjadi saat ini. Berbagai organisasi dan pergerakan Islam yang di Era Reformasi ini bebas bergerak dan berdakwah juga jangan sampai lupa bagaimana organisasi dan pergerakan mereka ditindas, dizalimi dan dipaksa tiarap selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru.

Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad, Wa Asyghiliz Zhalimin biz Zhalimin!

Makassar, 14 Maret 2017

[1] Penulis pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Komisariat Universitas Hasanuddin (2015). Pernah bekerja sebagai Monitoring Officer di Indonesian Interfaith Weather Station (IIWS) dan Academic Fellow on International Civil and Human Rights di Kennesaw State University, Georgia, Amerika Serikat (2016)

rahmat-abdullah-foto-dok1-sabili-arief-kamaludin

Rahmat Abdullah via koinquran.wordpress.com

*** Tulisan ini dibuat setelah penulis mendengarkan kembali ceramah alm. Ust. Rahmat Abdullah di acara Seminar 20 tahun Tarbiyah di Indonesia yang dilaksanakan (kalau tidak salah) tahun 2000 di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI Depok.

Advertisements

4 thoughts on “Selawat Untuk Orde Baru

  1. Mengapa para ulama yg jadi pembicara, mau datang dan mengisi acara tersebut?

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: