Pemuda dan Politik dalam Tinjauan Sejarah Indonesia

Sukarno, sewaktu masih menjadi siswa HBS di Surabaya. Tinggal di kos-kosan milik H.O.S. Cokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam. Ikut menulis di koran 'Otoesan Hindia', koran milik Sarekat Islam. Menulis sekitar 500 artikel di koran tersebut dengan nama samaran 'Bima'.

Sukarno, sewaktu masih menjadi siswa HBS di Surabaya. Tinggal di kos-kosan milik H.O.S. Cokroaminoto, pemimpin besar Sarekat Islam. Ikut menulis di koran ‘Otoesan Hindia’, koran milik Sarekat Islam. Menulis sekitar 500 artikel di koran tersebut dengan nama samaran ‘Bima’.

**Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di Qureta.

Pembicaraan mengenai kaum muda dan politik bisa menjadi sebuah pembicaraan yang menarik atau sebaliknya, membosankan. Topik tersebut bisa menjadi menarik karena anak muda identik dengan gagasan-gagasan segar, dan sebaliknya bisa menjadi membosankan karena pragmatisme yang muncul dari anggapan bahwa politik selalu menipu -dan karena itu ia harus dihindari. Sayangnya, jika melihat secara kasar kepada mayoritas anak muda di Indonesia, tidak bisa kita pungkiri bahwa pragmatisme yang penulis sebutkan tadi sedang mendominasi persepsi mereka tentang politik. Sebagai seorang sarjana bidang Sejarah, salah satu hal yang menarik perhatian penulis ketika membicarakan anak muda dan politik di Indonesia adalah dengan melihat sejarah bangsa kita yang banyak digoreskan oleh anak-anak muda. Dalam kaitannya dengan fenomena pragmatisme anak muda terhadap politik, kita patut menengok ke belakang dan bertanya: apakah betul anak muda di Indonesia sudah anti politik sejak dulu?

Persentuhan antara anak muda dan politik di Indonesia mengkristal di awal abad ke-20.[1] Masa ini adalah masa dimana kebijakan Politik Etis memberikan dampak yang cukup baik terhadap terbukanya kesempatan para anak bangsa untuk mendapatkan pendidikan modern. Tereksposnya mereka kepada pendidikan modern menjadi salah satu sebab munculnya berbagai tokoh dan organisasi pergerakan di seluruh Indonesia dengan sifat anti penjajahan dan keinginan untuk hidup merdeka. Maka bermuncullah ke permukaan organisasi pergerakan kebangsaan seperti Sarekat Islam (1912), Muhammadiyah (1912), hingga organisasi yang menghimpun para pemuda di daerah seperti Jong Java (1918),  Jong Soematranen Bond (1918), Jong Minahasa (1918), Jong Ambon (1920) dan lain-lain. Tidak sampai tiga dekade setelah Politik Etis diterapkan, para pemuda kita sudah menyepakati untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu dan berbahasa Indonesia: hasil dari Kongres Pemuda II di Batavia pada tanggal 27-28 Oktober 1928.

Anak-anak muda bangsa ini di awal abad ke-20 sudah bergerak dengan cakap menggunakan instrumen-instrumen modern seperti surat kabar, rapat terbuka (openbare vergadering), hingga hal yang lebih radikal seperti mogok kerja. Dalam sejarah pergerakan kebangsaan, kita dipertemukan dengan sosok Sukarno yang pada saat bersekolah di HBS (setingkat Sekolah Menengah) sudah menghantam kolonialisme dengan menulis sekitar 500 artikel di surat kabar Oetoesan Hindia milik HOS Cokroaminoto. Seorang mahasiswa seperti Mohammad Hatta harus menghabiskan 11 tahun (1921-1932) untuk mendapatkan doktorandus. Bukan karena malas berkuliah, tetapi sebagian besar waktunya dihabiskan dalam dunia pergerakan untuk Indonesia merdeka, langsung dari negeri yang menjajah kita dulu: Belanda. Sutan Syahrir yang juga bersekolah di Belanda lebih parah lagi. Ia rela drop out dari Universitas Leiden karena harus pulang ke Indonesia pada akhir 1931 untuk mengurus Partai Nasional Indonesia (PNI) yang sedang diobrak-abrik pemerintah kolonial. Pada saat itu, Sutan Syahrir baru berusia 23 tahun.

Anak-anak muda juga menjadi pemain utama dalam pergumulan berbagai ide di Indonesia pada masa pergerakan kebangsaan. Sebut saja Semaun yang pada usia 15 tahun (1914) bergabung dengan Sarekat Islam dan berperan dalam menjadikan Sarekat Islam semakin ‘radikal’ dengan menuntut zelfbestuur alias pemerintahan sendiri pada Kongres Nasional 1917. Semaun menjadi salah satu tokoh muda pertama yang mempertemukan dan menggerakkan Islam dengan konsep Marxisme, dan akhirnya menjadi ketua pertama dari Partai Komunis Indonesia (PKI), organisasi yang dibentuk di kantor Sarekat Islam Semarang pada 23 Mei 1920.

Radikalisme anak muda semacam ini tidak hanya berhenti di sana. Sehari sebelum peristiwa Proklamasi, kelompok Persatuan Mahasiswa yang dipimpin Sukarni memutuskan untuk ‘menculik’ Sukarno dan Hatta pada subuh hari tanggal 16 Agustus 1945 dan meyakinkan keduanya bahwa Jepang betul sudah menyerah.  Pada pukul 02.00 tanggal 17 Agustus 1945, Sukarno, Hatta, Subarjo dengan dihadiri anggota PPKI dan kelompok pemuda menyusun teks proklamasi yang dibacakan pada pukul 10.00 esok paginya. Menurut Kahin (1952), rangkaian peristiwa ini yang menandai dimulainya Revolusi Indonesia yang segera mendapat respon luar biasa di seluruh pelosok Indonesia. Semuanya dimulai dari radikalisme anak muda.

Peran anak muda dan kaitannya dengan politik tidak berhenti dengan merdekanya Indonesia dari kekuasaan kolonialisme. Sejarah mencatat bahwa anak muda dengan sifatnya yang konsisten pada kebenaran menjadi sebab sifat kritisnya mereka kepada penguasa. Anak muda seperti Soe Hok Gie yang melihat kecenderungan otoriter Sukarno setelah Demokrasi Terpimpin diterapkan (1959) tidak tinggal diam dan akhirnya melahirkan Tritura yang terkenal (1966). Orde Baru sebagai pengganti Orde Lama pun tidak luput dari kritik yang datang dari kalangan mahasiswa. Peristiwa Malari menjadi satu peristiwa besar pertama di masa Orde Baru karena rezim dianggap sudah terlalu ‘mabuk’ modal asing. Mahasiswa melihat kebijakan pembangunan Suharto dengan mengijinkan banyak modal asing sebagai penjajahan gaya baru. Sebagai akibat rentetan kejadian tersebut, pemerintah Orde Baru berusaha membendung tekanan dari kalangan mahasiswa dengan mengeluarkan kebijakan NKK (Normalisasi Kebijakan Kampus) pada tahun 1978 dan BKK (Badan Koordinasi Kemahasiswaan) pada tahun 1980. Kedua kebijakan tersebut berusaha memisahkan mahasiswa dengan dunia politik. Mahasiswa dipacu untuk hanya fokus terhadap perkuliahan di kampus, dan demonstrasi dianggap sebagai kegiatan yang mengarah kepada politik praktis.

Tetapi mahasiswa tidak diam, kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun tidak pernah kering dari gagasan anak muda, yang mendukung dan yang menentangnya. Ketika Krisis Finansial Asia ikut menghantam Indonesia pada pertengahan Juli 1997 yang menyebabkan harga melambung tinggi dan penambahan hutang serta krisis multidimensi. Kaum muda, kaum buruh dan mahasiswa turun ke jalan yang akhirnya memaksa Suharto mundur dari kursi presiden RI pada tanggal 21 Mei 1998.

Kini, sekitar 18 tahun setelah Reformasi dan 100 tahun setelah masa pergerakan kebangsaan, negeri ini dihadapkan dengan fenomena kaum muda yang menjauhkan diri dari aktivisme kampus dan semakin tidak peduli dengan penderitaan rakyat kecil. Ranah politik seakan menjadi barang haram yang tidak boleh dimasuki dan dibicarakan oleh kaum muda. Padahal sejarah bangsa kita adalah sejarah anak muda. Kaum muda harus bangkit kembali dan merebut posisinya yang paling hakiki: membela kebenaran, membela rakyat kecil!

Makassar, Oktober 2016

* Penulis adalah lulusan Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin. Pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Universitas Hasanuddin (2015), Monitoring Officer di Indonesian Interfaith Weather Station (2015), dan Academic Fellow on International Civic and Human Rights di Kennesaw State University, Georgia, Amerika Serikat (2016).

Daftar Bacaan:

  • George McTurnan Kahin, Nasionalisme dan Revolusi Indonesia, Depok: Komunitas Bambu, 2013
  • C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1991
  • Max Lane, Unfinished Nation: Ingatan Revolusi Aksi Massa dan Sejarah Indonesia, Yogyakarta: Djaman baroe, 2014
  • Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional (Jilid II), Yogyakarta: Ombak, 2015

[1] Istilah ‘Indonesia’ tentu bukan nama resmi seperti ‘Hindia Belanda’ atau ‘Hindia Timur’. Namun penggunaannya sudah sering dipakai pada tahun 1920-an.

Advertisements

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: