Membaca Kembali Kebangkitan Nasional Kita

oleh: Muh Ihsan Harahap – Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra-Universitas Hasanuddin

H.O.S. Cokroaminoto: orang yang digelari Belanda sebagai "Raja Jawa tanpa Mahkota". Awal abad ke-20, terjadi banyak revolusi di seluruh dunia. Meski bisa dibilang terlambat jika dihitung dari Revolusi Prancis akhir abad 18. Tapi setidaknya dua negara besar saat ini: Rusia dan Cina, memulai revolusinya pada awal abad 20. Uni Soviet sendiri sebagai bentuk perlawanan kaum Bolshevik terhadap kekuasaan Tsar di Rusia, dideklarasikan pada 1917 pada Revolusi Februari dan Revolusi Oktober. Lenin sebagai pemimpin revolusi pun menjadi kepala pemerintahan setelah Rusia dikangkangi oleh kekuasaan Tsar selama hampir 400 tahun lamanya. Komunisme pun diimplementasikan melalui tangan negara dengan berbagai formatnya: leninisme, stalinisme, trotzkisme, dan seterusnya. Namun pada akhirnya Uni Soviet pun runtuh ketika Tembok Berlin dirobohkan pada 1989. Berakhir pulalah eksistensi komunisme dalam tataran negara. Inilah sebabnya Francis Fukuyama menamainya sebagai The End of History, akhir dari sejarah dengan sistem demokrasi liberal sebagai pemenangnya.

Di tanah yang lain, Revolusi Cina 1911 mengakhiri kekuasaan dinasti Qing. Pu Yi yang terkenal sebagai The Last Emperor, menjadi kaisar ketika usianya belum cukup tiga tahun, adalah raja terakhir yang berkuasa ketika kelompok Tongmenghui menurunkannya secara paksa pada 1912. Berakhirlah kekuasaan kerajaan dengan berbagai dinasti di Cina yang telah berlangsung ribuan tahun lamanya. Ketika Republik Rakyat Tiongkok didirikan pada 1949, Pu Yi ditahan sebagai penjahat perang dan dipenjara selama 10 tahun.

Di tanah Hindia Belanda, unsur dari kedua negara ini, pemikiran komunisme (Uni Soviet) dan komunitas pedagang Cina, punya sejarah bersentuhan terhadap Sarekat Islam sebagai organisasi tonggak kebangkitan nasional.

Membaca Kembali: Budi Utomo atau Sarekat Islam

Membaca kembali kebangkitan nasional kita, sebagian sejarawan keberatan terhadap ditetapkannya kelahiran Budi Utomo sebagai titik awal kebangkitan nasional. Meskipun pada kenyataannya Budi Utomo memang organisasi modern pertama yang berdiri di Hindia Belanda, namun dalam perjalanannya Budi Utomo hanya menjadi tempat bagi para priyayi Jawa. Tokoh muda progresif seperti Cipto Mangunkusumo (ejaan lama: Tjipto Mangoenkoesoemo) yang mengusulkan agar Budi Utomo menjadi partai politik saja, tidak mendapat cukup dukungan dari mayoritas anggota organisasi. Di kongres pertama, Bupatif Karanganyar Raden Adipati Tirtokusumo terpilih menjadi Ketua Budi Utomo. Meskipun merupakan tokoh progresif yang mendorong pendidikan, terutama kepada perempuan, namun naiknya Raden Adipati Tirtokusumo menjadi ketua menandai seperti apa model ketua Budi Utomo selanjutnya. Faktanya, hampir semua ketua Budi Utomo adalah keturunan keraton. Tidak hanya itu, sampai pada kongresnya pada 6-9 April 1928 di Surakarta, Budi Utomo belum memiliki cita-cita kemerdekaan secara nasional. Lihatlah dalam anggaran dasar Budi Utomo, di pasal 2 disebutkan tujuan organisasi, “membantu perkembangan negeri dan rakyat di pulau-pulau Jawa dan Madura.”

Cita-cita pertama kemerdekaan secara nasional sebenarnya lahir dari Sarekat Islam. Sebagian sejarawan menandai Sarekat Islam sebagai organisasi yang pertama kali mencita-citakan kemerdekaan secara nasional. Salah seorang sejarawan dari Universitas Padjajaran, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, bahkan mengusulkan agar pemerintah semestinya mengubah tanggal 20 Mei (hari kelahiran Budi Utomo) menjadi tanggal 16 Oktober (hari kelahiran Sarekat Islam) sebagai titik awal kebangkitan nasional.

Organisasi ini sendiri berawal dari Sarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi. SDI didirikan dengan tujuan melindungi kepentingan niaga pedagang muslim pribumi dari dua pihak: keraton dan pedagang Cina.

Keraton memupuk feodalisme dalam berbagai bentuk yang tidak menguntungkan pedagang muslim pribumi. Mereka melarang kain batik kawung untuk dipakai, kecuali oleh raja dan keluarganya. Kaum bangsawan menambah kegerahan ini dengan ikut melarang rakyat memakai kain batik parang rusak, sidomukti dan sidoluhur. Rakyat biasa juga dilarang memakai kereta di kawasan Gladag, karena Gladag adalah simbol kebangsawanan dan jalan utama menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Konflik antara pedagang muslim pribumi dan pedagang Cina pun lain lagi. Awalnya kedua pihak ini bekerja sama dengan baik dalam berdagang. Namun ketika Revolusi Cina 1911 terjadi dan Pu Yi diturunkan, maka pedagang Cina berubah menjadi arogan dan sombong. Mereka merasa menjadi unggul dibandingkan pribumi, bahkan setingkat dengan orang-orang Belanda.

SDI pun dibentuk sebagai organisasi yang melindungi pedagang pribumi yang mayoritas beragama Islam. Ketika H.O.S. Cokroaminoto akhirnya bergabung dengan SDI, maka diubahlah organisasi ini menjadi Sarekat Islam (SI). SDI pun bertransformasi dari sekedar perlawanan di bidang ekonomi ke arah yang lebih luas. Dengan masuknya Cokroaminoto pula pengaruh komunisme yang dibawa oleh Semaun kemudian “dipadukan” menjadi “sosialisme Islam” yang dituangkan Cokroaminoto dalam buku tipis “Islam dan Sosialisme” yang diterbitkan pada 1924. Mertua dari presiden Sukarno inipun yang paling kuat menggagas kongres national congress Centraal Sjarikat Islam pada1916. Kongres ini membuat gusar pihak Belanda karena salah satu hasilnya: menuntut pemerintahan sendiri (zelf bestuur) bagi rakyat pribumi di Hindia Belanda.

Refleksi

Demikianlah sejarah memainkan kaidahnya. Sarekat Islam lahir sebagai anti-tesis dari kekuasaan Belanda yang sewenang-wenang.

Sebagai refleksi, marilah kita berpikir dan merenungkan bersama bahwa kebangkitan nasional lahir dari tekad yang kuat untuk benar-benar merdeka, menentukan takdir di atas kaki kita sendiri. Kebangkitan nasional tidak akan pernah ada jika orang-orang seperti Haji Samanhudi, Cokroaminoto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari dan lainnya, menunggu orang lain untuk memulainya.

Maka hari ini, jika Indonesia akan meraih takdir yang baru di 2014, maka pastikan kita ada dalam usaha bersama-sama di dalamnya!

 

Makassar, 18 Mei 2014

– – – – – – –

Majalah Elektronik KAMMI Komisariat Unhas, Edisi I.
Memperingati Kebangkitan Nasional, 20 Mei.

Advertisements

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: