Perempuan

Jum’at, 25 Oktober 2013, pukul 17.30 sore.

Sayyid Qutb di Penjara Mesir rezim Jamal Abdunnasir, 1966.

Hari pertama ini saya mendapatkan pelajaran berharga dari orang-orang Afrika yang tidak terdidik, yang ada di Montmartre, kawasan sejarah dan hiburan di Paris. Setelah berada kembali di Le Village, saya pun membereskan barang-barang. Suasana masih cukup terang meskipun sudah jam setengah enam sore.

Ketika masih berada di Jakarta, saya memesan kamar di Le Village ini untuk tipe dormitory mix. Itu artinya kamar ini akan diisi oleh laki-laki dan perempuan, campur. Kamar ini terdiri dari empat ranjang bertingkat, yang artinya akan diisi oleh delapan orang. Satu-satunya alasan mengapa saya memilih kamar tipe dormitory mix ini adalah klasik: dana. Saya ke Paris dengan membawa 420 Euro; uang sponsor-sponsor saya yang harus saya gunakan seefisien mungkin. Ketika pertama kali tiba di kamar ini pada siang hari tadi, saya sendirian, belum ada teman-teman backpacker lain yang mengisi kamar ini. Keadaan kamarnya pun masih rapi sekali.

Setelah shalat magrib dan isya, dan juga makan malam, saya memutuskan beristirahat. Selamat malam, Montmartre. Selamat malam, Paris.

Sabtu, 26 Oktober: Perempuan

Esoknya pukul 05.00 pagi, saya bangun dari malam saya yang pertama di Benua Eropa. Dengan mata yang masih sayup, saya melangkah menuju kamar mandi. Setelah melaksanakan ritual pagi selama 15 menit di dalam kamar mandi Le Village, saya beranjak menuju ranjang kembali. Suasana gelap ketika saya bangun tadi membuat saya baru menyadari ternyata semua ranjang bertingkat ini sudah terisi lengkap, jadi ada delapan orang di kamar ini. Setelah shalat, saya membuka internet untuk mengecek dimanakah posisinya teman-teman saya yang lain yang hendak mengikuti final kompetisi karya ilmiah di kota ini.

Pukul 07.00, tiba-tiba salah satu dari tujuh orang ini bangun, dan menuju ke kamar kecil. Saya perhatikan dia memakai kaos longgar sebatas paha. Dan di detik itu saya menyadari: ini cobaan selanjutnya, berpotensi menjadi musibah bagi saya. Ternyata saya tidak memperhatikan sejak bangun tadi bahwa tujuh orang penghuni yang lain di kamar ini adalah perempuan! Mungkin ketika saya tidur setelah magrib dan isya kemarin, mereka datang tengah malam, dan mendapat kamar ini. Sebelum perempuan amerika pertama yang bangun tadi keluar dari kamar kecil, saya memutuskan keluar dari kamar. Menuju kantin di lantai dasar, makan roti croissant, makanan ringan khas orang-orang Prancis untuk sarapan.

Sembari menikmati sarapan yang tidak memuaskan karena tidak bertemu nasi ini, saya kembali mengecek dimana posisinya teman setim saya, Farah. Dia berangkat dari Jakarta menuju Amsterdam, dari Amsterdam kemudian naik Thalys menuju Gare du Nord, Paris. Sambil mengetik rute bagaimana berpindah dari Gare du Nord sampai ke Le Village. Setelah beres, pukul 09.00 matahari terbit, saya ke kamar lagi. Di kamar saya melihat dua orang dari mereka sudah bangun. Saya hampir menabrak salah satunya. Di sinilah saya mengetahui bahwa mereka adalah perempuan dari Amerika Serikat. Mereka adalah satu orang perempuan Australia berusia sekitar 23 tahun, dan enam perempuan Amerika Serikat berusia 17-21 tahun. Sambil meminta maaf, perempuan muda berusia sekitar 19 tahun ini menyodorkan tangan untuk berkenalan, basa-basi di pagi hari. Setelah dia berjalan ke tempat tidur untuk merapikan koper yang masya Allah berantakannya, saya baru sadar betapa percaya dirinya dia -lebih tepatnya: hilang malu. Dengan hanya menggunakan tank top dan bawahan yang bikin saya membaca adzkar berulang-ulang dalam hati. Sebagai seorang yang selalu berusaha bersikap rasional, pikiran saya membayangkan beberapa potensi yang bakal terjadi kalau keadaannya begini.

Makanya jadilah hari kedua di Paris ini menjadi teror yang lain dari scam kemarin. Di dalam kamar hostel. Ketika pukul 10.00, saya melihat mereka sudah pergi semua, mengeksplorasi Montmartre yang eksotik dan bersejarah. Saya memutuskan menyambung internet di dalam kamar saja. Sembari mengumpulkan informasi tentang jalur metro dan peta kota Paris, saya mengkontak Farah berulang-ulang. Tidak ada jawaban. Dimanakah anak satu ini? Sibuk mengontak Farah karena ketraumaan saya akibat scam kemarin (agar orang ini tidak mendapatkan hal yang sama), pukul 11.20, salah seorang dari gadis Amerika yang keluar dari hostel tadi kembali lagi ke kamar.

Saya baru sadar, gadis ini adalah yang hampir saya tabrak pagi tadi. Ketika sampai di dalam kamar, dia mengulurkan tangannya lagi sambil tersenyum. “Berkenalan lagi?”, pikir saya. Padahal saya sudah berkenalan tadi pagi di depan pintu. Apa dia lupa?  Keadaan kamar yang hanya saya dan gadis Amerika ini di kamar, membuat saya mau tinggalkan saja langsung kamar ini, tapi, perempuan ini senang sekali bercerita. Semua hal dia hamburkan kepada saya, saya jawab seperlunya saja, dengan senyum seperlunya juga. Bagi saya, berdua dengan perempuan yang sudah dikenal lama saja sudah merupakan ketidakwajaran, apalagi dengan dia ini, saya baru kenal pagi tadi. Perempuan yang tingginya kurang lebih sama dengan saya, dengan muka jelita namun bertampang baik-baik saja (beda dengan pemudi Amerika yang kita kenal selama ini), saya menerka apa tujuan dia kembali lagi ke kamar ini? Ternyata oh ternyata.. Ada satu bahasa yang ingin dia sampaikan. Bahasa yang sama dengan kelakuan perempuan yang pernah disebut dalam sejarah. Ketika saya ingin pamit keluar kamar untuk menikmati udara segar di teras lantai 2, dia mengulurkan tangan lagi. Waktu saya mau melepaskannya, tangannya menggenggam lebih erat dari sebelumnya, saya heran. Saya memandang mata perempuan ini, di kedua sudut mata itulah saya paham, ternyata itu maksudnya.

Adzkar dengan otomatis berputar dalam pikiran saya, saya jangan sampai lupa, bahwa setiap orang, akan diuji sepanjang hidupnya dengan nilai-nilai yang dia yakini. Pikiran saya terlempar, di tengah kebingungan “dijebak” seperti ini. Ketika seorang calon sekularis besar (yang akhirnya menjadi pemimpin Ikhwanul Muslimin di Mesir), Sayyid Qutb ditugaskan oleh Departemen Pendidikan Mesir untuk belajar di Amerika Serikat. Di atas kapal ketika dia berangkat menuju Amerika, seorang perempuan mengetuk kamarnya. Mengajak dengan maksud terang benderang. Qutb sadar, inilah cobaan baginya, dia tolak perempuan itu, bahkan mengatakan “Maaf, di kamar ini cuma ada satu tempat tidur”.

Saya ingat pesan guru saya selalu: “Jangan sampai lupa, bahwa setiap orang, akan diuji sepanjang hidupnya dengan nilai-nilai yang dia yakini”. Banyak sekali orang-orang besar menjadi hancur karena makhluk satu itu: perempuan. Namun banyak orang besar dalam sejarah yang justru menjadi besar karena telah diuji dengan perempuan, seperti misalnya Nabi Yusuf yang menolak ajakan istri raja, dan Bung Hatta yang memilih tidur saja menghadap pintu di mobil ketika Soekarno sengaja mengerjainya dengan seorang perempuan.

Demikianlah perempuan, ia dicitrakan lemah, namun bisa memberikan kerusakan maha besar ketika ia mau menyalahgunakannya. Bahkan, ketika Allah menjelaskan tentang tipu daya perempuan dan tipu daya setan, Allah memberikan satu kata yang berbeda. Allah mengatakan, “Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah” dalam surat Annisa ayat 76. Namun ketika menjelaskan tipu daya perempuan, Al Qur’an menjelaskan, Inna kayda kunna azhim!, “Sesungguhnya tipu daya kalian, wahai perempuan, adalah maha dahsyat!”, di dalam surat Yusuf ayat 28.

Demikian dahsyatnya perempuan! Nabi Yusuf yang dikaruniai wajah paling rupawan sepanjang masa itu, seorang Nabi dengan iman yang tidak perlu dipertanyakan lagi, bahkan mengatakan: Wa illa tasrif anni kayda hunna, asbuh ilaihinna! Dan jika Kau tidak melindungi saya dari tipu daya mereka, maka saya pasti kena!

Maka di detik itu saya sadar, ini cobaan atas prinsip. Dan saya jangan sampai lupa, bahwa “setiap orang, akan diuji sepanjang hidupnya dengan nilai-nilai yang dia yakini”. Maka saya lepaskan tangan saya saat itu juga. Saya buru-buru keluar, meninggalkan kamar itu. Di ujung pintu saya mengatakan kepada dia, “saya sedang menunggu kedatangan teman saya. Saya harus menelponnya sekarang juga.” Di luar sana, di teras lantai 2, saya bersyukur, alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang sudah menyelamatkan saya dari musibah itu.

Hampir pukul 13.00, di teras lantai dua, hubungi Farah lagi. Saya kembali ke kamar lagi untuk mengambil wudhu dan sajadah, perempuan tadi sudah tidak ada di kamar, mungkin sudah pergi lagi menyusul teman-teman Amerikanya yang lain.

Hari kedua di Montmartre, di Paris, di pusat peradaban Eropa, saya menemukan pelajaran yang tidak akan saya lupakan. Saya tidak bisa bayangkan, apa jadinya saya di masa depan jika tidak berinisiatif melepaskan jabatan tangan perempuan Amerika di siang itu. Semoga pengalaman ini berguna bagi saya di masa-masa yang akan datang. Kata-kata Nabi Yusuf yang berdoa kepada Allah, berputar di kepala saya:

Wa illa tasrif anni kayda hunna, asbuh ilaihinna! Dan jika Kau tidak melindungi saya dari tipu daya mereka, maka saya pasti kena!

Bontokaddopepe, 21 Februari 2014
Selesai ditulis pada sore pukul 17.52.

—–

Catatan:
Berpikir sebelumnya, apakah harus menuliskan lagi cerita selanjutnya? Apalagi seri ketiga ini, merupakan satu dilema kecil. Setelah mempertimbangkan, saya putuskan menulisnya sampai selesai. Ingin rasanya menulis seperti Al Tahtawi yang datang ke Paris 200 tahun yang lalu. Tulisannya tentang Paris punya peran yang tidak sepele bagi arus modernisasi di Mesir, ketika ia pulang setelah lima tahun menjadi bagian dari misi para mahasiswa Mesir di Paris.

Advertisements

4 thoughts on “Perempuan

  1. Baru baca blog antum lagi. Memang berat akh cobaannya ketika di luar. Kita benar2 diuji. Doakan bisa menyusul antum ke sana 🙂

  2. praditalia says:

    subhanallah ihsan, semoga keteguhan imanmu terus diteguhkan. amin

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: