Kesan dan Persentuhan Saya dengan Hamka dan TKVDW

Suatu hari di tahun 1923 silam, seorang anak muda berusia 15 tahun, seketika saja menjadi hancur hatinya. Orangtuanya yang pada aslinya bukan orang yang sembarang, terkenal sebagai orang tinggi ilmu, ulama besar didikan langsung Syekh Khatib al Minangkabawi[1], dihormati di seantero Andalas karena turut mendirikan Sumatera Thawalib yang terkenal itu, tiba-tiba saja bercerai. Anak remaja manakah yang hatinya tidak hancur ketika orang tua cerai di usia sang anak baru berpindah remaja?

Di samping hal itu, telah lama anak muda ini ingin pergi ke tanah Jawa. Ingin belajar langsung kepada Haji Umar Said Cokroaminoto yang juga guru langsung dari Soekarno (Presiden RI pertama), Musso (PKI) dan Kartosuwiryo (Darul Islam). Dulu ketika bersekolah di Sumatera Thawalib, ia tidak terlalu sering masuk ke kelas. Ia lebih suka menghabiskan waktu di perpustakaan gurunya di Thawalib: Zainuddin Labay. Di perpustakaan itu pulalah ia banyak membaca karangan, hikayat dan madah, juga melalui tempat itu dia membaca buku tentang Jawa Tengah, membuat niatnya semakin besar untuk memperluas cakrawala pemikiran di tanah Jawa. Maka setelah bulat tekadnya, apalagi setelah hati hancur disebabkan perceraian orang tua, di usia yang masih belia 15 tahun, berangkatlah ia ke Tanah Jawa. Menuju Yogyakarta dan menetap di rumah adik kandung ayahnya, Ja’far Amrullah.

Di tanah yang baru inilah, ia kemudian memulai persentuhannya yang dalam dengan Muhammadiyah dan Syarikat Islam, berguru kepada para tokoh-tokohnya: A.R. Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo[2], Suryopranoto. Di Bandung ia bertemu dengan Muhammad Natsir, dan tentu saja gurunya yang terkenal: Ahmad Hassan, jadi sempat juga ia menulis di Pembela Islam. Pada 1925, Ia berkunjung ke Pekalongan, untuk bertemu dengan A.R. Sutan Mansyur, seorang pemimpin Muhammadiyah di sana, sekaligus kakak ipar dari anak rantau yang sudah berumur 17 tahun ini. Di tempat inilah sang anak rantau banyak mencoba menyampaikan gagasan dan pikirannya melalui pidato-pidato. Tidak lama dari masa hidup di Pekalongan, sang anak rantau memutuskan pulang kembali ke Padang Panjang, ke tanah Minangkabau yang beradat.

Sampai di Padang Panjang, dia mulai berdakwah, dari satu pidato ke pidato lain, dari satu nagari ke nagari lain. Di sinilah dia sadar bahwa di Jawa, fokus Islam adalah bagaimana memberantas kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Sedangkan di sini di Padang Panjang, fokus Islam adalah bagaimana memberantas takhayul, bid’ah, khurafat.

Namun, ada batu sandungan baru yang dia hadapi kini. Kritikan tajam datang dari ayahnya sendiri, “Tak ada gunanya pidatomu itu tanpa ilmu”. Kritikan juga datang dari masyarakat yang menuduhnya sebagai ulama yang “tidak berijazah”, bahkan para kiai tradisional di Minang mengkritiknya karena belum terlalu menguasai Bahasa Arab. Dum! Baginya ini adalah sakit yang terbesar kedua dalam hidupnya yang sudah 18 tahun. Sakit pertama adalah perceraian orang tua ketika sang anak berumur 15 tahun. Sepulang dari Jawa ia ingin memperbaiki keadaan hatinya dengan berdakwah ke masyarakatnya sendiri, dan ternyata setelah berdakwah malah dicaci oleh masyarakat sendiri. Celaan “tidak bisa berbahasa Arab” yang datang dari para kiai pun tidak akan ia lupa. Bagai orang yang terusir dari masyarakat sendiri.

Maka pada usia 19 tahun, pada 1927, dengan masih menyimpan sakit kepada masyarakat, para kiai tradisional Minang, pun juga ayahnya sendiri, dengan tidak memberitahu dan tidak meminta izin, berangkatlah anak muda yang sakit hati ini menuju tempat yang diharapkannya bisa mengobati semua penderitaan, penderitaan yang dimulai sejak usia yang sangat muda. Tempat itu adalah Makkah al Mukarramah, Makkah yang mulia. Dengan menumpang kapal Abeto selama beberapa minggu di perjalanan menuju dan hidup di Makkah itulah yang kelak menjadi inspirasi romannya dalam bahasa Indonesia yang pertama: Di Bawah Lindungan Kakbah.

Hidup di Makkah selama tujuh bulan, ia bekerja di sebuah percetakan milik orang Hindia-Belanda[3] yang juga ipar dari Syekh Khatib al Minangkabawi bernama Majid Kurdi. Sambil juga menjadi koresponden Pelita Andalas, dia berguru kepada beberapa masyaikh di Makkah. Juga di tempat kerjanya pula ia mempunyai kesempatan selama tujuh bulan itu untuk membaca kitab-kitab turats, sejarah, buletin dan lainnya dalam Bahasa Arab yang kini sudah dikuasainya. Ingin ia menetap lebih lama di Makkah, untuk lebih memperluas pergaulannya dengan syekh-syekh yang menggelar majelis ilmu di Masjidil Haram, namun, Allah punya rencana lain. Dipertemukan ia dengan Haji Agus Salim. Nasehat Agus Salim bahwa negeri kita sendiri butuh orang –orang sepertinya, maka ia pun memutuskan pulang ke tanah air.

Namun tidak pulang ke Padang Panjang ternyata, namun menetap di Medan, tempat kapalnya berlabuh. Di Medan ia lanjutkan hubungannya dengan Muhammad Natsir di Bandung dan A.R. Fakhruddin di Yogyakarta dengan rutin mengirim tulisannya ke Pembela Islam dan Suara Muhammadiyah. Pada 1928, Si Sabariah terbit sebagai romannya yang pertama (ditulis dalam bahasa Minangkabau).

Lama orang-orang keluarganya mengirim surat kepadanya untuk pulang, namun tak pernah digubrisnya. Terlanjur hancur hatinya, mengingat Padang Panjang berarti mengingat kembali perceraian orangtuanya dan dirinya yang terusir oleh masyarakat sendiri. Sampai pada satu waktu, kakak iparnya, A.R. Sutan Mansyur datang ke Medan untuk memintanya pulang kembali ke Padang Panjang. Teringat jasa besar A.R. Sutan Mansyur terhadap dirinya sewaktu muda sekali di Pekalongan, hatinya pun luluh dan memenuhi ajakan kakak iparnya.

Tiba di Maninjau, di tempat lahirnya. Sementara, rumah sang ayah di Padang Panjang telah beda karena dihancurkan gempa pada 1926, kesannya tentang ayahnya pun berubah. Apalagi setelah keterkejutan sang ayah ketika mengetahui anaknya yang telah pergi berbulan-bulan ternyata akibat menuntut ilmu sampai jauh-jauh ke Makkah. Setahun kemudian, sang anak kembali meninggalkan kampung halamannya, kembali ke Medan.

Di Medan pada 1936, bersama Yunan Nasution ia mendirikan majalah Pedoman Masyarakat. Dua tahun kemudian, ia menerbitkan Di Bawah Lindungan Kakbah, kisah cinta yang terinspirasi perjalanan dan kehidupannya di Makkah. Kemudian terbit pula Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, sebagai sebuah roman yang merupakan kumpulan kisahnya yang dulu diterbitkan berkala di Pedoman Masyarakat.

Baru setelahnya terbit pula roman dan buku yang lain: Tuan Direktur, Merantau ke Deli, Keadilan Ilahi, Teroesir, dan seterusnya.

Itulah kisah hidup singkat dari Prof Dr (HC) Hamka. Nama yang diperkenalkan pertama kali di Pedoman Masyarakat sebagai HAMKA. Singkatan dari nama lengkapnya: Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Prolog

Saya tidak akan terlalu banyak bicara tentang kisah Zainuddin dan Hayati dan pergulatan mereka dalam memperjuangkan cintanya di film dan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Karena saya yakin para pembaca yang membaca tulisan ini, telah menonton film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (TKVDW) di bioskop. Saya akan menulis kesan-kesan saya saja dan permulaan persentuhan saya dengan Hamka dan karya-karyanya saja. Film yang menurut saya sangat sukses. Diambil dari novel berjudul sama karya Buya Hamka yang merupakan sastrawan penting dalam sejarah Indonesia.

Maka di sini, untuk menjawab kesan ayah saya yang kemarin mengatakan kesannya setelah menonton bersama ibu saya, “Yang saya ingat dan terkesan adalah betapa hebatnya Hamka dalam mengarang novel itu!”, maka itu pulalah alasan saya menulis di tulisan ini berupa perjalanan hidup Hamka yang begitu kaya. Hidup yang bercampur pedih dan sedih karena perceraian orang tua di masa muda, apalagi orang tua adalah ulama terpandang. Hidup yang seperti kata Zainuddin di film TKVDW, “..telah dicuci air mata derita sejak lahir,” karena terusir dari masyarakat sendiri hanya gara-gara tidak berijazah dan tidak bisa berbahasa Arab. Tidak bisalah secara paripurna kita menghargai film TKVDW maupun bukunya tanpa melihat alur hidup Hamka sendiri.

Saya berkesempatan menonton film ini sampai tiga kali. Yang membuat saya tergeleng di kesempatan menonton pertama adalah ketika di awal film diputar dan anak-anak SMA di samping saya sambil saling memandang-mandang di antara mereka, terheran-heran, ketika di film tertulis “Diangkat dari novel mega best-seller karya BUYA HAMKA..”. Mereka tidak tahu bahwa ternyata film ini diangkat dari sebuah novel, terlebih mereka tidak tahu siapa itu Hamka. Kasihan saya menyadarinya.

Kesan dan Persentuhan Saya

Saya pertama kali membaca novel ini ketika kelas empat atau lima di sekolah dasar. Waktu itu saya mendapatkan novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck di kamar paling belakang di rumah kakek dan nenek saya. Kakek saya adalah salah seorang mantan komandan di gerakan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kahar Mudzakkar, yang sempat merepotkan Soekarno itu. Kamar paling belakang kakek saya itu sendiri berisi buku-buku usang dan cukup berdebu, tidak pantas disebut perpustakaan pribadi, tapi itulah adanya. Waktu itu saya tidak terlalu mengerti bagaimana emosi yang terjadi pada Zainuddin dan Hayati, maklum masih anak kecil yang belum mengerti cinta, belum mengenal perempuan karena semua saudaranya laki-laki. Namun yang saya insafi waktu itu adalah bahwa Buya Hamka adalah seorang ulama dan sastrawan besar, orang Muhammadiyah, sehingga kenallah saya dengan Buya Hamka untuk pertama kali. Membaca juga saya bahwa HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Keluarga besar saya sendiri adalah keluarga besar Muhammadiyah, di Limbung, Gowa. Limbung sendiri terkenal sebagai pusat Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Berbagai sekolah Muhammadiyah ada di sini. Dari tingkat TK sampai SMA, belasan sekolah. Namun kembali ke persentuhan saya dengan Hamka, Ibu saya bercerita bahwa dia adalah pelanggan artikel “Dari Hati ke Hati”-nya Hamka di majalah Panji Masyarakat (Panjimas). Maka pahamlah saya, Buya Hamka bukan “tokoh baru” di keluarga saya.

Hal ketiga yang menjadi persentuhan saya dengan Hamka adalah pada waktu SMP. Di waktu SMP saya sering bermain ke sebuah panti asuhan di dekat sekolah saya. Namanya Panti Asuhan Amrullah, mengambil nama dari kakek Buya Hamka sendiri: Amrullah. Kisah saya dengan panti asuhan ini pernah saya ceritakan di blog ini. Maka itulah tiga persentuhan pertama saya dengan Hamka, sampai filmnya diputar di bioskop yang begitu menyayat hati itu, semakin menaruh hormat saya kepada Buya Hamka.

Fakta, Pujian dan Kritik  kepada Film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Ada beberapa hal yang ingin saya komentari terkait film TKVDW dan hal-hal yang dipermasalahkan orang di dalamnya, juga informasi yang mungkin tidak diketahui orang-orang yang sudah menonton filmnya. Saya juga akan mencoba meluruskan hal-hal yang tidak ada di buku, namun dibuat-buat di filmnya.

  1. Fakta: Lokasi Syuting di Punaga, Takalar, dan rumah Zainuddin yang sebenarnya
    Di bagian awal film ini digambarkan keadaan kampung pinggir laut Zainuddin yang indah dan juga rumahnya Zainuddin yang ditinggali bersama Mak Base, pengasuhnya sepeninggal mati ayah dan ibunya: Pandekar Sutan dan Daeng Habibah. Lokasi pengambilan film ini adalah di Pantai Punaga, Desa Punaga, daerah terpencil di Takalar. Punaga adalah tempat yang indah dengan pantai, batu tebing dan pasir putihnya. Saya terkejut mengetahui lokasinya ternyata di Punaga karena teman sebangku masa SMA saya adalah anak asli Punaga, mentor sastra saya yang pertama, juga pernah saya ceritakan di blog ini pada tiga tahun lalu.
    Di novelnya sendiri, Hamka menjelaskan bahwa Zainuddin tinggal di antara Kampung Baru dan Kampung Mariso, di sebelah selatan Fort Rotterdam, tempat dimana Gubernur Hindia Belanda, Speelman, pernah tinggal dan Pangeran Diponegoro menghabiskan masa tuanya di pengasingan itu. Saya masih bisa melihat sekarang rumah-rumah pribumi di pinggir laut di daerah itu sekarang, yang sayangnya tersapu oleh pesona real estate yang ditempati orang-orang baru.
    Sutradara sudah bertindak tepat. Adalah pilihan tepat sang sutradara film ini mengambil tempat di Punaga, Takalar, bukan di tempat aslinya.
  2. Saran: Menjelaskan Siapa Zainuddin Lebih Dalam
    Film ini akan menjadi lebih maksimal pesonanya jika saja sang sutradara menjelaskan siapa Zainuddin dan derita-deritanya secara lebih detail. Siapakah Pandekar Sutan? Kenapa ia yang orang Minang malah ada di Makassar? Siapa Mak Base sebenarnya? Bagaimana Zainuddin memandang masa kecilnya dan derita-deritanya? Hal itu kurang dijelaskan di filmnya.
    Seandainya sutradara menjelaskan bagaimana awalnya gelar “Pandekar” itu ada pada diri Pandekar Sutan, tentu dia kemudian bisa menjelaskan kenapa ia terlempar ke tanah Mengkasar[4] dan menikah dengan Daeng Habibah, seorang putri Makassar. Di novelnya, Hamka menceritakan bahwa Pandekar Sutan adalah orang yang terbuang dan dibuang. Setelah ayah ibunya meninggal di kampungnya, Batipuh, Pandekar Sutan tinggal dengan mamaknya (pamannya) bernama Datuk Mantari Labih. Pembaca tahulah bagaimana kedudukan Ninik-Mamak di adat Minang. Mamaknya itu, kata Hamka, “usahkan menekuk dan menambah, hanya pandai menghabiskan saja”. Harta benda, beberapa tumpak sawah, dan sebuah gong pusaka, telah habis digadainya ke orang lain. Kalau Pandekar Sutan mencoba menggadai dan memanfaatkan harta warisannya sendiri, selalu dapat bantahan dan tidak mufakat dari mamaknya itu. Sampai suatu kali mamaknya berkata “Daripada engkau habiskan harta itu, lebih baik engkau hilang dari negeri. Saya lebih suka!”.
    Darah muda Pandekar Sutan yang masih berusia belasan tahun waktu itu mengalir juga. Dia hendak menikah, hendak berumah tangga, hendak bahagia untuk mempunyai anak keturunan, tetapi niatnya selalu dibantah oleh mamaknya yang dilindungi budaya dan adat Minang. Maka pada suatu hari, pertengkaran hebat terjadi antara Pandekar Sutan dan mamaknya. Mamaknya menghardik, “Kalau akan berbini lebih dahulu menghabiskan harta tua, tentu habis segenap sawah di Minangkabau ini. Inilah anak muda yang tidak ada malu, selalu menggadai, hendak mengagun!”. Kata-kata itu bagai petir di siang bolong, dikatakan kepada Pandekar Sutan di atas rumah, di depan mamak-mamak yang lain. Sutan Pandekar naik darah, disemburkannya kata “Mamak tidak boleh bertindak zalim!”, dan tiba-tiba dibentak oleh mamaknya, “Apa?! Engkau bilang saya zalim?!” kata Datuk Mantari Labih sambil melompat ke muka, dan menyentak kerisnya, tiba sekali di hadapan Pandekar Sutan. Malang akan timbul, sebelum dia sempat mempermainkan keris, pisau belati Pandekar Sutan telah lebih dahulu tertancap di lambung kirinya, mengenai jantungnya. Datuk Mantari Labih tewas, seisi rumah ribut. Beberapa orang mendekati Pandekar Sutan, tetapi mana yang mendekati, mana yang rebah. Sebab gelar Pandekar itu didapatnya dengan “keputusan”, bukan sembarang gelar saja.
    Ketika Landraad[5] memutus sidang di Padang Panjang, Pandekar Sutan mengaku berterus terang. Ia pun dibuang 15 tahun, ke Cilacap. Cilacap adalah pembuangan bagi orang Sumatera, laksana Sawah Lunto bagi orang Jawa dan Bugis. Dari Cilacap, dia dibawa orang ke tanah Bugis. Ketika itu terjadi Perang Bone yang masyhur.
    Orang-orang membutuhkan orang-orang pemberani, makanya Pandekar Sutan dapat menjejak Tanah Mengkasar. Singkat cerita, dia telah menyaksikan sendiri kejatuhan Bone, menyaksikan kejatuhan Gowa, dan menyaksikan pula kapal Zeven Provincien menembakkan meriamnya di pelabuhan Pare-pare. Dia dipenjara pula di sana ketika berusia 20 tahun. Bertemu Kismo orang Madura, Kismo adalah buangan seumur hidup. Dari Kismo lah, Pandekar Sutan belajar tasawuf. Setelah keluar dari penjara, ia ingin balik ke tanah Minang, namun urung karena mafhum bahwa dia sudah tidak dapat harapan di sana, sudah dibuang dan tidak dianggap. Dia kemudian tinggal di Makassar, menikah dengan Daeng Habibah, seorang Makassar yang sebenarnya mempunyai darah Minang karena ia adalah keturunan Datuk ri Bandang, orang Minangkabau, satu dari tiga pembesar yang membawa agama Islam ke tanah Makassar. Pandekar Sutan pun tinggal di sebuah rumah pinggir laut bersama Daeng Habibah, istrinya tercinta. Zainuddin pun lahir, dan Daeng Habibah meninggal di usia Zainuddin bayi. Sedangkan Mak Base adalah orang tua asal Bulukumba yang kemudian mengasuh Zainuddin sepeninggal ibunya. Mak Base inilah yang kita lihat di film. Zainuddin yang tinggal memiliki ayah itu, mengenal kasih sayang dan cinta hanya dari Mak Base lah seorang. Definisi tentang cinta itu hanya pernah dia dapatkan dari seorang Mak Base saja. Seandainya hal ini lebih diterangkan oleh sutradara di dalam filmnya, tentu saja kita akan haru dan mafhum mengapa Zainuddin bisa dengan demikian tergila-gila pada Hayati. Ya tentu saja! Hayati adalah orang pertama yang memberikan cintanya yang suci ke Zainuddin, dan Zainuddin sepeninggal Mak Base hanya mengenal satu cinta juga: dari Hayati seorang. Demikian pula Hayati. Dia yang dipingit dan dilindungi perhubungan dengan laki-laki oleh mamaknya, hanya mengenal cinta dari satu orang juga: Zainuddin. Tetapi, cinta mana yang lebih derita ketika dua orang sudah saling tahu bahwa mereka saling mengasihi dan mencintai dengan orang yang sama-sama baru mengenal satu cinta saja, lantas dengan tiba-tiba terpisah hanya karena perbedaan adat, karena Zainuddin ibunya bukan orang Minang; hanya karena uang, karena Zainuddin adalah anak pisang yang telah meninggal ibu-bapaknya di tanah Makassar oleh karenanya dia tak ada uang lagi; dan dengan malangnya sang lelaki berhati suci ditinggalkan dan ditolak Hayati dan keluarganya karena ada satu pemuda lain yang lebih kaya raya, berbangsa, beradat, berketurunan, dan berlembaga, bernama Azis! Dan ditinggalkanlah cinta Zainuddin yang suci nan ikhlas itu, hanya karena bujukan uang dan alasan bangsa dan keturunan. Betapa malangnya.
    Well, secara umum, saya maklum pada sutradara yang sudah bekerja keras. Sampai-sampai durasinya dari film ini hampir tiga jam. Meski tidak ada penggambaran seperti di atas.
  3.  Fakta: TEROESIR
    Di filmnya dan juga bukunya, diceritakan bahwa setelah Zainuddin diusir dari Batipuh, bertemu dengan Muluk dan pindah ke Batavia (untuk selanjutnya ke Surabaya). Ia menerbitkan cerita berkala di koran. Dengan menyamarkan namanya sebagai “Z”. Cerita berkalanya di koran itu laku keras, sehingga di akhirnya ia menerbitkan romannya dari kumpulan cerita berkala itu. Judul buku itu adalah TEROESIR. Dan faktanya adalah.. secara nyata, di dunia nyata Hamka juga menerbitkan buku dengan judul TEROESIR.
  4. Kritik: Pesta gaya Belanda di Rumah Zainuddin
    Setelah Zainuddin sukses dan mengganti namanya menjadi Shabir, ia di suatu kesempatan mengadakan tonil atau drama panggung atas romannya yang berjudul Teroesir. Dia bertindak sebagai regisseur-nya. Setelah pesta diadakan pesta makan di rumah Zainuddin. Namun kritik saya adalah ditambahkannya pesta dansa ditambah musik-musik ala Belanda. Bagian ini tidak ada di novel dan tidak pernah dituliskan Hamka. Hal ini seakan-akan menunjukkan bahwa Zainuddin bukan sosok yang relijius lagi setelah menjadi orang yang kaya dan ber-uang. Apalagi musik yang dipakai ditambahkan efek yang entah apa namanya namun tentu saja tidak ada pada zaman itu.
  5. Kritik dan Fakta: Pakaian Hayati yang Terbuka
    Banyak yang mengkritik pakaian Hayati yang terbuka. Kritikan itu paling sering berbunyi “tidak seperti itu gadis Minang berpakaian”. Namun apa daya sutradara, memang seperti itulah yang ditulis oleh Hamka di novelnya. Adegan di film ketika Hayati untuk pertama kalinya memakai pakaian yang semua orang bisa melihat lekukan dadanya itu, hal itu memang dituliskan Hamka di novelnya. Tetapi, di novelnya, kemudian Hayati setelah menikah dengan Azis menyatakan dia tidak nyaman dengan pakaian seperti itu, namun Azis tetap memaksa. Bagian ini yang tidak ditampilkan di film. Seakan-akan Hayati menikmati saja berpakaian terbuka seperti itu, dan seakan-akan Zainuddin tidak berberatan hati. Meskipun di filmnya digambarkan Zainuddin yang mengucur keringatnya, kecewa di raut mukanya, ketika melihat Hayati dan penampilan barunya untuk pertama kali di pasar keramaian dan pacuan kuda.
    Di novelnya, Zainuddin setelah pertemuan di pasar keramaian dan pacuan kuda itu kemudian mengirimkan surat ke Hayati.Maafkan saya Hayati, jika saya berbicara terus terang, supaya jangan hatiku menaruh dosa walaupun sebesar zarrah terhadapmu. Cinta yang sejati, adikku, tidaklah bersifat munafik, pepat di luar, pancung di dalam. Akan saya katakan perasaan hati terus terang, walaupun lantaran itu saya akan kau bunuh misalnya, bahagialah saya lantaran tanganmu.
    Hayati! Apa yang saya lihat kemarin? Mengapa telah berubah pakaianmu, telah berubah gayamu? Mana baju kurungmu? Bukankah Adinda orang dusun? Saya bukan mencel bentuk pakaian orang kini, yang saya cela ialah cara yang telah berlebih-lebihan, dibungkus perbuatan ‘terlalu’ dengan nama ‘mode’. Kemarin, Adinda pakai baju yang sejarang-jarangnya, hampir separoh dada Adinda kelihatan, sempit pula gunting lengannya, dan pakaian itu yang dibawa ke tengah-tengah ramai.
    Kakanda percaya, bahwa yang demikian bukan kehendak Hayati yang sejati, Hayati hanya berturut kepada kehendak perempuan zaman kini. Mereka katakan itulah kemajuan, padahal kemajuan jauh dari itu. Apakah tujuan kemajuan itu kepada perubahan pakaian sampai begitu, Hayati?
    Hayati, kehidupanku! Pakailah pakaianmu yang asli kembali, lekatkan pakaian dusunmu. Maaflah Hayati, bahwa Hayati sangat cantik, dan kecantikannya itu bukannya dibantu pakaian, tetapi ciptaan sejak dia dilahirkan.
    Jangan marah Hayati. Kau hanya buat saya seorang, bukan buat orang lain. Biarlah orang lain mengatakan kau perempuan dusun, tak kenal kemajuan pakaian zaman kini, kau Hayati.. Kau hanya untukku seorang.
    Zainuddin
  6. Fakta: Zainuddin Mencium Hayati yang Sudah Mati
    Hal selanjutnya yang banyak dikritik orang adalah mengapa Zainuddin mencium kening, pipi dan bahkan bibir Hayati. Faktanya, di novelnya, Hamka memang menulis demikian. Menurut saya, memang itu adalah luapan dari emosi saja. Tidak ada maksud Zainuddin mau menyentuh kulit Hayati yang bukan istrinya, sebagaimana ia dahulu sadar bahwa tangan Hayati yang berinai menandakan ia tidak boleh menyentuhnya. Sudah kepunyaan orang lain.
    Tapi mari menyimak bagaimana Hamka menuliskannya di novelnya.Orang-orang yang lain, masih berdiri di dekat pembaringan yang lain, tegak dengan hormat di sekeliling mayat itu seakan-akan memberikan selamat berpisah. Kamar itu menjadi hening diam.
    Tidak beberapa saat kemudian, orang-orang itu pun pergilah
    seorang demi seorang dengan takzim dan tafakkur; tinggal Zainuddin bersama Muluk, Zainuddin tidak dapat menahan hatinya lagi, didekatinya kepala mayat itu, dibarutnya rambutnya yang bergelung, air matanya membasahi pipi si mayat; dia meniarap laksana seorang budak hendak mencium tangan penghulunya beberapa saat lamanya, tidak dia bergerak dan tidak melengong kiri kanan, kemudian dibarutnya kening mayat itu sekali lagi, dan diciumnya bibir yang telah pucat itu, dan yang tidak ada nasibnya buat pendapat semasa hidup, baru dapat diambilnya setelah dia mati. Setelah itu dia jatuh pingsan, tidak sadarkan diri.
  7. Fakta: Hayati menyerahkan Rambut
    Di film, ketika Zainuddin telah diusir oleh ninik-mamak Hayati dari Batipuh, sebelum ia pergi ke Padang Panjang setelah subuh ketika itu, ia dapatilah Hayati berdiri di ujung jalan. Di akhir perpisahan itu, Hayati memberikan selembar kerudungnya kepada Zainuddin, sebagai tanda kenangannya. Saya kira ini pekerjaan bagus sutradara, tanpa mau repot melulu meniru ke novelnya. Di novelnya, Hamka menjelaskan Hayati di perpisahan dengan Zainuddin itu, membuka jilbabnya kemudian mencabut beberapa helai rambutnya yang diberikan ke Zainuddin. Coba bayangkan betapa repotnya adegan itu jika harus meniru adegan cabut beberapa rambut itu?
  8. Fakta: Hamka Mengunjungi Makassar
    Peran yang dimainkan Herjunot Ali sebagai Zainuddin di film ini menurut saya patut diapresiasi: logatnya, bahasanya, pilihan kata dan sorot matanya, bisalah mewakili Zainuddin, orang Makassar yang digambarkan Hamka di novelnya. Namun, mungkin banyak bertanya, dimanakah Hamka merancang satu tokoh penting ini? Dimanakah Hamka mempelajari watak dan sifat orang Makassar?
    Faktanya, Buya Hamka memang pernah ke Makassar dan tinggal beberapa waktu di sini. Yaitu pada tahun 1932, enam tahun sebelum novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diterbitkan pada 1938. Ketika itu Buya Hamka diutus oleh pimpinan pusat Muhammadiyah untuk membangkitkan semangat anak-anak muda, pengurus, kader dan simpatisan Muhammadiyah di Sulawesi Selatan menjelang Muktamar Muhammadiyah 1932 yang digelar di Makassar. Maka tinggallah Buya Hamka di Makassar untuk beberapa waktu. Maka ketika anda membaca novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, maka pahamlah mengapa di Bab pertama sendiri Buya Hamka begitu menggambarkan lanskap dan komposisi letak rumah Zainuddin dan kota Makassar: digambarkannya rumah Zainuddin di antara Kampung Baru dan Kampung Mariso; digambarkannya laut di depan rumah Zainuddin; digambarkannya Benteng Rotterdam tidak jauh dari belakangnya, kemudian Lapangan Karebosi dan kisah mistisnya, juga Gunung Bawakaraeng, Gunung Lompo Battang dan Banti Murung di Maros. Semua itu digambarkan dengan sangat mempesona oleh Hamka, langsung di bab pertama!
    Maka insaflah kita kenapa Hamka menggambarkan Zainuddin dan Makassar di novel ini, yang membuat orang-orang Makassar asli, seperti saya, puas.
  9. Fakta: Bang Muluk
    Di filmnya, Bang Muluk tidak diterangkan usianya, padahal menurut saya cukup penting. Di novelnya, Hamka menjelaskan bahwa Bang Muluk adalah seorang parewa yang usianya lebih tua dari Zainuddin. Meski dia seorang parewa, tetapi dia telah makan sedikit banyak asam garam kehidupan. Dampaknya, dia meski parewa, menjadi seorang arif, setia kawan dan berhati-hati bertindak. Maka jika Bang Muluk digambarkan seperti itu, kemudian memotivasi Zainuddin di kamarnya ketika telah mengetahui tangan Hayati sudah berinai tanda sudah jadi kepunyaan orang, maka para penonton akan paham dan tidak seenaknya saja menuduh, “tiba-tiba benar Bang Muluk berubah!”. Hal yang lain adalah Bang Muluk selalu memanggil Zainuddin dengan sebutan “Engku”. Faktanya, di novelnya Hamka menggambarkan Bang Muluk selalu memanggil Zainuddin dengan sebutan “Guru”, selalu seperti itu. Tapi itu kreativitas sang saudara sendiri terhadap Bang Muluk. Apalagi di filmnya, Bang Muluk memberikan warna sendiri, yang jika kita bayangkan tidak ada  Bang Muluk ala sutradara ini akan membuat film ini jadi hambar.
  10. Fakta: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck
    Hamka menutup kisah percintaan Zainuddin dan Hayati dengan satu kejadian yang menjadi judul roman ini: Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun, peristiwa ini bukanlah peristiwa yang fiktif, namun nyata adanya. Kapal Van der Wijck milik K.P.M buatan Feyenoord di Rotterdam itu benar-benar tenggelam setelah berlayar mencapai perairan Brondong di dekat Tuban. Para nelayan Brondong banyak berjasa dalam menolong korban dari kapal tenggelam ini. Karenanya, Pemerintah Belanda membangun Monumen Van der Wijck di Brondong, sebagai penghormatan kepada nelayan yang menolong korban musibah ini.
  11. Fakta: Zainuddin dan Hamka Merokok
    Saya berterima kasih kepada sutradara film TKVDW karena menampilkan Zainuddin yang tidak merokok di filmnya. Meskipun Hamka beberapa kali menuliskan adegan Zainuddin merokok. Faktanya, Hamka pun pernah merokok. Itu saya baca dari buku yang ditulis oleh anaknya, Irfan Hamka. Tetapi, persepsi dan pemahaman orang tentang rokok di masa kini dan di masa Buya Hamka jelas berbeda. Sehingga benar keputusan sutradara untuk menggambarkan Zainuddin tidak merokok, karena persepsi dan pengetahuan masyarakat terhadap rokok, di masa sekarang, sudah berubah.

Epilog

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck adalah satu novel yang sangat berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Novel ini pernah menjadi bacaan wajib anak sekolah di zaman orde baru, sayangnya kini kurang diperhatikan lagi. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di Malaysia dan Singapura, novel TKVDW pernah menjadi bacaan wajib dalam pelajaran sastra di sekolah.

Setelah lama saya tidak bersentuhan dengan Hamka karyanya, terakhir waktu SMP, saya bersyukur novel ini diadaptasi ke dalam sebuah film, dan sukses! Dengan demikian bertambah pulalah penghormatan saya kepada Hamka. Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Seorang negarawan, sastrawan, budayawan, ahli filsafat, dan saya juga bisa menyebutnya sebagai seorang ahli tasawuf atau sufi.

Jika diperhatikan, kisah-kisah yang dikarang Hamka banyak terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri. Novel-novel ini bisa menggambarkannya: Di Bawah Lindungan Kakbah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, Teroesir, dan lainnya. Novel-novel itu sarat dengan satu nilai yang cenderung sama: penderitaan di usia yang masih muda, terusir dari masyarakat, kepedihan karena takdir tidak berpihak kepada diri kita, ditinggal cinta, dan semacamnya, adalah hal-hal yang menurut saya terinspirasi dari kehidupan Hamka sendiri. Tak perlulah saya terangkan lagi, karena telah saya jelaskan secara singkat alur hidupmu di awal tulisan ini.

Hamka sendiri menulis di pengantar novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, ditulis di prakata cetakan kelima,

Di dalam usia 31 tahun (1938), masa darah muda cepat sekali alirnya dalam diri, dan khayal serta sentimen masih memenuhi jiwa di waktu itulah “ilham” Tenggelamnya Kapal Van der Wijck ini mulai kususun dan dimuat berturut-turut dalam majalah yang kupimpin, Pedoman Masyarakat. Setelah itu dia diterbitkan menjadi buku oleh Saudara M. Tarkawi (cetakan kedua), seorang pemuda yang giat menerbitkan buku-buku berharga. Belum berapa lama tersiar, dia pun habis.
Banyak pemuda yang berkata, “Seakan-akan Tuan menceritakan nasibku sendiri”. Ada pula yang berkata, “Barangkali Tuan sendiri yang Tuan ceritakan!”.
..dan seterusnya..

Akhir kata, ingin saya menjelaskan lebih banyak tentang orang yang kini kudefinisikan sebagai salah satu penulis paling berpengaruh dalam hidupku: Hamka. Ingin kujelaskan bagaimana dia ditangkap oleh rezim Soekarno karena tuduhan merencanakan pembunuhan presiden. Ingin kujelaskan bagaimana ia dipenjara dua tahun (1964-1966) oleh Soekarno, tetapi malah dari dalam penjara itu terbit salah satu karyanya yang berpengaruh: Tafsir al Azhar. Ingin kuceritakan bagaimana ia mendapatkan penghargaan Doctor Honoris Causa (Dr.HC) dari Universitas al Azhar Mesir. Ingin kuceritakan bagaimana ia adalah orang yang jarang di Indonesia ini, orang yang langka karena ia adalah seorang ulama yang sastrawan yang budayawan yang ahli filsafat yang sufi. Namun apa daya, ilmu harus diserap sedikit demi sedikit, tak boleh banyak-banyak sekaligus.

Inilah kesan dan persentuhan saya dengan Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Semoga Bermanfaat!

Muhammad Ihsan Harahap,
Bontokaddopepe, 29 Januari 2014,
ditulis di kala hujan turun di kota Makassar

Untuk: yang menunggu dari pagi tadi.
 
*disempurnakan ditulis di Makassar, 30 Januari 2014, pukul 02.23 pagi

[1] Imam Besar di Masjidil Haram, Makkah. Beliau adalah seorang ulama besar, utamanya mazhab Syafi’i, juga orang Indonesia pertama yang menjadi Imam Besar di Masjidil Haram. Namun ketika Arab Saudi didirikan oleh dinasti Su’ud pada 1932, maka kebijakannya menetapkan Imam Besar di Masjidil Haram harus asli orang Arab. Khatib al Minangkabawi adalah guru dari banyak pembesar dan intelektual di Indonesia, seperti KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah) dan KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdhatul ‘Ulama).

[2] A.R. Fakhruddin dan Ki Bagus Hadikusumo, A.R. Sutan Mansyur, ketiganya nanti masing-masing pernah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sedangkan Suryopranoto adalah seorang pahlawan nasional, aktivis Budi Utomo dan Syarikat Islam.

[3] Indonesia belum diproklamirkan sebagai negara merdeka waktu itu.

[4] “Mengkasar” digunakan Hamka di novelnya untuk menyebut “Makassar” atau “Jumpandang” atau “Ujung Pandang”.

[5] Pengadilan Belanda untuk Pribumi

Advertisements

23 thoughts on “Kesan dan Persentuhan Saya dengan Hamka dan TKVDW

  1. mbaklina says:

    Kereeeeeeeeeeeeeeeennnnnn!!!!! Pertama kali menyentuh buku TKVDW waktu SD, tapi baru baca pas SMP.

    Maaf lho aku enggak bikin TS-JS-nya. Belum nonton filmnya >.<
    Dimaafkan?

  2. hepsarchie says:

    lengkap. *mendadak semangat* 🙂

  3. @sayausi says:

    Uwooooh, banyak hal-hal yang dilampirkan di filmnya. Lengkap banget nget bahasannya >.<

  4. Keren, San ! Share ya 🙂

  5. koceca says:

    Seakan km yg jd bayangan.x hamka saja kak… 😊
    Sangat dalam…

  6. koceca says:

    hahaha.. ndg ji kak.. nyantai mi… iya PM ka saja.

  7. […] agama di kampung halaman almarhum ayahnya, Pandekar Sutan. Saya pernah menulis tentang TKVDW di sini. Sayangnya hape saya lowbatt sehingga tidak ada gambar yang bisa saya ambil. Namun berikut […]

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: