Sentuhan Pertama Montmartre

Satu sudut Montmartre. (http://blog.davidgiralphoto.com)

Jum’at, 25 Oktober 2013

Airbus 340-600 yang membawa saya dari Doha, Qatar, akhirnya mendarat dengan sempurna di Bandara Charles de Gaulle (CDG). Bandara ini adalah bandara utama di Paris, meskipun sebenarnya kebanyakan melayani penerbangan untuk rute antar negara. Saya pertama kali menginjak tanah Prancis ini ketika waktu menunjukkan pukul 08.12 pagi, dan kondisinya masih gelap sekali, persis jam 03.00 pagi di Makassar.

Setelah keluar dari pengambilan bagasi di CDG, saya kemudian menaiki lift untuk naik ke shuttle bus bandara menuju Terminal 3. Dari Terminal 3 inilah nanti kita memesan tiket menuju Stasiun Gare du Nord, stasiun utama dan terbesar di Paris. Tiket seharga 9,7 Euro untuk naik RER B langsung menuju Gare du Nord telah didapatkan, dan saya yang karena bingung apakah ada panitia dari PPI Prancis yang menjemput ke bandara atau tidak, akkhirnya memutuskan untuk berangkat sendiri saja menuju Le Village, sebuah hostel di kawasan Montmartre yang saya pesan di hostelworld.com. Saya memilih untuk tinggal di Le Village karena melihat ratingnya yang cukup bagus di website yang menjadi rekomendasi para backpacker ini. Bukan promosi ya.

Montmartre ini adalah tempat dimana seniman dunia seperti Van Gogh, Picasso, Monet dan lainnya pernah tinggal dan melahirkan karya-karyanya di sini. Di Montmartre ini juga terdapat satu basilika besar bernama Sacre Couer. Tapi yang ingin saya ceritakan di sini adalah kesan dan perasaan yang saya dapat di hari-hari saya yang pertama di Montmartre.

Hari Pertama di Montmartre

Hari pertamaku di Montmartre adalah hari kamis yang lelah setelah menghabiskan waktu kira-kira 23 jam sejak berangkat dari Jakarta sampai tiba di Montmartre. Setelah sampai di Stasiun Gare du Nord, saya mengaktifkan wifi dan membuka Google Maps. Ternyata saya harus jalan ke sebelah kanan setelah turun dari RER B, terus sampai ke permukaan tanah lagi, dan menemukan Stasiun La Chapelle. Dari La Chapelle, saya bertanya ke seorang anak muda Prancis -yang untungnya mau menjawab dalam bahasa Inggris- tentang di manakah rupa Stasiun Anvers  itu. Setelah ditunjukkan, metro datang dan saya sambil menyeret koper naik ke metro menuju Anvers. Sampai di Anvers dan sampai di permukaan, saya menoleh ke kanan dan melihat Sacre Couer berdiri di sana, di atas bukit, benar-benar besar basilika ini ternyata.

Tak ingin berlama-lama, saya melangkah maju sampai dua blok dan belok kanan satu blok sebelum Sacre Couer, di sinilah Le Village berada. Singkat cerita, saya check in, dan tidur sampai sore.

Scam atas nama African Children

Pukul 16.00 saya terbangun. Setelah membersihkan diri dan sholat, saya coba mengeksplorasi kawasan Montmartre dimulai dari Rue d’Orsel tempat hostel yang saya inapi berada. Di kawasan ini banyak sekali toko-toko souvenir, lengkap. Saya berinisiatif untuk mengunjungi Sacre Couer yang melegenda itu. Dari jauh saya lihat banyak sekali orang-orang berkulit hitam di tangga untuk naik ke Sacre Couer. Tapi tanpa terlalu peduli, saya tetap memegang handycam sambil terus berjalan naik ke Sacre Couer. Di tengah asik-asiknya melihat rekaman sewaktu di Doha, tiba-tiba tangan kiri saya dipegang oleh seseorang laki-laki berkulit hitam berusia 25an tahun, yang kemudian memasangkan gelang yang terbuat dari tali murahan seperti pengikat karung beras. Dia kemudian berkata “Sincerity for African Children, sir”. Di detik itu saya menyadari, saya terjebak scam!

Lama saya berdebat dengan orang ini, teman-temannya yang berkulit hitam lain dan berbadan besar sudah mengelilingi saya. Saya berpikir ini akan jadi masalah rumit. Seumur-umur meski saya orang Makassar, saya tidak respek pada kekerasan. Apalagi setelah laki-laki ini meminta 100 euro untuk satu gelang murahan itu. Tapi tiba-tiba terlintas di pikiran saya, pasti orang-orang ini tidak jauh dari Senegal dan sekitarnya, pasti bisa diajak berbahasa Arab. Sayapun berinisiatif mengatakan,”Ana Indonesi”. Ternyata mereka merespon dan langsung menanyakan apakah saya seorang muslim atau kristen, dan kujawab spontan bahwa saya seorang Muslim.

Selanjutnya saya memberikan nasehat yang sedikit banyak berguna bagi saya, dan mudah-mudahan juga bagi mereka. Mengapa mencari nafkah dengan cari tidak baik seperti ini? Tidakkah merasa menzalimi hak orang lain dengan memaksa mereka mengeluarkan puluhan bahkan sampai 100 euro dengan mengatasnamakan anak-anak Afrika?

Mendengar itu, mereka malah mendebat saya dengan kalimat “Jangan terlalu banyak memberi nasehat” dan “Hormati budaya di sini!”. Tapi karena sudah terlalu lama di dalam perdebatan yang tidak saya sukai ini, sayapun mengeluarkan 20 euro dan mengacungkannya kepada mereka, ditambah salam penutup “Jangan lagi mencari uang dengan mengatasnamakan anak-anak Afrika!”. Hampir pukul lima, saya berlalu dengan kesal.

Afrika, Muslim, Pendidikan dan hikmahnya

Di hari-hari selanjutnya, ketika saya dan teman yang lain mengeksplorasi Paris menggunakan metro bawah tanah, banyak hal-hal yang baru saya tau kebenarannya. Di banyak stasiun metro dan jalan menuju permukaan tanah, saya melihat beberapa peminta-minta yang memakai kerudung. Entahlah dia itu muslimah atau tidak. Namun dengan pengalaman dijebak scam oleh orang-orang Afrika di tangga Sacre Couer, saya mengambil pelajaran berharga yang semakin membuat saya bertambah yakin bahwa “Kamu tidak akan pernah menjadi muslim yang baik, kecuali kamu berpengetahuan”, seperti kata Imam Shamsi Ali.

Apa yang saya lihat di Sacre Couer dan di stasiun-stasiun metro kota Paris betul-betul menyadarkan saya betapa Dunia Islam yang dulunya gemilang dan menjadi pusat peradaban dunia, kini menjadi pesakitan di tempat-tempat yang dulu mereka belajar dari Dunia Islam. Semuanya karena satu sebab utama: ditinggalkannya ilmu sebagai nafas kehidupan masyarakat di dunia Islam. Orang-orang Afrika yang menjebak saya di Sacre Couer, para pengemis di stasiun-stasiun metro kota Paris, adalah bukti itu semua. Mereka, kelompok orang-orang Islam yang malang, yang mungkin tidak pernah tersentuh oleh pendidikan, kini menjadi bukti nyata kemunduran ini. Gara-gara mereka tidak tersentuh pendidikan di Afrika sana, kemudian datang ke Prancis untuk mencari pekerjaan. Namun ketika tidak ada pekerjaan yang layak, yang bisa menerima mereka dengan kualifikasi pendidikan yang seperti itu, maka cara-cara singkat seperti yang saya lihat, akan mereka tempuh.

Sentuhan pertama di Montmartre menjadi isyarat terang benderang kepada saya bahwa setiap muslim bertanggung jawab kepada agamanya. Jangan mempermalukan masyarakatmu, agamamu, bangsa dan negaramu, oleh sebab tindakan yang lahir dari kekosongan ilmu. Sentuhan pertama di Montmartre memandu saya agar: jangan malas belajar, karena harga diri masyarakat, agama, bangsa dan negaramu ada di tanganmu. Saya teringat kata-kata Bung Hatta ketika membacakan pledoinya di Pengadilan Belanda, karena mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia:

Hanya satu yang bisa disebut “tanah airku”. Ia lahir dari perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku!

Advertisements

11 thoughts on “Sentuhan Pertama Montmartre

  1. hafizh says:

    yoii san, kerenn

  2. […] ihsangpetualang on Cerita dari Paris: Sentuhan Pe… […]

  3. mayongaji says:

    Nice jadi pengen

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: