Suporter Utama Mimpi Kita

Ini adalah cerita pendek dan sederhana, sebagai pembuka.

Pukul 23.00. Rabu, 24 Oktober 2013.

Saya tiba di Doha International Airport, di negeri paling makmur di Bumi ini: Qatar. Di negeri inilah al Qardhawi tinggal.

Waktu lokal menunjukkan pukul 11.30 malam. Itu berarti jarak antara Qatar dengan Jakarta sekitar 9 jam. Salah seorang guru saya mengatakan bahwa untuk terbang dari Aceh sampai ke Papua itu memerlukan waktu 9 jam, sama jarak yang ditempuh dari Kabul di Afganistan menuju Tokyo di Jepang. Penggambaran-penggambaran ini adalah bukti bahwa kalian, orang-orang Indonesia, tinggal di sebuah negeri yang sangat besar.

Saya menuju pusat informasi sebuah maskapai (clue: sponsor utama FC Barcelona) di terminal transfer, sekedar untuk menanyakan apakah saya harus mengambil koper bagasi saya yang saya bawa dari Jakarta ataukah maskapai akan memindahkan otomatis sehingga saya cukup mengambil saat tiba di Charles de Gaulle nanti. Saya bertanya kepada seorang lelaki setengah baya yang berbicara seperti aksen si jenius Pranav Mistri, pikirku, pasti bapak ini dari India. Dia memberitahu bahwa saya tidak usah mengambil bagasi untuk dipindahkan ke pesawat baru, cukup mengambilnya saat tiba di Paris nanti.

Setelahnya saya sengaja menghambur ke sebuah toko buku yang dikelola oleh bandara. Saya mencari buku Reza Aslan terbaru berjudul “Zealot” namun tidak mendapatkannya, juga novel berjudul “Tinkers” karya Paul Hardings yang saya dengar setelah terpingkal-pingkal Andrea bercerita sewaktu Perth Writers Festival, awal tahun ini.

Gagal mencari buku, penerbanganku ke Paris tinggal 1 jam 15 menit lagi, maka saya memutuskan untuk menuju ruang istirahat bersama yang cukup nyaman, yang disediakan oleh pihak Doha International Airport.

Di saat istirahat ini, saya berpikir dan merenung. Saya buka kembali album-album lama yang mungkin sudah usang tersimpan di laptopku. Saya membaca catatan-catatan semasa saya masih seorang anak SMA dan juga ketika kuliah di IPB, which was one of my dreams to study there, but then I resigned at the end of 3rd semester. Di masa-masa sulit itu, saya tulis semua nama-nama orang yang sangat berjasa buat saya untuk masa SMA dan masa kuliahku di IPB dulu, yang rela berkorban demi untuk membantu saya. Saya akan mengenang mereka sebagai pendukung ikhlas mimpi-mimpiku,  meski mereka mungkin tidak tahu apa saja yang kuimpikan. Saya tidak bisa menceritakan siapa saja mereka sekarang. Tapi suatu hari saya ingin mempersembahkan sebuah prestasi khusus untuk mereka.

Tidak terasa 10 menit lagi sebelum berangkat, seorang perempuan dengan intonasi marah-marah mengumumkan bahwa “ini adalah panggilan terakhir..bla bla bla” untuk penerbangan Qatar-Paris, dan itu adalah penerbangan saya. Saya segera memasukkan laptop kembali ke tas, kemudian menyerahkan kartu masuk fasilitas istirahat bersama sementara itu dan mengambil boarding pass beramplop kuning. Saya antri naik pesawat bersama orang-orang Prancis yang tinggi-tinggi. Saya perhatikan muka-muka laki-laki dan perempuan Prancis agak berbeda dan punya kekhasan tersendiri dibanding orang Eropa Barat umumnya.

Saya mencari kursiku di huruf K, itu artinya saya duduk di dekat jendela. Pengalaman menarik untuk melihat Paris di waktu pagi, pikirku. Pesawat terangkat, terbang di 37.000 kaki di atas muka laut. Kru pesawat mengumumkan bahwa kita akan terbang 8 jam menuju Paris.

Di atas kota-kota negara teluk yang makmur di Timur Tengah ini, tak terasa wajah-wajah suporter utama mimpi-mimpiku muncul satu-satu. Saya berkata kepada mereka, satu-satu, “sebentar lagi saya akan tiba di Paris, salah satu mimpi saya. Terima kasih sudah pernah ikhlas dan tulus menjadi suporter utama mimpi-mimpiku.”

bersambung..

ditulis di asrama kampus, universitas hasanuddin,
sambil menunggu air mengalir, jika tidak, ini hari kedua saya tidak mandi

20 November 2013,
muhammad ihsan harahap

Advertisements

6 thoughts on “Suporter Utama Mimpi Kita

  1. beuh. lanjutkanlah perjuanganmu, nak. Semoga jadi orang keren. Semoga jalanmu dimudahkan Allah.

  2. ﺃﻟﻠﻬﻢ ﺁﻣﻴﻦ.. ﺷﻜﺮﺍ ﻳﺎ ﺻﺪﻳﻘﺘﻲ.

  3. praditalia says:

    nice story, Paris… hm… I hope I will be there soon, apalagi setelah baca ’99 cahaya di langit Eropa’, yang menyingkap keindahan Paris yang bukan hanya dari Eiffel, sorborne, dan kota modenya. tpi lebih dari itu, keindahan islam yang terpendam

    eh, airnya ngalir ga? hahaha #ngomongNaon 😀

    • Ya, bahkan sekarang pun saya sangat rindu sama Paris. Ohiya, waktu ke Paris kemarin saya juga bawa kok novel 99 Cahaya. Sempat ke Louvre, ke Arc Du Triompe du L’Etoile, Sorbonne, Notre Dame, Latin Quarter, tempat2 yang diceritakan mbak Hanum di novelnya 😀

      Waktu bedah buku kemarin di IPB kemarin, Dita hadir gak? 😀

      • praditalia says:

        Wuih…. senangnya bisa melihat lgsg apa yg d bc,aku cuma ngawang2 ngebayangin tempat2 itu.

        iya dateng,makanya jd tertarik bc bukunya,walaupun ga pernah k sana ,stidaknya bs tahu lah apa yg hrs aku tahu sblm k sana,hehehe

        • ya, it was a nice experience for me. Sebenarnya novel yang lebih dulu saya baca terkait Paris adalah Edensor. Filmnya akan tayang tanggal 24 Desember nanti.

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: