Widji Thukul, Syiah Sampang, Tragedi Mesir: Menguji Kembali Kemanusiaan Kita

Ini adalah esai saya yang masuk ke dalam 30 Besar Kompetisi Esai Mahasiswa 2013 yang dilaksanakan oleh Tempo Institute, bekerjasama dengan Koran Tempo, Majalah Tempo dan Tempo.co, yang diikuti oleh Kemah Kepemimpinan dan Kepenulisan di Bogor dan Jakarta, Oktober 2013.

– – –

Rangkuman:
Kasus hilangnya Widji Thukul, kasus pembakaran sepuluh rumah milik komunitas Syi’ah di Sampang dan tragedi berdarah Mesir pada 14 Agustus 2013; semuanya adalah tragedi kemanusiaan yang harus kita kutuk. Esai ini merefleksikan kembali rasa kemanusiaan kita, agar kita tempatkan kembali pada tempatnya: adil dan tidak peduli pada perbedaan agama, keyakinan, budaya, ras dan warna kulit.

– – –

Saya tidak ingin menghidupkan  kembali luka lama kita bersama tentang Widji Thukul. Tapi malam  ini, 16 Agustus 2013, salah satu stasiun televisi swasta menayangkan sebuah docu-drama tentang Widji Thukul. Jadi, mari kita mengambil nafas sejenak.

Kita tentu sudah sedikit kenal dengan Widji Thukul. Widji Thukul dibesarkan dari keluarga tukang becak. Tumbuh sebagai seorang anak miskin, Thukul berpindah dari seorang penjual koran, pengamen, kemudian sempat bekerja sebagai pelitur di sebuah perusahaan mebel. Tetapi, Thukul sudah menulis puisi sejak dari Sekolah Dasar dan memasuki teater pada saat duduk di bangku SMP.

Thukul, yang gemar makan jamur tlethong yang sesungguhnya beracun, diculik pada masa-masa reformasi lebih dari 15 tahun yang lalu, karena –kata nya- puisi-puisinya mengundang orang-orang ikut dalam “gerakan makar” untuk menurunkan pemerintah Orde Baru. Setelahnya, orang-orang mencari Thukul. Istrinya, Sipon, masih meyakini sampai sekarang bahwa Thukul belum mati. Pada tahun  2000, Thukul dinyatakan masuk dalam daftar orang-orang hilang.

Beberapa tahun lalu, Forum Sastra Surakarta (FSS) yang diinisiasi oleh penyair Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mengadakan sebuah forum solidaritas atas hilangnya Thukul berjudul “Thukul, Pulanglah” yang diadakan  di beberapa kota seperti Mojokerto, Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Jakarta.[1]

Kita semua berduka atas hilangnya Widji Thukul. Beliau bukan hanya seorang demonstran pada reformasi 1998, tapi juga seorang penyair yang kalimat-kalimatnya menyemangati kita sampai saat ini, untuk senantiasa menjadi oposisi bagi penyembunyi kebenaran. Air mata kita jatuh untuk Thukul, yang belum juga ditemukan sampai sekarang. Bahkan, Majalah Tempo pada edisi Mei 2013 menerbitkan edisi khusus untuk mengenang dan mengenalkan kembali Widji Thukul dan kisahnya yang sarat pelajaran.

Namun, sebagai seorang mahasiswa, saya ingin merefleksikan kembali tiga kejadian ini: Widji Thukul, Syi’ah Sampang dan tragedi 14 Agustus di Mesir. Semata-mata untuk menguji dan menanyakan kembali ke nurani kita yang dalam: apakah “kemanusiaan” yang selama ini kita junjung, benar-benar ada? Apakah “kemanusiaan” kita sudah tidak melihat perbedaan-perbedaan kecil “itu” lagi?

Syi’ah Sampang, Saudara Kami Juga

Di satu kejadian lain, pada 26 agustus, tahun lalu, sekitar 200 orang kelompok anti-Syi’ah membakar sepuluh rumah milik warga Syi’ah di Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Sampang. Dua orang meninggal dalam kejadian itu. Mereka kemudian dievakuasi ke Madrasah Karanggayam dan tempat lainnya. Tragedi inipun diusut oleh pihak berwenang sampai saat ini. Beberapa waktu  lalu, bahkan ada isu rekonsiliasi dengan cara merelokasi para penganut Syi’ah Sampang ke tempat lain, atau, menunggu kondisi yang tepat hingga warga bersedia kembali menerima warga Syi’ah ini. Meskipun untuk solusi seperti relokasi, menurut Professor Din Syamsuddin, Ketua Umum Muhammadiyah, mengatakan bahwa itu bukan solusi[2].

Di sisi lain, saya ingin mengutip satu berita tentang kasus Syi’ah Sampang ini, beberapa hari yang lalu.

“Seorang warga pengungsi (Islam Syiah) yang sempat pulang kampung ke Karanggayam (di Sampang), dipaksa meneken ikrar syahadat ulang kembali ke ajaran Sunni dan mengakui ajaran Tajul Muluk/Syiah sesat,” demikian keterangan pers Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Universalia, YLBHU, pada 12 Agustus 2013, pagi.[3]

Demikian berita dari BBC Indonesia pekan lalu. Bahkan Menurut YLBHU, salah-seorang warga Syiah itu menolak untuk ‘bertobat’, namun dia kemudian “diancam keselamatannya dan rumahnya akan dibakar.”

Kita tentu heran melihat fenomena ini. Bagaimana mungkin negara kita yang sudah 68 tahun menikmati kemerdekaan, di dalam tubuhnya, terdapat beberapa kelompok rakyatnya yang menjadi terasing dan terusir hanya karena perbedaan kecil dari kelompok “mainstream”? Bukankah kita masyarakat yang terkenal sudah hidup dari perbedaan sejak kecil?

Kita tahu bahwa ada oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam dan ikut membakar rumah itu sambil meneriakkan takbir. Bukankah tindakan ini sama sekali tidak Islami? Bahkan tujuan-tujuan diturunkannya syari’at ke dalam kehidupan manusia, menurut para fuqaha, adalah al hifazhu ‘ala an-nafs atau penjagaan terhadap jiwa. Apakah membakar rumah orang –bahkan syi’ah adalah Islam sendiri, meskipun ada perdebatan- adalah sebuah tindakan menjaga jiwa? Bukankah Rasulullah sendiri mengatakan, “membunuh satu orang tidak bersalah sama saja membunuh seluruh manusia,”?

Saya kira masalah ini dikarenakan banyak hal. Salah satunya adalah rendahnya tingkat pendidikan. Menurut Imam Shamsi Ali, orang Indonesia yang menjadi Imam Masjid Al Hikmah New York, beliau mengatakan bahwa seorang muslim tidak akan pernah menjadi “muslim yang baik” apabila dia tidak berpendidikan[4]. Saya kira inilah masalah utama kita di Indonesia. Rendahnya pendidikan inilah yang kemudian menyebabkan masalah-masalah lainnya: kemiskinan, pikiran yang tidak terbuka, reaktif dan lainnya. Itulah sebabnya, menurut saya, langkah pemerintah untuk memaksimalkan “ekspansi” pendidikan melalui sekolah-sekolah umum di berbagai daerah, harus didukung sepenuh hati kita. Agar pendidikan yang masuk ke dalam kepala orang-orang kita, mudah-mudahan bisa membuat mereka berpikir bahwa perbedaan adalah keniscayaan, dan kita harus belajar mencari persamaan dan bukan membesarkan perbedaan yang sudah jadi takdir Tuhan untuk semua umat manusia.

Tragedi 14 Agustus di Mesir dan Kemanusiaan Kita

 Kita semua sudah tahu, apa yang terjadi di Mesir pada 14 Agustus 2013. Di pagi yang teduh, medan Rab’ah Adawiyah dan medan Nahdha yang dipenuhi oleh demonstran pro-Mursi –mereka sudah berdemo di sana dua bulan lamanya, tiba-tiba dikepung oleh militer dengan senjata lengkap, juga dengan tank, dan lainnya. Apa yang terjadi sungguh sangat memilukan hati kita. Kementerian Kesehatan Mesir, sampai saat ini (16 Agustus 2013) dinyatakan 638 orang tewas dan 2000 lainnya terluka[5].

Saya membaca berupa-rupa komentar dari media sosial tentang tragedi yang memilukan ini. Dan saya terkejut membaca beberapa komentar dari orang-orang yang selama ini saya baca buku-bukunya di kamar saya. Mereka, saya tidak perlu menyebut namanya, misalnya mengatakan bahwa tragedi 14 Agustus adalah tragedi Ikhwanul Muslimun saja, bukan tragedi kemanusiaan yang patut diambil hati. Ada lagi yang berkomentar bahwa tragedi 14 Agustus hanyalah tragedi orang-orang Islam, bukan tragedi kemanusiaan. Alangkah mengenaskannya!

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana mereka, para intelektual yang saya kagumi selama ini, yang saya baca bukunya selama ini, bisa mengeluarkan komentar seperti itu. Apakah kemanusiaan memandang batas-batas agama, keyakinan, ras, daerah? Kapan kemanusiaan memandang nasionalisme? Atau bahkan, kemanusiaan sudah dibatasi oleh batas-batas chauvinisme? Kalau begitu, betapa tidak adilnya kita sebagai orang-orang yang selalu membanggakan diri sebagai penjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Alangkah tragisnya.

Refleksi Kemanusian Kita

Di potongan terakhir esai yang singkat dan sederhana ini, saya ingin mengingatkan kembali terhadap apa-apa yang mungkin kita lupa.

Kasus Widji Thukul, kasus Syi’ah Sampang dan juga tragedi berdarah Mesir pada 14 Agustus, semuanya, adalah tragedi kemanusiaan yang tidak akan mungkin kita lupa, jika dan hanya jika, kita adalah manusia yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Hilangnya Thukul, dibakarnya sepuluh rumah komunitas Syi’ah di Sampang adalah tangis kita semuanya, begitupun dengan tragedi Mesir. Kita, para penjunjung kemanusiaan sejati, sadar bahwa hak-hak kemanusiaan yang diganggu adalah pelanggaran paling dasar terhadap kemanusiaan itu sendiri.

Kasus Tiananmen pada 1989 menjadi tidak ada bedanya di mata kita dengan tragedi Mesir 14 Agustus kemarin. Juga tak ada bedanya pembakaran rumah-rumah komunitas Syi’ah di Sampang dengan agresi militer Israel ke Gaza pada 2009. Semuanya itu adalah tragedi kemanusiaan yang harus kita kutuk, tak peduli siapa pelakunya, tak peduli siapa korbannya, apa agamanya, apa bahasanya, apa warna kulitnya. Kita juga tidak peduli apakah dia dari ras ini atau itu. Tragedi kemanusiaan, semuanya, adalah darah dan air mata kita, anak-anak dan istri kita, yang diganggu dan dirampas hak-haknya, yang harus terus kita lawan dengan tangan, darah dan air mata kita sendiri.

Mungkin, melihat tragedi terhadap kaum Syi’ah di Sampang dan juga tragedi 14 Agustus di Mesir, maka Widji Thukul –yang kita tidak tahu masih hidup atau tidak- sedang membacakan puisinya yang terkenal:

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Advertisements

5 thoughts on “Widji Thukul, Syiah Sampang, Tragedi Mesir: Menguji Kembali Kemanusiaan Kita

  1. praditalia says:

    bingung mau komentar apa, selama baca tulisan di atas banyak ‘anggukan’ yang artinya tak ada bantahan. tapi sayangnya, tak ada sesuatu yang bisa dilakukan. hanya baca, sedih, menangis (mungkin), dan setelah itu nothing that I can do.

    • Mungkin ada kritikan dari Pradita?

      Tugas kita adalah bagaimana menjembatani masyarakat Indonesia kita menjadi masyarakat yang lebih berpendidikan, yang percaya pada pendidikan: hal yang bisa mengubah dunia. Caranya? Yuk mulai dari masing2 diri kita. Manfaatkan kesempatan “bisa kuliah” yang diberikan kepada kita, sehingga kita kelak akan menjadi penggerak di masyarakat yang mewujudkan cita-cita “Indonesia yang lebih baik”.

  2. salamsapa says:

    kami yang akan mulai komentar!
    kami sngt tidak sepakat 100% dengan apa yang ditulis oleh admin terkait pernyataan beliau syiah adalah saudara kita. kalau anda baca sejarah dan tulisan para ulama madzhab tentang syiah dan ulama kontemporer maka anda akan menemukan pernyataan mereka yang menentang pernyataan anda. itu cukup menjadi jawaban saya.
    anda mahasiswa, kami yakin anda bisa mencari informasi yang obyektif tentang “apakah syiah saudara kita?”

  3. pendi says:

    disekeliling kita juga banyak terjadi kekerasan, didalam rumah tangga sendiripun banyak terjadi kekerasan, antara istri dan suami, antara anak dan bapak ataupun antara ibu dan anak, saya sangat setuju dengan penulis untuk memutus kekerasan salah satunya dengan pendidikan, tapi pendidikan di negara kita hanya menjunjung tinggi kecerdasan intelektual, sementara untuk menghadapi hal hal yang diatas juga diperlukan kecerdasan emosional.

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: