Semester III: Dosen-dosen Saya

Academiegebouw Universiteit LeidenBaiklah, ini kali pertama saya menulis selama saya menyandang gelar “mahasiswa sejarah”. Dan, alhamdulillah, sekarang sudah tingkat dua di Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin. Dan di kesempatan ini saya ingin menulis sedikit tentang dosen-dosen saya yang telah mengajar saya selama dua semester ini. Tapi tulisan ini saya kemukakan kekurangannya: tidak ada foto. Jadi coba bayangkan saja wajah para dosen kami melalui deskripsi buruk saya.

Let’s start!

Karena budaya timur adalah mendahulukan para tetua, maka baiklah saya mulai dulu dari ketua Departemen Ilmu Sejarah, beliau adalah Dr. Bambang Sulistyo Edy. Beliau ini adalah dosen lulusan Ilmu Sejarah UI yang ketika mendaftar sebagai dosen -seperti yang beliau sampaikan kepada saya, awalnya mendaftar ke Universitas Sriwijaya karena hendak mengajar bersama teman karib beliau. Namun apa daya, suratan takdir juga yang membawa beliau untuk mengajar di Kampus Merah dan kemudian menjadi ketua departemen di Fakultas Sastra. Oh ya, beliau juga sempat mengajar kami satu mata kuliah yang menggunakan buku susunan Prof Koentjaraningrat: Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Mata kuliah ini membahas karakteristik dari setiap suku-daerah di Indonesia. Buku ini sangat menarik karena setelah membacanya kita akan sadar betapa kayanya Indonesia dengan ribuan suku dan ratusan bahasa dan dialek, dan semuanya bisa bersatu dalam satu wadah bernama Indonesia. Debat yang berlangsung di mata kuliah ini adalah debat lama khas Mochtar Lubis di dalam bukunya yang terkenal, Manusia Indonesia: apa karakter asli orang Indonesia? Debat yang belum menemukan kesimpulan, meskipun ada hal-hal yang disepakati secara umum sebagai nilai-nilai dasar. Dr Bambang ini sering membahas kitab Mahabarata dalam hampir setiap kuliahnya. Jadilah saya sering bertanya: ini kuliahnya Prof Koentjaraningrat atau kuliahnya Sudjiwotejo? Kalau dengar begitu, kami pasti tertawa.

Well, segitu dulu tentang Dr Bambang. Yang kedua adalah Dr Edward L. Poelinggomang. Nah beliau ini adalah dosen yang mengajar saya  mata kuliah Filsafat dalam dua semester: Filsafat Klasik, dan Filsafat Kontemporer. Wajah Dr Edward ini seperti wajah Sebastian Koch di A Good Day to Die Hard, atau kalau tidak, mungkin seperti gambaran-gambaran ilustrator novel Dunia Sophie (Sophie’s World) ketika mengilustrasikan para filsuf klasik: sebuah wajah bulat tapi tegas dengan janggut dan cambang yang bersambung, menurutku “sangat Yunani”. Doktor Filsafat lulusan Universiteit van Amsterdam ini juga adalah saksi hidup robohnya Tembok Berlin yang pernah memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur, hal itu terjadi pada 1989 ketika beliau masih menjadi mahasiswa S3 di Belanda. Menurut saya beliau adalah salah satu dosen dan sejarawan yang paling komprehensif dalam mendeskripsi satu peristiwa dan di saat yang sama bisa menyederhanakan satu ide filsafat yang rumit sehingga kami bisa memahami satu materi yang kompleks dalam satu perspektif yang baru. Sayangnya, beliau mulai pensiun pertengahan 2013 ini, jadilah kami harus kehilangan lagi satu sejarawan hebat di kelas. Selamat melanjutkan kehidupan Dr Edward. Terima kasih kami untuk kuliah anda yang mengagumkan!

Dosen yang ketiga adalah Ibu Margriet Lappia Moka, seorang dosen keturunan Belanda dan juga mengajar mata kuliah Bahasa Belanda dan turunannya. Dosen alumni Sastra Belanda UI ini benar-benar maknyus deh kalau mengajar mata kuliah Bahasa Belanda (yah, meskipun saya cuma diberi nilai B). Dengan logat Belanda seperti semua kata-kata keluar dari tenggorokan terdalam, sense atau dalam istilah Arabnya “dzauq” berbahasa Belanda benar-benar terasa ketika beliau yang mengajarkannya. Wajah beliau saya yakin seperti wajah ibu kos Andrea Hirata di Paris yang selalu memanggil beliau “garçon”, seorang ibu-ibu sedikit gendut dengan kulit putih dan rambut keriting hitam, bedanya, yang ini versi Belanda. Hehe..

Selanjutnya, dan mungkin ini yang terakhir untuk seri ini: Dr Dias Pradadimara. Butuh waktu dan halaman lebih sebenarnya untuk beri kesan saya kepada dosen yang satu ini.

Pak Dias, begitu kami memanggilnya, mengajar kami mata kuliah Pengantar Sejarah Asia dan juga Pengantar Sejarah Ekonomi di semester I lalu. Beliau dikenal oleh para mahasiswanya selalu nongkrong di kantor Jurnal Budaya. Jadi kalau tidak menemukan pak Dias di kantor jurusan, ya silahkan langsung cus ke kantor Jurnal Budaya. Beliau ini adalah dosen pembimbing saya juga di PKM, meskipun saya merasa bersalah mengecewakan beliau karena proposal saya tidak lulus, belakangan saya tahu proposal saya mirip identik dengan proposal PKM salah seorang mahasiwa jurusan Ilmu Sejarah UI. Maaf ya pak..

Sewaktu masuk jurusan Sejarah, saya mengidolakan dua dosen di kelas: Dr Edward dan pak Dias. Tetapi karena mulai semester ini Dr Edward tidak mengajar lagi, maka langsung saja pak Dias ini yang jadi favorit saya. Dan di semester ini Sejarah Eropa dan mungkin beberapa mata kuliah lain akan diasuh oleh beliau. Can’t wait for it..:D

Oh ya, pak Dias ini adalah sejarawan lulusan Ohio University dan University of Michigan. Dari semua dosen di jurusan sejarah, mungkin hanya beliau yang lulusan dari Amerika Serikat, yang lainnya jika di luar negeri pasti tidak jauh-jauh dari Belanda. Mungkin  begitulah nasib yang harus kita terima: setelah dijajah, ilmu, artefak dan peninggalan kita dibawa lagi ke Leiden.

Allset, semester ini akan jadi pertaruhan saya untuk belajar lebih giat lagi. Terutama berpikir dan belajar yang lebih kreatif lagi, seperti puisi pujungga besar India, Pakistan dan dunia Islam: Muhammad Ikbal.

“Tuhan, kau beri kami hutan. Dan kami mengubahnya, menjadi taman.”

Bontokaddopepe, 4 Agustus 2013

Advertisements

7 thoughts on “Semester III: Dosen-dosen Saya

  1. Muh basyir says:

    sip dehg dong.. diantara dosen yg mengajar kpd anda, salah satunya juga pernah mengajar saya.. DR Edward.. ya dia tahun periode 92-94 ngajar saya… beliau kan bukan orang sulawesi bugis makassar toraja mandar tapi lebih banyal tahu tentang sulawsi. Dalam fikiran saya bagaimana jika beliau aasli sulawesi, tentunya jauh lebih asyik he he..

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: