I Have a Dream!

Kita mungkin bisa membayangkan perasaan seorang Martin Luther, pelopor Protestan, ketika memaku 95 dalilnya dalam bahasa Latin di pintu depan gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517. Perasaan itu tentu adalah perasaan muak melihat dunia yang dipenuhi ketidakberesan dan paradoks, terutama pada institusi keagamaan di Eropa yang menggunakan dana umat secara tidak amanat dan menjual surat pengampunan dosa untuk keuntungan pribadi mereka. Dunia barat waktu itu adalah dunia yang sedang memasuki masa Renaissance, bangkit dari kegelapan yang mengerikan setelah Eropa ditinggalkan kejayaan Roma, dan Martin Luther memimpikan dunia yang berbeda dari Eropa yang sudah-sudah. Di kemudian hari kita mengenal Martin Luther ini sebagai pelopor lahirnya ajaran Protestan dalam Kristen. Empat abad kemudian muncul Martin Luther baru, yakni Martin Luther King Jr. dengan kata-katanya yang kita kenal: I Have a Dream!

Ya, memang kita harus punya impian. Arai pernah mengatakan kepada Ikal di dalam Edensor: “Tanpa mimpi dan harapan, orang-orang seperti kita akan mati.” Kenyataannya, bermimpi tidak boleh hanya dalam catatan atau pikiran saja, namun harus kita peluk bahkan kita harus bersatu dengannya. Kenyataannya, medan fakta kadang membuat kita, orang-orang yang punya mimpi, terbentur karena kenyataan tidak selalu mendukung rencana-rencana yang ada.

Saya pun begitu.

“Memilih Keputusan” sebenarnya adalah sebuah judul tulisan saya sepanjang sembilan halaman pada awal Oktober 2011, ketika saya mengajukan penawaran mengundurkan diri dari IPB. Surat itu adalah surat yang tertuju kepada ayah saya. Singkat cerita, dengan dialektika selama tiga bulan dengan orangtua saya perihal pengunduran diri itu, akhirnya mereka menyetujui rencana saya untuk berpindah haluan. Haluan-haluan yang baru itu adalah pertama belajar politik, ilmu syariah atau sejarah.

Saya pun hijrah kembali dari Bogor ke Makassar pada 28 Desember 2011, meninggalkan kota hujan. Banyak yang kutinggalkan selama pengalamanku kurang lebih satu setengah tahun menimba ilmu di IPB. Sebelum pamit kepada teman-teman malam itu, ternyata mereka berinisiatif membuat acara perpisahan kecil-kecilan di rumah kontrakan kami. Malam itu, tepat pukul 9.30, saya meninggalkan kota penuh kenangan itu.ย  Saya meninggalkan kota hujan dengan hati gerimis. Di tengah perjalanan ke Jakarta, aku berpuisi.

Di sinilah aku kini, meninggalkan teman-teman yang baik hati, bahkan, aku meninggalkan cinta di kota hujan, cinta yang tidak kutahu menyejukkan atau menyesakkan, yang mengatakan: jika rindu, ucap namaku lima puluh kali. Nanti pasti tidak rindu lagi. Nyatanya, dia buat rinduku menjadi-jadi.

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari perjuangan yang tidak akan kulupakan dalam hidupku. Siang-malam saya belajar pontang-panting mengejar ketertinggalan materi SMA yang akan diujikan pada tes masuk nanti. Karena tujuanku jelas, yaitu belajar politik, ilmu syariah atau sejarah, maka kutetapkan untuk menargetkan Universitas Indonesia dan LIPIA dalam list teratas, sekaligus menambahkan kemungkinan gagal dan solusinya.

Hari berganti tidak terasa sekali. Ujian SNMPTN 2012 datang, saya memilih Ilmu Politik UI di pilihan pertama dan Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin di pilihan kedua. Pokoknya, saya harus menggunakan semua jalur untuk masuk UI agar bisa mendapatkan pelajaran ++ karena letaknya yang ada di Jakarta. SIMAK UI dibuka, saya mendaftar. Saya pilih tiga pilihan: HI di urutan pertama, dan Ilmu Politik serta Ilmu Sejarah di urutan selanjutnya. Pendaftaran LIPIA dibuka, saya langsung terbang ke Jakarta pada Juni 2012 untuk mendaftar. Lihatlah kawan, nilailah saya kini: seorang pesimis, optimis atau oportunis?

Bulan berganti. Pengumuman demi pengumuman datang. Yang pertama adalah SNMPTN. Hasilnya, saya tidak diterima di Ilmu Politik UI, dan diterima di Ilmu Sejarah UH. “Satu tempat aman..” pikirku. Selanjutnya tiba pengumuman SIMAK UI yang kutunggu-tunggu. Hasilnya sungguh istimewa: tidak lulus di satu pilihan pun! Saya frustasi. Hilanglah UI dari perbendaharaan kataku. Pertanyaan konyol muncul: apa Tuhan sedang mempermainkan kita?

Bulan September pun datang. Sewaktu saya lulus di Ilmu Sejarah Unhas, saya bertanya kepada ayah, “Apa harus kuhentikan saja pendaftaran ke LIPIA?”, “Lanjutkan apa yang sudah kamu mulai..”, kata beliau ringkas. Saya yang sudah mengikuti satu hari masa perkenalan kampus di Universitas Hasanuddin dan sudah tercatat resmi sebagai mahasiswa, harus izin di pekan pertama kuliah untuk mengikuti tes masuk di kampus milik Pemerintah Arab Saudi yang terletak di dekat kantor pusat Republika itu, di Jakarta Selatan.

Saya pun terbang lagi ke Jakarta untuk mengikuti tes di LIPIA. Saya masih ingat sang pengawas ujian tulis itu adalah sang kepala maktabah LIPIA. Soal dibagikan. Selesai dalam setengah jam. Setelah itu fahmul masmu’, yang membacakan narasinya adalah sang pengawas yang asli Arab itu. Tes hari itu selesai dan pengumuman akan diumumkan pekan depan. Saya yakin menjawab benar 90% dari soal yang diberikan. Namun, hari pengumuman tiba, saya-lagi dan lagi- tidak lulus! Sungguh berita yang mengecewakan, pikirku saat itu.

Di saat itu sempat saya memasuki perpustakaan LIPIA yang besar itu. Sambil berjalan, seorang kawan yang juga mahasiswa LIPIA senior di sana menasehatiku, “Mungkin Allah sudah menakdirkan kamu jadi sejarawan. Segeralah pulang ke Unhas. Belajarlah yang keras.” Nasehatnya itu akan selalu kuingat sebagai penyemangat di waktu-waktu selanjutnya. Pada 9 September 2012, saya pulang ke Makassar. Tidak lupa membawa semua barang yang belum sempat kubawa ketika pulang Desember tahun lalu, terutama buku-bukuku.

Hari selanjutnya adalah saya kini. Tenggelam dalam rutinitas akademik yang sangat periodikal, membosankan, tetapi sangat menarik bagiku. Dosenku adalah dosen-dosen luar biasa di bidang mereka dan tentu saja mata kuliah yang kuambil adalah yang selama ini hanya ada dalam mimpiku sewaktu masih menjadi seorang mahasiswa teknologi kelautan. Semester ini saya mengambil mata kuliah -sebagaimana mahasiswa tahun pertama- yang mengandung kata an introduction semua: pengantar sejarah Asia, Eropa, Indonesia, serta Ilmu Sejarah dan Filsafat. Saya sekarang adalah seorang mahasiswa sejarah, tahun pertama!

Kalau saya pikir-pikir, saya sering tersenyum membayangkan perjalanan dua tahun ini. Dari sebuah pesantren bernuansa NU, saya kabur dan melenggang ke sekolah negeri, setelahnya kuliah di universitas bergengsi seperti IPB, keluar dari sana, mendaftar ke UI dan LIPIA dan sekonyong-konyong kenyataan menyadarkanku: saya sekarang adalah seorang mahasiswa sejarah di sebuah kampus yang letaknya tidak lebih dari 30 kilometer dari rumah ayah dan ibuku tinggal. Betapa misteriusnya nasib dan takdir itu ya? Dulu sewaktu SMA saya yang menggembosi teman-teman dan adik kelas untuk merantau kuliah ke Jawa. Dulu ketika sedang menyimak kuliah dari dosen yang berpuluh tahun bergelut dengan buku dan riset tentang laut dan biotanya, saya sering bermimpi sang dosen sedang menjelaskan sebab utama Lehman Brothers bangkrut dan kenapa Eropa belum sembuh dari krisis, dan sekarang, saya, ada di sini, di Kampus Merah.

Sungguh ajaib Tuhan menciptakan berupa-rupa pengalaman untuk dialami manusia. Saya membaca novel pertamaku, Laskar Pelangi (itu sudah cukup jadi bukti bahwa saya ini pembaca novel yang baru) pada usia 15 tahun, adalah pengalaman yang menggetarkan ketika semua kejadian dua tahun itu kurangkai kembali dan kubaca kembali novel itu sebagai seorang dewasa berumur 20 tahun. Saya takjub bagaimana Tuhan mengatur begitu banyak hal yang terjadi, termasuk fragmen pengalaman manusia dan bagaimana peristiwa kecil dalam hidup manusia bisa memberikan perubahan besar dan kesyukuran besar kepada Tuhan.

Jika saya mau jujur, tetralogi Laskar Pelangi (Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov) adalah novel-novel yang telah menemani masa remajaku, termasuk masa ketika bersemangat meledak-ledak mengejar mimpi, menjalaninya, menyusun mimpi baru, menerima kenyataannya, dan begitu seterusnya. Saya bersyukur bisa mengalami hal-hal itu.

Pernah saya dengar gosip di kalangan teman-teman lama bahwa Muhammad Ihsan Harahap is not a dreamer anymore! Saya hanya mau bilang mereka adalah orang-orang yang innocent, dan orang-orang itu tidak boleh dipersalahkan. Me, My Self, is still a truly dreamer, saya masih pemimpi sebenarnya. Bahkan sepertinya saya kini sepertinya adalah orang paling bahagia. Sangat cinta pada bidang saya kini.

Saya datang ke kelas dengan hati yang riang gembira. Semua kuliah kuikuti dengan penuh antusias. Buku-bukuku bertambah signifikan dan bertambah pula perspektif dalam membacanya. Saya sengaja tinggal di asrama universitas supaya bisa fokus belajar dan gila-gilaan membaca tanpa gangguan. Jika tidak ada kuliah siang, sengaja saya naik ke lantai teratas asrama yang sepi itu, sambil membawa buku dan teh atau kopi panas. Jika siang yang kubaca adalah buku-buku yang berhubungan dengan bidangku, sejarah, dan jika menjelang sore aku membaca buku yang ringan-ringan saja semisal otobiografi dan tulisan ringan. Otobiografi yang menarik hatiku hari-hari ini adalah otobiografi yang ditulis sendiri oleh Mohammad Hatta, sang proklamator kita, tebalnya sekitar 800 halaman. Jika rasa malas menyerangku, segera kubuka buku itu, di halaman dimana Hatta kuliah sarjana di Belanda dan perjuangan kemerdekaannya yang berat sewaktu masih seumuran denganku kini. Betapa nikmatnya kurasa hidup yang seperti ini, hidup dengan apa yang kita cintai.

Berhubung dengan tema mimpi ini, saya pun kembali merumuskan resolusi jangka panjang untuk karir intelektualku. Saya harus menamatkan kuliah sarjana ini dengan secepat mungkin, dan tentu saja harus bisa dengan lancar berbahasa Belanda. Setelah itu besar keinginanku untuk menempatkan tiga tempatku untuk belajar nanti. Kita masih bisa bermimpi, bukan?

Setelah lulus sarjana, saya ingin langsung kuliah di Sciences Po, Paris (artikel ini sudah diedit :P). Jika itu tidak tercapai aku ingin kuliah sejarah di tempat dimana para kolonialis dididik untuk menjajah bangsa kita sampai karatan, tempat dimana Rembrandt melahirkan nightwatch, masterpiece-nya, tempat itu tiada lain Universiteit Leiden, yang berdiri sejak hampir 500 tahun lalu. Mengapa Leiden? Karena Leiden adalah pusat ilmu pengetahuan tentang Indonesia, terutama sejarah. Jika gagal ke Leiden, maka prioritasku yang ketiga adalah ke Sorbonne, tentu saja untuk belajar sejarah. Sorbonne terkenal dimana-mana, bukan hanya karena usianya yang sudah 800 tahun namun juga karena ilmuwan-ilmuwan muslim banyak tumbuh dari sini, mulai dari para pejuang yang masih lurus sampai mereka yang sekular, semuanya pernah mencicip bangku yang juga pernah dicicip Voltaire dan Descartes di sini.

Tentunya akan banyak kejadian dan rintangan dalam mencapai mimpi ini. Tapi kita tidak boleh berhenti bermimpi dan menghadapi kenyataan.
Teruslah bermimpi dan terutama berani mewujudkannya, kata Danang Ambar Prabowo. Ya, harus terus bermimpi dan berani mewujudkan mimpi-mimpi kita.

Hasta la victoria siempre!!

Kota Daeng, setelah hujan yang menyejukkan,
20 November 2012

Advertisements

6 thoughts on “I Have a Dream!

  1. novaliantika says:

    makasih ya, sudah menginspirasi saya untuk terus bermimpi.. see u on the top! ^^
    eniwei, ini kk sy banget.. dia S1 sejarah peradaban islam UIN, trus magister sejarah UI.. dan sekarang beliau ngajar, nulis, dan jadi peneliti.. seru nampaknya ๐Ÿ™‚

  2. …”Saya datang ke kelas dengan hati yang riang gembira. Semua kuliah kuikuti dengan penuh antusias. Buku-bukuku bertambah signifikan dan bertambah pula perspektif dalam membacanya. Saya sengaja tinggal di asrama universitas supaya bisa fokus belajar dan gila-gilaan membaca tanpa gangguan. Jika tidak ada kuliah siang, sengaja saya naik ke lantai teratas asrama yang sepi itu, sambil membawa buku dan teh atau kopi panas. Jika siang yang kubaca adalah buku-buku yang berhubungan dengan bidangku, sejarah, dan jika menjelang sore aku membaca buku yang ringan-ringan saja semisal otobiografi dan tulisan ringan.”.. ๐Ÿ˜€

    Saudaraku yang satu ini; andreanis, anis matta, sayid qutub, apa lagi? apa lagi?
    Saya iri loh (beneran), tapi bersyukur banget dgn kehidupan yang Alloh kasih untuk masing-masing kita. Saya sempat kehilangan mimpi (di semester berapa yak? kalo ga salah ya masa2 bangkit waktu tingkat-2) Ga berani bermimpi karena “immposible” dgn kondisi IPK yang minta ampuuuuunn. Haha.

    Kalo buka blog-mu, San. Saya lucu aja sama keunikan cara kita menyampaikan perjalanan hidup dgn cukup singkat (kalo full, bakal jadi 1 buku mirip bantal ya) Gaya bahasa yang beda, tapi sama-sama punya makna kuat; “Perjalanan hidup istimewa setiap manusia” ๐Ÿ˜€

    Hasta la victoria siempre!!
    ** kalo saya, sebelum ke eropa atau negara manapun, saya pengen pegang ka’bah dulu, San. Berdoa banyak-banyak, taubat banyak-banyak. Duh, rindunya saya.. insyaAlloh.. insyaAlloh.. saling mendoakan ya. Bismillah ๐Ÿ™‚

  3. Saya juga sangat senang membaca tulisan-tulisan ANDA. Aku serius, enelan loh ๐Ÿ˜€
    Makkah punya tempat tersendiri di dalam hatiku, perlu halaman sendiri untuk menuliskannya nanti, insya Allah.

    Saya yakin -ini saya loh, bukan diri anda sendiri- insya Allah jika terus belajar yang keras kamu akan jadi penulis besar. Percaya ๐Ÿ˜€

  4. Dayat says:

    Mkasih san brkat mhu, skrg khu mnjadi org yg mmpunyai mimpi dan jujur iri kha sma prjalanan hdup mhu san, beh sya tdk tau mhe bgaiman mhe gaya khu andaikan sya brada di posisi muh dlu……!

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: