Pelari

Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari. Para kuli ngambat adalah pelari. Ikan hiu dan pari yang panjangnya sering sampai dua meter akan mengayun bamboo pikulan seperti goyangan penyanyi dangdut dan daya tending ayunannya hanya bisa distabilkan dengan memikul ikan-ikan panjang itu sambil berlari. Tak susah bagiku untuk terpilih jadi sprinter SMA Negeri Bukan Main.

Aku berlari berangkat sekolah. Amboi, aku senang sekali berlari menerobos hujan, seperti selendang menembus tirai air berlapis-lapis. Aku tak pernah kelelahan berlari. Tubuhku ringan, kecil, dan ramping, dengan rambut ikal panjang dan kancing baju yang sering tak lengkap, jika berlari aku merasa seperti orang Indian, aku merasa menjadi layangan kertas kajang berwarna-warni,aku merasa seumpama benda seni yang meluncur deras menerabas angin.

Aku selalu berlari pulang sekolah tapi siang ini, di depan restoran mi rebus, langkahku terhenti. Aku terkejut melihat tiga orang di dalam restoran: aku sendiri, Arai, dan Jimbron tengah membereskan puluhan piring kotor yang berserakan di atas meja. Aku berlari lagi, memandangi tiga orang yang kukenal itu sampai jauh.

Aku kembali terhenti melihat tiga mobil omprengan reyot di depan kantor syahbandar. Tiga orang kernetnya Arai, Jimbron, dan aku sendiri termangu-mangu menunggu penumpang ke Tanjong Pandan. Aku ketakutan menyaksikan orang lain telah menjelma menjadi diriku. AKu kabur pontang-panting, Sampai di los kontrakan aku kehabisan napas. Dan nun disana, di Semenanjung Ayah, aku merinding melihat Arai, Jimbron, dan aku sendiri berpakaian compang-camping, memikul karung buah kweni.

Berhari-hari aku memikirkan kejadian aneh itu. Dan siang ini aku menemukan jawabannya. Karena siang ini aku berhasil membongkar suatu rahasia. Sekarang aku mengerti mengapa hukum membolehkan orang berusia delapan belas tahun ke atas menimbuni dirinya dengan berupa-rupa keborokan, sebab pada usia itu manusia sudah bisa bersikap realistis. Itulah rahasia yang kutemukan. Ajaib, bagaimana manusia meningkat dari satu situasi moral ke situasi moral lainnya. Hari ini sayap-sayap kecil tumbuh di badan ulat kepompong, aku bermetamorfosis dari remaja ke dewasa. Aku dipaksa oleh kekuatan alam untuk melompati garis dari menggantungkan diri menjadi mandiri. AKu dipaksa belajar bertanggung jawab pada diriku sendiri. Satu lapisan tipis seolah tersingkap di mataku membuka tabir filosofis yang pasti menjadi orang dewasa yaitu: hidup menjadi semakin tak mudah.

Aku sendiri, Jimron, dan Arai yang kusaksikan membersihkan meja di restoran, menjadi kernet, dan pedagang kweni tak lain adalah manifestasi dari sikapku yang telah bisa realistis; karena usiaku telah menginjak delapan belas. Kini aku sadar setelah menamatkan SMA nasibku akan sama dengan nasib kedua sahabatku waktu SMP; Lintang dan Mahar. Lintang yang cerdas malah tak sempat menyelesaikan SMP. Sungguh tak adil dunia ini; seorang siswa garda depan sekaligus pelari gesit berambut ikal mayang akan berakhir sebagai tukang cuci piring di restoran mi rebus.

Berada dalam pergaulan remaja Melayu yang seharian membanting tulang, mendengar pandangan mereka tentang masa depan, dan melihat bagaimana mereka satu persatu berakhir, lambat laun memengaruhiku untuk menilai situasiku secara realistis. Namun, tak pernah kusadari sikap realistis sesungguhnya mengandung bahaya sebab ia memiliki hubungan linear dengan perasaan pesimis. Realistis tak lain adalah pedal rem yang sering menghambat harapan orang.

Sekarang, setiap kali Pak Balia membuai kami dengan puisi-puisi indah Prancis aku hanya menunduk, menghitunng hari yang tersisa untuk memikul ikan dan menabung. Dan sampai di los kontrakan, melongok ke dalam kaleng celenganku yang penuh, penuh oleh uang receh, darah masa mudaku yang berapi-api perlahan padam.Aku sangat Mafhum, bahwa tabunganku itu tak akan pernah mampu membawaku keluar dari pulau kecil Belitong yang bau karat ini. Bagi kami, harapan sekolah ke Prancis tak ubahnya pungguk merindukan dipeluk purnama. serupa kodok ingin dicium putri agar berubah jadi pangeran. Altar suci almamater Sorbonne, menjelajah Eropa sampai ke Afrika, hanyalah muslihat untuk menipu tubuh yang kelelahan agar tegar bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan. Kami tak lebih dari orang yang menggadaikan seluruh kesenangan masa muda pada kehidupan dermaga yang keras, hidup tanpa pilihan dan belas kasihan.

Kini aku telah menjadi pribadi yang pesimistis. Malas belajar. Berangkat dan pulang sekolah lariku tak lagi deras. Hawa positif dalam tubuhku menguap dibawa hasutan-hasutan pragmatis. Untuk apa aku memecahkan kepalaku mempelajari teorema binomial untuk mengukur bilangan tak berhingga jika yang tak berhingga bagiku adalah kemungkinan tak mampu melanjutkan sekolah setelah SMA, jika yang akan kuukur nanti hanya jumlah ikan yang telah kupikul agar mendapat beberapa perak uang receh dari nakhoda. Buat apa aku bersitegang urat leher berdebat di kelas soal geometri ruang Euclidian yang rumit,j ika yang tersisa untukku hanya sebuah ruang los sempit 2 x 2 meter di dermaga. Pepatahku sekarang adalah pepatah konyol kuli-kuli Meksiko yang patah arang dengan nasib: ceritakan mimpimu, agar Tuhan bisa tertawa.

Tapi sebaliknya, demi Tuhan, sahabatku Jimbron memang makhluk yang luar biasa. Meski peningkatan prestasinya amat mengesankan—ia baru saja mempersembahkan tempat duduk nomor 128 pada Pendeta Geo dari nomor kursi 78 semester sebelumnya—tapi ia sangat optimis.

Sore ini ia sudah berdiri tegak di dermaga menunggu kapan barang. Minggu lalu ia memesan sesuatu pada mualim kapal, sahabatnya.

“Pak Cik, tolong belikan aku celengan kuda di Jakarta .”

Jimbron menjadi sahabat mualim karena telah membantunya menyetrika tatonya. Setelah tua dan ingin salat sang mualim baru menyadari ketololan masa mudanya menato tubuhnya.

”Dua buah, Pak Cik, dua buah…”

”Tak cukup hanya satu, Bron??”

”Dua, Pak Cik, kalau bisa yang berwarna putih dan hitam.”

Sudah tahu kesintingannnya akan kuda, mualim itu tak lagi bertanya mengapa satu celengan kuda saja tak cukup. Satu celengan kuda adalah apa yang kita sebut normal, adapun dua celengan kuda kita sebut obsesif kompulsif. Abnormalitas adalah isu yang pas untuk Jimbron. Dan hari ini ia senang tak terperi karena celengan sebesar anak kambing itu datang. ”Celengan untuk melanjutkan sekolah!!” pekiknya bersemangat. Kami mengamati kuda dari tanah liat dalam gendongannya. Tak berminat membahasnya, tapi Jimbron sudah seperti orang kebelet pipis, tak kuat menahan cerita kudanya.

”Ah, ini hanya kuda-kuda lokal saja, Kawan, tapi cantik juga bukan…???”

Seakan kami bertanya, seakan kami peduli, seakan kami sangat tertarik.

”Yang ini jelas kuda Sumbawa… dan yang putih ini, kalau kutengok hidungnya, ah, ini ku.. kuda sandel saja, populasinya banyak di Jawa Barat, biasa dipakai untuk hiburan delman keliling kota .. ”

Bangga suaranya, senang hatinya, dan cerah wajahnya. Ia melenggang, memindahkan tabungannya dari bawah kasur dan membaginya rata dua bagian. Masing-masing bagian itu dimasukkan ke dalam kuda hitam dan kuda putih. Nanti setiap ia mendapat upah dari nakhoda, dibaginya dua dengan rata dan dimasukkannya ke dalam kedua celengan kuda itu.Kami hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

”Meskipun kaupenuhi celengan sebesar kuda sungguhan, sahabatku Jimbron, tak’kan pernah uang-uang receh itu mampu membiayaimu sekolah Perancis…, demikian kata hatiku.Dan dengarlah itu, Kawan. Siratan kalimat sinis dari orang yang pesimis. Sungguh berbisa sengatan sikap pesimis. Ia adalah hantu yang beracun. Sikap itu mengekstrapolasi sebuag kurva yang turun ke bawah dan akan terus turun ke bawah dan telah membuatku menjadi pribadi yang gelap dan picik. Seyogyanya sikap buruk yang berbuah keburukan: pesimistis menimbulkan sinis, lalu iri, lalu dengki, lalu mungkin fitnah. Dan dengarlah ini, Kawan, akibatnya nyata sikap buruk itu.

”Tujuh puluh lima !! Sekali lagi 75 !! Itulah nomor kursi ayahmu sekarang…”

Aku dipanggil Pak Mustar. Dengan gaya orang Melayu tulen aku disemprotnya habis-habisan,”

Hanya tinggal satu semester lagi tamat SMA, memalukan!! Memalukan bukan buatan!!”

”Keterlaluan!! Orang sepertimu patut dibuat sekandang dengan Malin Kundang, Itulah orang sepertimu, kalau kau ingin tahu!! Sangkamu kau siapa?? Pythagoras apa? Di SMA yang ketat bersaing ini kau pikir bisa menjaga kursimu dengan belajar sekehendak hatimu!!??”
Suaranya berat penuh sesal. Ia memang garang tapi semua orang tahu bahwa sesungguhnya ia penuh perhatian, hanya caranya saja yang keras.

”Kini kau terdepak jauh dari garda depan??”

Ia menatapku geram. Marah, tak habis mengerti, ada satu kilatan kecewa, kecewa yang sakit jauh di dalam hatinya. Ia memandang jauh keluar jendela. Diam. Lalu ia berbalik menatapku, suaranya tertahan, ”Tahukkah kau, Bujang?? Sepanjang waktu aku bermimpi anakku duduk di kursi garda depan itu…”

Aku terharu melihat mata Pak Mustar berkaca-kaca.

”Kini ia sekolah di Tanjong Pandan, di SMA yang monyet pun jika mendaftar akan diterima!! Dan kau, kausia-siakan kehormatan garda depan itu!!?? Mengapa kau berhenti bercita-cita, Bujang? Pahamkah engkau, berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia!!”

Aku menunduk diam menekuri kata-kata yang amat dalam maknanya. Kata-kata itu menusuk-nusuk pori-poriku.

”Surat undangan sudah kuposkan pada ayahmu, dapat kau bayangkan perasaan beliau sekarang??”

Dan ketika nama ayahku disebut. Aku sontak sadar, sikap pesimis telah mengkhianatiku bulat-bulat. Aku kecewa, kecewa yang sakit jauh di dalam hatiku.

”Aku berani bertaruh, ayahmu tak’kan sudi datang.”

Aku menciut lemas ditikam perasaan bersalah.

”Wan prestasi!! Cidera janji!! Anak yang tak mampu memenuhi harapan orangtua!! Tak tahukah engkau, Bujang?? Tak ada yang lebih menyenangkan ayahmu selain menerima rapormu??”

Hatiku sakit,perih sekali.

”Kamulah harapan beliau satu-satunya, Ikal.”

Seluruh air yang ada dalam tubuhku naik ke kepalaku.

”Ah, ayahmu, Ikal, diundang pelantikan bupati pun baju safarinya tak beliau keluarkan. Hanya untukmu Ikal, yang terbaik dari beliau selalu hanya untukmu…”

Air itu tumpah ruah berlinangan melalui mataku. Malam turun di Magai seperti hanya untukku. Kata-kata Pak Mustar laksana gelap yang mengikatku rapat-rapat, menyiksaku dalam detik demi detik yang amat lama seumpama pergantian musim. Akankah esok ayahku datang? Aku mengutuki diriku sendiri.

Tak sepicing pun aku dapat tidur. Aku terpuruk dalam sekali. Tak pernah aku mengalami malam yang tak kunjung berakhir seperti ini. Dalam situasi moral yang paling rendah, kenangan lama yang pedih seakan hidup kembali, menyerbuku tanpa ampun. Bayangan itu seperti film yang berputar-putar mengelilingiku, menari-nari seperti hantu. Aku melihat Arai—anak kecil yang menungguku di tengah ladang jagung, aku teringat perpisahan dengan sahabatku, Lintang yang menghancurkan hatiku, aku teringat nasib pilu seorang laki-laki bernama Bodenga, dan aku sadar betapa sejak kecil kami telah menjalani kehidupan yang keras demi pendidikan.

***********

Pagi-pagi sekali aku dan Arai telah menunggu ayahku dengan harapan yang amat tipis beliau akan datang, Dan kami maklum jika beliau enggan bersusah payah berangkat pagi buta mengayuh sepeda tiga puluh kilometer, melewati dua bukit dan padang, hanya untuk dipermalukan.

Sejak mengetahui aku terdepak dari garda depan karena kepicikanku sendiri. Arai sudah malas bicara denganku. Aku gelisah menyaksikan para orangtua murid berduyun-duyun menuju aula. Mataku lekat memandangi jalan di luar gerbang sekolah. Ayahku tak kunjung tiba. Arai menatapku benci.

Hatiku hampa.

Tapi tiba-tiba mataku silau melihat kap lampu aluminium putih dari sepeda yang dikayuh seorang pria berbaju safari empat saku. Ia mengayuh sepedanya kelelahan, terseok-seok, dan semakin cepat ketika melihat kami. Berhenti di depan kami, pria itu menyeka keringatnya. Aku tertegun dan dadaku sesal melihat lipatan mengilap, serta kumis dan rambutnya yang dicukur rapi. Beliau akan duduk di kursi nomor 75 namun beliau tetap cuti dua hari, dan tetap melakukan prosedur yang sama, dengan suasana hati yang sama, untuk mengambil raporku. Harum daun pandan dari baju safari ayahku membuat air mataku mengalir. Meskipun akan kupermalukan, ibuku tetap merendam daun pandan sehari semalam untuk menyetrika baju safari ayahku. Dan ayahku dengan senang hati datang jauh-jauh mengambil raporku dengan bajunya yang terbaik, dengan bajunya yang paling wangi. Aku tak mampu bicara ketika beliau menyapa kami dengan salam pelan “Assalamu’alaikum ” tersenyum, dan menepuk-nepuk pundak kami dengan bangga, persis sama seperti kebiasannya selalu.

Membayangkan apa yang dialami ayahku di dalam aula, kurasakan seakan langit mengutukku dan bangunan sekolah rubuh menimpaku. Tak lagi kudengar tepuk tangan ketika nama ayahku dipanggil untuk mengambil raporku. Yang kudengar hanya orang kasak-kusuk bertanya mengapa prestasi sekolahku sampai anjlok begitu. Bagaimana ayahku yang pendiam akan menjawab berondongan pertanyaan yang hanya akan menyakiti hatinya? Aku terpuruk dalam penyesalan. Betapa aku ini anak tak berguna!! Betapa sampai hati pada ayahku.

Sungguh berat detik demi detik kulalui menunggu ayahku keluar dari aula. Dan akhirnya,beliau meninggalkan aula. Langkahnya tetap tenang seperti dulu aku masih berprestasi. Beliau menghampiri kami dan tersenyum. Senyum itu adalah senyum kebanggaan khas beliau yang tak sedikit pun luntur, persis seperti dulu ketik aku masih di garda depan. Ketika beliau menatap kami satu per satu, masih jelas kesan bahwa apa pun yang terjadi, bagaimanapun keadaan kami, kami tetaplah pahlawan baginya. Beliau senantiasa menerima apapun adanya kami. Aku tertunduk diam, hatiku hancur dan air mataku kembali mengalir. Seperti kebiasaannya, beliau menepuk-nepuk lembut pundak kami dan mengucapkan sepatah salam dengan pelan. Aku tersedu sedan melihat ayahku menaiki sepedanya dan tertatih-tatih mengayuhnya meninggalkanku.

Dadaku ingin meledak memandangi punggung ayahku perlahan-lahan meninggalkan halam an sekolah.

”Puaskah kau sekarang ?? “Arai menumpahkan kemarahannya padaku.

Aku membelakanginya.

”Itukah maumu? Melukai hatinya??”

Aku masih membelakangi Arai karena aku tak ingin melihat pipiku telah basah.

“Apa yang terjadi denganmu, Ikal ? Mengapa jadi begini sekolahmu ? Ke mana semangat itu? Mimpi-mimpi itu?”

Arai geram sekali. Ia tak habis mengerti padaku.

“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi,
dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!”

Aku tersentak dan terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentakan-bentakan Arai berdesingan dalam telingaku, membakar hatiku.

’Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…”

Aku merasa beku, serasa disiram seember air es.

”Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli, tapi di sini Kal, di sekolah ini, kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!”

Mendahului nasib! Dua kata yang menjawab kekeliruanku memaknai arah hidupku. Pesimistis tak lebih dari sikap takabur mendahului nasib.

”Kita lakukan yang terbaik di sini! Dan kita akan berkelana menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Kita akan sekolah ke Prancis! Kita akan menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne! Apa pun yang terjadi!”

Arai berteriak. Suaranya lantang memenuhi lapangan luas sekolah kami, menerobos ruang-ruang gelap kepicikan dalam kepalaku. Kata-Katanya itu seperti sumbu aki yang mencharge baterai dalam tubuhku.

Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang selalu diam, tak pernah menuntut apa pun. Aku bergetar. Kupandangi jalan lurus di depanku, berpuluh-puluh kilometer menuju kampungku. Aku ingin menyusul ayahku dan aku mulai berlari. Aku melintasi halaman-halaman sekolah, kompleks perkantoran, dan pasar. Aku berlari melalui kampung-kampung kecil sampai keluar Magai, tapi aku tak melihat ayahku. Beliau jauh di depan. Matahari sudah condong, aku berlari di atas aspal yang panas, aku maraton tak berhenti. Aku menolak ajakan kendaraan-kendaraan yang melewatiku. Aku kelelahan tapi aku akan berlari dan terus berlari sampai kujumpai ayahku. Kini aku sampai di jalan panjang yang tampak seperti garis hitam membelah padang sabana yang luas. Semak belukar meliuk-liuk keemasan disirami cahaya matahari, bergulung-gulung diaduk angin yang terlepas bebas. Di sana, di ujung garis yang sunyi itu kulihat satu noktah, ayahku ! Aku berlari semakin kencang seperti layangan kertas kajang berwarni-warni, seperti orang Indian, Aku berlari sampai perih kaki-kakiku, Aku berhasil menyusul ayahku ketika beliau sudah berada di tengah jembatan Lenggang. Saat aku berlari di samping sepedanya, ayahku terkejut dan tersenyum, Sebuah senyum lembut penuh kebanggaan.

”Ikal…,” katanya.

Kuambil alih mengayuh sepedanya, beliau duduk di belakang. Tangan kulinya yang kasar dan tua memeluk pinggangku. Ayahku yang pendiam: ayah juara satu seluruh dunia. Matahari sore yang hangat bercampur dengan angin yang dingin, membelai-belai kami melalui jembatan kayu. Di bawah kami sungai purba Lenggang mengalir pelan. Gelap dan dalam. Hulunya menyimpan sejarah pilu orang-orang miskin Melayu,anak-anak sungainya adalah misteri yang mengandung tenaga mistis, dan riak-riaknya yang berkecipung siang dan malam adalah nyanyian sunyi rasa sayangku yang tak bertepi untuk ayahku.***

Dikutip dari novel Sang Pemimpi, karya Andrea Hirata.

Advertisements

2 thoughts on “Pelari

  1. novaliantika says:

    selamat berlari ke puncak tertinggi.. 🙂
    anw, apa kabar?

    • Thanks kak Tika.

      Ya, baik-baik saja kabarku, kak. Hidup seperti biasa. Kadang ada rencana yang tertunda, kadang ada hal yang menyenangkan yang datang tanpa disangka. Kalau kakak?

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: