Aku rindu padamu, sahabatku

Tahukah kamu?
Semalam tadi, aku menangis
Mengingatmu, mengenangmu

Saya selalu mengenang seorang sahabat, seperti ilmu di kitab-kitab yang saya belum menyelesaikan dalam membacanya: jika ia hilang atau jauh, saya akan mencarinya atau paling tidak saya merindukan dan mengenang kebaikan-kebaikan yang ada padanya.

Dan, pertemuan dengan banyak sahabat ini, ternyata termasuk dalam pencarian batin masa remaja saya, yang sesungguhnya mencabik-cabik perasaan di hati saya sampai sekarang. Karena saya amat mencintai ilmu dan terutama karena sahabat-sahabat itu memberikan banyak pelajaran dan hikmah, jadi sepertinya saya harus segera mencatat biodata diri mereka masing-masing karena kebiasaan pelupa pada diri saya, yaitu pada nama. Sehingga sering saya bertemu orang di jalan, bertegur sapa, tapi bahkan saya tidak tahu apa nama depan orang itu. Kini, saya dilanda rindu teramat rindu pada orang-orang yang telah hilang satu persatu itu.

Dulu, ada sebuah peristiwa tidak lumrah di masa remaja saya yang sewaktu-waktu bisa terjadi kembali, jika saya teringat pada orang yang memberikan banyak pembelajaran hidup kepada saya, misalnya sahabat-sahabat saya tadi. Saya bersyukur kepada Allah SWT karena diberikan banyak kesempatan dan dipertemukan dengan orang-orang yang mempunyai kisah yang ‘tragis’ namun sarat hikmah di dalam perjalanan hidupnya. Sebuah kesyukuran yang sangat ketika saya memikirkan beruntung sekali dipertemukan dengan “guru-guru” kehidupan itu. Dan di usia yang tidak lagi remaja, pikir saya, yaitu 19 tahun, peristiwa tidak lumrah yang dulu sering terjadi, kini kembali terulang.

Belakangan kutahu dari novel Andrea Hirata bahwa orang-orang menyebutnya early morning blue. Ini adalah sebuah peristiwa dimana anda bangun tiba-tiba dan tanpa sebab di dini hari, dan kemudian merasa sedih sekali atau bahkan menangis tanpa sebab yang jelas. Dan ketika anda pernah merasakan hal yang seperti ini, lalu anda kehilangannnya, maka anda akan merasa sangat rindu dilanda perasaan seperti early morning blue. Dan, pagi tadi, hal ini terulang lagi pada saya. Saya menangis tiba-tiba di dini hari tadi, karena teringat dengan seorang sahabat masa kecil saya.

Namanya Ahmad (ini nama samaran). Beliau adalah seorang murid sebuah Madrasah Aliyah, dimana beliau lebih tua satu tahun dari saya. Beliau tinggal di sebuah Panti Asuhan yang ada di daerah saya. Tapi karena tempat ini berdekatan dengan SMP saya dulu, maka sewaktu SMP saya sering main ke tempat ini dan pertama kali mengkaji kitab kuning (seingat saya Bulughul Maraam) di tempat ini, dan setiap beberapa waktu belajar rutin bahasa Arab di sana bersama guru bahasa Arab saya sewaktu SMP.

Tapi yang menarik dari semua itu adalah karena saya merasa hubungan pertemanan saya dengan Ahmad semakin baik, dan beliau merasa nyaman juga. Sehingga, beliau banyak bercerita tentang kondisi beliau yang sebenarnya. Akhirnya kuketahui banyak hal, yang sebenarnya mengiris-iris hati saya sebagai seorang saudara.

Beliau pertama kali datang ke Sulawesi pada waktu masih SMP. Dan beliau datang bersama kakeknya, kemudian dititipkan di sebuah pesantren di daerah Bugis (sebelah utara Makassar) dan akhirnya kakek beliau pulang ke rumahnya, yaitu di Flores, NTT. Maka belajarlah Ahmad seorang diri di pesantren itu, tanpa bantuan finansial yang memadai. Sampai kemudian beliau lulus dan berhijrah ke Limbung (daerah saya), dan akhirnya dengan berbagai lobi bisa tinggal di sebuah Panti Asuhan di dekat SMP saya dulu. Di sanalah saya pertama kali kenal dengan Ahmad.

Suatu hari, di mushalla SMP saya, sehabis sebuah pengajian dari organisasi pelajar, beliau ‘curhat’ kepada saya tentang kondisinya saat ini. Beliau memulainya dengan mengatakan: “Saya akan mengatakan ini, bukan untuk meminta kasihan padamu. Hanya sebagai seorang sahabat, supaya saling menguatkan.” Dan kuiyakan bahwa saya akan mendengarkannya sampai selesai.

Berceritalah Ahmad tentang kerinduannya yang amat mendalam pada kampong halamannya, terutama tentang ibunya yang telah lama berpisah darinya. Ternyata Ahmad baru saja pulang dari Flores, dan bertemu dengan ayah dan adiknya.

Setelah kabar kepulangan itu, beliau bercerita bahwa beliau sudah 10 tahun tidak bertemu dengan ibunya yang asli. Itu terjadi karena pada saat beliau masih kecil, ayahnya menceraikan ibunya, kemudian sang Ibu pergi ke pulau di seberang Flores yang letaknya 30 menit dari sana. Maka ketika Ahmad baru saja pulang dari Sulawesi ke Flores dalam rangka bertemu ayah dan adiknya, Ahmad pun memberanikan diri untuk mencari dan bertemu ibunya. Kebetulan di pulau tempat ibunya berpindah mukim, Ahmad mempunyai seorang teman juga di sana. Maka berangkatlah Ahmad ke pulau itu, sampai ke rumah sahabatnya yang di depannya ada lapangan sepakbola dan kebetulan juga sedang diadakan kompetisi bola antar kampong di pulau itu.

Sewaktu Ahmad dan kawannya ini berjalan untuk melihat-lihat pertandingan sepakbola itu, Ahmad melihat seorang Ibu yang mengasong minuman di dekat lapangan itu, dan Ahmad kemudian bertanya kepada temannya dengan penuh harap, siapa ibu itu? Berharap bahwa ibu ini adalah ibunya yang beliau kenal dulu, karena garis wajahnya masih Ahmad ingat dan ibu pengasong ini mirip dengan ibu yang meninggalkannya dulu. Temannya ini hanya menatap Ahmad dengan tatapan kosong, cukup lama, tetapi kemudian berkata “Mungkin itu cuma ibu-ibu penjual biasa.”

Selesai beberapa hari di sana dan Ahmad ingin pulang kembali ke Flores. Sesampai di tempat penyeberangan, sang teman inipun mengatakan bahwa ibu yang kemarin mengasong minuman itu adalah ibunya Ahmad. Maka Ahmad pun marah kepada sang teman dan menanyakan kenapa tidak bilang bahwa itu ibunya? Tapi kemudian sang teman pun berkata tidak bisa memberitahukannya waktu itu juga karena ibunya telah membuat sebuah keputusan yang merombak total seluruh perjalanan hidupnya. Kemudian Ahmad bertanya, ada apa? Dan sang teman mengatakan bahwa ibunya Ahmad telah berpindah agama karena ajakan kelompok misionaris yang ada di daerah itu.

Maka, tangis Ahmad yang pecah saat itu, di musholla SMP saya, masih terbekas di dalam benak saya sampai hari ini. Saya berpikir bagaimana mungkin seorang ibu rela untuk tidak mengetahui kondisi anaknya sekarang? Tapi itu tidak lagi penting. Saya hanya kasihan kepada Ahmad yang harus menanggung perasaan batin berupa rindu yang mengguncang-guncang hatinya.

Kini, sudah kurang lebih tiga tahun saya tidak berjumpa lagi dengan Ahmad. Dulu, sewaktu terakhir ketemu, saya menitipkan sebuah buku dari Tarbawi tentang pentingnya menjernihkan hati untuk ketenangan dan ketegaran hidup, untuk Ahmad. Saya pun berpesan supaya Ahmad jangan menyerah dalam menghadapi tantangan-tantangan hidup yang ada, karena di setiap tantangan itu pasti ada hikmah kehidupan yang disimpan oleh Allah SWT dan akan diungkapkan pada waktunya.

Tapi dini hari tadi, tangis saya pecah karenanya. Early morning blue yang dulu sering terjadi, kini datang lagi. Tak lain penyebabnya karena Ahmad, saya rindu pada sahabatku yang satu itu. Maka kemarin, sekitar satu pekan yang lalu, saya kembali datang bersilaturahmi ke guru bahasa Arab saya dulu dan menyepakati untuk mengunjungi Panti Asuhan yang sering jadi tempat main kita dulu. Namun ternyata Ahmad tidak ada di Panti itu lagi. Dari cerita yang kudengar, Ahmad ternyata tidak menyelesaikan kuliahnya, cabut dari Panti itu, dan belakangan diketahui beliau kawin lari dengan seorang perempuan.

Mendengar itu, saya hanya beristighfar dalam hati, ingin rasanya saya menangis saat itu juga, tapi tertahan karena masih tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi pada sahabatku itu, Ahmad.

Tapi, apapun yang terjadi padamu, Ahmad, saya ingin kita tetap sahabat ya? Sebenarnya aku ingin sekali bertemu denganmu, guru bahasa Arab kita juga rindu padamu. Tapi kami kehilangan jejak kamu, semoga Allah SWT yang tidak pernah kehilangan jejakmu, selalu menjagamu, sahabatku.

Tahukah kamu?
Semalam tadi, aku menangis
Mengingatmu, mengenangmu

Bontokaddopepe, 19 Januari 2012
Muh. Ihsan Harahap

*nb: Terinspirasi menulis ini karena tulisan Ustadz Herry Nurdy di http://penerang.com/2010/10/11/rindu-pada-pemuda-shalih/

Advertisements
Tagged

17 thoughts on “Aku rindu padamu, sahabatku

  1. Abdullah Al Aziz says:

    Luar biasa akhi… Lanjutkan bakat menulis antum, isyaallah banyak orang akan terinspirasi…

  2. akhirnya kau bisa merasakannya

  3. Subhanallah inspiring banget akhi…

    Salam kenal
    Firmansyah Shidiq Wardhana

  4. hanz says:

    semua akan berjalan kearah yg lebih baik.

  5. praditalia says:

    Sedih banget, kenapa nasib ahmad begitu tragis, smoga km bs cepet ktemu sm ahmad y,trs ceritanya brubah jd happy ending #hope

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: