Kapan blog ini diisi lagi?

Ada yang bertanya: kapan blognya diisi lagi?

Saya jadi teringat dua tokoh penting dalam sejarah pembebasan umat manusia: Umar bin Khattab dan Mahatma Gandhi.

Umar bin Khattab
Ketika itu Perang Qadisiyah, perang antara umat Islam dan Imperium Sassania (Persia) yang dimenangkan oleh umat Islam. Segera setelah kemenangan menjadi pasti, seorang kurir melompat ke atas kuda dan menuju Arab untuk menyampaikan kabar baik itu. Mendekati Madinah, ia melewati seorang kakek di pinggir jalan, beberapa orang sederhana dengan pakaian bertambal-tambal, yang melompat berdiri dan bertanya kepada kurir itu apakah ia baru datang dari Qadisiyah.

“Ya,” kata si Kurir
“Jadi, apa beritanya? Apa  beritanya?” orangtua itu bertanya penuh semangat.

Tapi kurir itu mengatakan dia tidak bisa berhenti untuk terus mengobrol lalu terus melaju. Orangtua itu berlari menyusulnya, terus mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan. Ketika mereka melewati gerbang kota, kerumunan orang berkumpul. “Menyingkir dari jalanku!” teriak si kurir sok penting. “Saya harus segera menemui khalifah. Mana Khalifah Umar?”

Para penonton tertawa terbahak-bahak. “Itu dia tepat di belakang Anda.” Tidak ada kemegahan -itulah gaya Umar.

Mahatma Gandhi
Mahatma Ghandi memimpin perjuangan kemerdekaan India dengan kain tenunan bangsa sendiri atau terompah lokal yang tak bermerk. Namun setiap ia menoleh kekanan, maka 300 juta rakyat India menoleh ke kanan. Bila ia tidur di rel kereta api, maka 300 juta rakyat India akan ikut tidur disana. Bila ia minta bangsanya mendongakkan kepala dengan bangga, maka 300 juta bangsa India akan tegak, walaupun tulang punggung mereka tak kuat lagi berdiri karena lapar dan kurang gizi.

Kini datang “pemimpin” ummat, ingin mengatrol harga diri dan gengsi ummat dengan pameran mobil dan rumah mewah serta hidup di tengah gemerlap kehidupan selebritis. Saat fatwa digenderangkan, ummat tak lagi punya kemauan untuk mendengar. ‘Engkau adalah penyanyi bayaranku dengan uang yang kukumpulkan susah payah. Bila aku bosan aku bisa panggil penyanyi lain yang kicaunya lebih memenuhi seleraku?’

KH. Rahmat Abdullah, Kematian Hati

Kalau blog ini saya terus isi dengan hal yang belum maksimal saya kerjakan, saya khawatir akan ada perasaan yang banal atau hati yang mati. Dan Umar, serta Gandhi, melakukan apa yang mereka ingin katakan, sebelum mereka benar-benar menyampaikannya.

Bogor, 15 Desember 2011

Muh. Ihsan Harahap

 

nb: Kisah Umar diambil dari Dari Puncak Bagdad, karya Tamim Ansary.

Advertisements

5 thoughts on “Kapan blog ini diisi lagi?

  1. Ahmad Alkadri says:

    Kalau begitu, isilah dengan hal-hal ringan terlebih dahulu. Isilah dari hal-hal kecil, kebaikan-kebaikan sederhana yang biasa kamu lakukan sehari-hari. Semangat Ihsan, jangan pernah berhenti berjuang dan membangun. 😀

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: