Tentang Seorang Perempuan di Selat Sunda

Lokasi: Selat Sunda, di atas kapal feri
Waktu: Pukul 13.30-15.00 WIB

Pada 9 Oktober 2011

Saya mendapatinya jalan bolak-balik di depanku ketika sedang duduk sambil makan siang di lantai bagian samping kanan kapal bagian atas [complicated], di tempat terbuka (namanya ‘geladak’ ya?). Karena mendapati bagian luar orang ini berbeda dari manusia negeri ini kebanyakan, maka kusegerakan untuk menyelesaikan makan siang.

di sini terjadi penerjemahan-
“Hai, anda keliatan lagi bingung. Lagi nyari apa mbak?”, tanya saya.
“Nggak. Hehe..” jawab dia.
“Maaf ya mbak. Kalo boleh tau Mbak dari mana?”, tanya saya lagi.
“Dari Kanada.”, dia senyum.
“Oh.. Toronto, Montreal, maple leaf, yeah?”
“Haha.. Yes, that’s right. Namamu siapa mas?”
“Saya Ihsan, dari Takalar, Sulawesi Selatan, tapi sekarang sedang mengambil studi di IPB Bogor”
“Oh.. Bogor ya? Jakarta Province?”
“No no no.. West Java!”

Saya agak lupa nama beliau. Karena beliau menyebutkan namanya dengan logat Prancis. Seperti menyebut “Sorbonne” dengan “Sorbong”, “Grace” kedengaran seperti “Grasiong”. Tapi yang kuingat adalah saya memanggilnya “Grace”. Lucu dan masih cantik.

Beliau adalah seorang Kanada tulen dengan ibu asli Polandia. Beliau hijrah ke London dan menjadi subtitute teacher di sebuah sekolah setingkat pra-SMP sampai SMP (elementary) di London. Mengajar apa saja. Menggantikan guru yang tidak masuk alias izin dan beliau menyatakan menyukainya karena tidak perlu membuat report setelah mengajar. Nakal juga.

Waktu pertama kali melihatnya, kutaksir umurnya sekitar 22 tahun karena tampak luar dan kulitnya yang seperti itu. Tapi ternyata waktu kutanya: “Usiamu berapa, mbak?”, dan jawabannya: saya 38 tahun. Sambil nyengir kuda poni.

Dan terjadilah percakapan panjang sampai sejam setengah kemudian. Kuserang ia dengan bertubi-tubi pertanyaan.

Kutanyakan dimana kawannya yang lain dan akhirnya kuketahui bahwa beliau berjalan sendiri. Alone. Suka kesendirian, katanya. Dari percakapan itu terungkap bahwa beliau sudah menikah, namun berpisah (cerai) dengan suaminya, dan belum punya anak (karena tidak mau. Dasar Eropa!). Beliau telah mengunjungi ‘beberapa’ negara di dunia ini: Kanada, Polandia, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, Spanyol, Cina, Thailand, Vietnam dan Indonesia.

Karena mengetahui beliau sudah mengunjungi banyak negara itu -terutama karena Thailand dan Vietnam sudah dikunjunginya, maka kutanyakan satu pertanyaan untuk mengetesnya: “Orang Indonesia sebenarnya memiliki wajah yang sama dengan orang Thailand. Iya kan?”, dan kemudian beliau membantahnya dengan mengatakan sebagiannya sama namun wajah orang-orang Thailand lebih chinese. Maka kunyatakan kembali bahwa kalau begitu wajah orang-orang Vietnam yang paling mirip dengan wajah orang-orang Indonesia, dan beliau menyetujuinya namun menambahkan catatan khusus untuk wajah orang Indonesia. Dan jawaban ini akan selalu saya kenang dari pertemuan itu. Beliau, sambil memandang kedua mata saya, mengatakan: “Ada kedamaian di matamu. Di mata orang-orang Indonesia“. Puas sekali sekali saya mendengarnya. Ah, harapan itu masih ada.

Lalu kutanyakan (saya memang banyak bertanya ke orang yang baru saya kenal), karena pembicaraan mulai menyentuh masalah perasaan yang melibatkan kedamaian hati: apa sebenarnya yang kamu cari dari kunjungan ke banyak negara itu? Dan beliau menjawab bahwa sebenarnya beliau gelisah atas keyakinan yang selama ini beliau yakini.

Seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.. Kedamaian, keikhlasan, ketenteraman yang seharusnya beliau dapat dari beragama tidak beliau temukan. Beliau bercerita bahwa beliau adalah seorang k*tolik yang tidak lagi mengikuti ibadah di tempat ibadahnya karena tidak nyaman dengan konsep trinitas dan krisis teladan di kalangan pemuka agama serta ditinggalkannya nilai-nilai dasar dari agama yang beliau anut oleh banyak pemeluk agama tersebut. Lalu beliaupun berkunjung ke banyak negara untuk mencari kedamaian itu.

Saya pun bertanya: jadi mbak tidak ke tempat ibadah agama mbak lagi?. Dan beliau menjawab: tidak. Lalu kutagih lagi: jadi agnostik ya?. Lalu dijawab: Bukan yang seperti itu, tapi saya meyakini ada energi di sekitar saya yang memberikan saya kekuatan, sama seperti yang mengendalikan alam raya ini, pasti ada.

Dari percakapan itu, saya sebenarnya ingin langsung mengenalkannya pada Islam, namun karena saya khawatir di pikiran beliau tentang Islam adalah agama ekstrimis, maka kuyakinkan saja beliau: kalau mbak serius mencari, saya yakin suatu saat anda akan menemukan kedamaian hakiki itu. Saya mengatakannya sambil berdoa dengan sangat di dalam hati: Ya Allah, temukan orang ini pada Islam suatu hari nanti.

Di akhir pembicaraan, karena kapal feri sudah hampir sampai di pelabuhan, maka beliau menawarkan untuk berteman baik dengan saya. Beliau berjanji mengajarkan bahasa Inggris dan Prancis, dengan imbalan saya mengajarinya bahasa Indonesia. Kemudian, saya memberikannya nomor handphone saya, jika suatu saat dibutuhkan kita bertemu lagi.

Ada rencana untuk sekalian mengundangnya ke Darmaga. Lalu saya titipkan ke Rumah Sejahtera milik teman-teman akhwat angkatan 47, namun ternyata beliau sudah memesan tempat untuk istirahat di sebuah hotel di sekitar Blok-M.

Kapal merapat. Kami berjabat. Kemudian berpisah.

* * *

Tapi saya kehilangan simcard dan menggantinya dengan nomor lain, sehingga dengan sangat yakin, kecil kemungkinan kita bertemu lagi. Saking besarnya keinginan saya untuk bertemu beliau, saya nekat mengirimkan surat via e-mail ke Kedutaan Inggris di Jakarta. Namun sampai saat ini belum ada balasan.

Namun saya berdoa kepada Allah SWT, meskipun Dia tidak mempertemukan saya lagi dengan Grace. Mudah-mudahan Allah SWT mempertemukan Grace dengan cahaya kedamaian abadi, solusi hidup umat manusia: Islam.

“Tentukanlah di mana posisimu: penonton yang mencari hiburan, penunggu yang tak punya empati, atau pengharap kegagalan karena ada yang tak sejalan dengan persepsi mereka. Atau penuntun dan pengikut dengan pengenalan sistem navigasi yang akurat dan keyakinan yang mantap, bahwa laut tetap bergelombang dan di seberang ada pantai harapan.” (Alm. Rahmat Abdullah)

Bogor, 22 November 2011
Pondok Keadilan,

Muh. Ihsan Harahap

– – –

Saya memutuskan menulis ini akibat terinspirasi oleh sebuah video di http://www.fimadani.com/video-wanita-nasrani-menangis-saat-mendengar-adzan/

Advertisements

13 thoughts on “Tentang Seorang Perempuan di Selat Sunda

  1. Dari mana emang? Jalan-jalan ke Sumatera?
    Btw, kenalin dong sama itu perempuan 😀

  2. ceritanya keren san…
    mba bule nya juga keren…

  3. semoga hidayah-Nya menghampiri hati mbak Grace itu, amin…

  4. Runa Aviena says:

    menarik,
    jadi semakin ingin punya kenalan orang luar..
    😀

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: