Pahlawan Kebangkitan (1)

Hari ini, Hari Pahlawan.
Dan hari akhir-akhir ini, dunia menjadi semakin menarik saja.

Di momen 10 November ini, saya ingin berbagi sedikit berbagi cerita [1], atau mungkin alur pikir, yang sedang berputar di dalam otak saya. Silahkan dinikmati, jika layak dinikmati.

Menjadi Pahlawan: Menyulut Kebangkitan Dunia!

“Permainan kecil iMencari Pahlawan Indonesia, Anis Mattatu hanya ingin menyampaikan pesan sejarah bahwa kendali bukanlah di tangan manusia, termasuk atas pikiran-pikirannya sendiri. Para konspirator selalu ditipu oleh dendam dan megalomania, diyakinkan oleh kedigdayaannya bahwa semua kendali ada di tangan mereka. Tidak nyatanya! Sumber optimisme kita dari situ, dari fakta bahwa kendali tidaklah di tangan manusia, kendali tetap di tangan Allah. Dia yang mengendalikan permainan ini!

–  Anis Matta, penulis, pemikir, Wakil Ketua DPR-RI 2009-2014

Dia masih muda. Dan berprofesi sebagai seorang pedagang buah-buahan.

Dengan gerobak, sehingga ia disebut pedagang kaki lima, di sebuah negara Arab, yang secara tidak kebetulan dipimpin oleh pemimpin sekuler. Tapi, meski hanya seorang pedagang buah, tapi orang inilah yang kelak menjadi inspirasi utama sebuah ‘pemberontakan suci’ yang sedang fenomenal akhir-akhir ini: REVOLUSI ARAB!

Waktu itu, ia sedang berdagang bersama beberapa orang pedagang buah lainnya di sebuah jalan sebuah kota di negaranya. Tiba-tiba beberapa orang polisi (semacam Satpol PP) menghampirinya dan merampas gerobak-gerobak itu, lalu membawa gerobak-gerobak itu ke suatu tempat yang tidak diketahui. Kemudian, berbulan-bulan, pemuda ini menuntut keadilan bagi haknya yang terampas. Di masa tanpa pekerjaan itu, dia juga terlibat dalam gelombang kecil, protes terhadap rezim yang selama ini mengangkangi kemiskinan dan masalah-masalah rakyat dengan rumus-rumus sederhana sambil duduk di atas sofa mahal mereka. Terutama tentang pengangguran dan kurangnya lapangan pekerjaan.

Maka berlangsunglah gelombang kecil protes dari pemuda ini selama berbulan-bulan. Banyak ia rasakan, terutama karena rasa dizalimi, ketidakadilan dan sakit hati oleh perampasan beberapa bulan lalu itu. Kemudian, puncaknya terjadi pada hari Jum’at, 17 Desember 2010 di depan kantor Walikota: ia protes lagi. Sambil membawa sejerigen bensin, ia membasahi tubuhnya dengan mandi menggunakan bensin itu, lalu menyulut api, membakar dirinya sendiri. Kemudian dia sempat bertahan beberapa hari di unit gawat darurat sebuah rumah sakit di sana, kemudian meninggal.

Usianya masih muda: 26 tahun. Tapi kejadian itu, membakar diri, kemudian meninggal, kelak menginspirasi dunia akhir-akhir ini sampai terjadinya The Arab Spring pada saat ini. Namanya Al Bouazizi, lebih lengkapnya: Muhammad Al Bouazizi. Tinggal di negara sekuler bernama Tunisia. Dan sang diktator adalah Zein al Abidien bin Ali, yang lebih terkenal dengan sebutan “Ben Ali”.

Sebelum itu, tidak lama saja sebelum itu, empat orang diktator Arab: Husni Mubarak (Mantan Presiden Mesir, mundur), Ben Ali (Mantan Presiden Tunisia, mundur), Khadafi (Mantan Presiden Libya, tewas) dan Bashar Al Assad (Presiden Suriah, masih bertahan), masih sempat berkumpul dan menggelak tawa pada sebuah forum dunia-dunia Arab dan Afrika, persis di tempat kelahiran -sekaligus kematian- Khadafi: Sirte. Mereka masih sempat saling bercanda di 2009 lalu, bersama-sama, sesama diktator Arab.

Sekarang mari kita melakukan refleksi.

Ketika Fir’aun bermimpi tentang kudeta kerajaan besarnya nanti dan kudeta ini dipimpin oleh seorang laki-laki yang akan segera lahir, maka kemudian Fir’aun mengeluarkan kebijakan politiknya waktu itu: membunuh semua bayi lelaki yang lahir. Maka dibunuhlah semua bayi laki-laki yang akan lahir waktu itu dan kita tentu ingat ada satu bayi yang disimpan dalam sebuah keranjang kayu, keranjang kayu ini dilepaskan di tepian sungai Nil, sampai pembantu istri Fir’aun mendapatinya dan kemudian istri Fir’aun bermohon: sayang, aku pinta jadikan bayi ini saja menjadi anak lelaki kita. Karena rasa sayangnya -dan juga berpikir ini hanya satu dari ribuan bayi yang hendak dibunuh, Fir’aun kemudian menyetujui permintaan ini. Bayi ini kemudian dirawat dan tumbuh dalam singgasana kerajaan yang serba mewah dan tentu saja mendapatkan perawatan lux.

Tapi, seperti kata Anis Matta, kadang kita berusaha menghindar dari sebuah takdir dengan membuat sebuah keputusan untuk upaya menghindarinya, tapi kita tidak sadar: kita sedang bermain dan dipermainkan oleh jalan takdir itu. Maka seperti itu pulalah yang terjadi pada Fir’aun. Ia hendak berlepas dari takdir, bahwa keputusan membunuh semua bayi adalah upaya untuk membatalkan takdir kudeta kerajaan besar Fir’aun, tapi justru di sanalah kesalahannya, sangat sederhana. Memelihara bayi laki-laki yang hampir hanyut si sungai Nil itu, kelak kita mengenalnya sebagai Nabi Musa Alaihissalam, adalah sama saja dengan memelihara dengan baik sebuah zigot yang kelak membesar menjadi kudeta. Dan begitulah ceritanya: cerita Nabi Musa dan Fir’aun pada penggulingan besar itu. Begitulah, kata Anis Matta, permainan takdir itu.

Seperti itu jugalah Muhammad Al Bouazizi: pembakaran dirinya, dan kematiannya, kematian seorang rakyat biasa. Namun, peristiwa kecil itu pulalah yang menjadi akar dari ‘pemberontakan suci’ bernama Revolusi Arab. Maka, tawa dan canda empat diktator di Sirte pada 2009 itu, kelak menjadi sebuah lelucon yang paling akhir dalam hidup mereka. Dan kita tahu, yang paling pertama turun dari empat diktator itu adalah yang paling lama memimpin. Namanya Husni Mubarak, sang Tiran Mesir. Tapi saya tidak akan membahas lebih dalam tentang turunnya empat diktator ini, karena Kebangkitan Islam menjadi fokus saya dalam tulisan berseri ini. Meski begitu, ada satu instrumen penting dalam pentas sejarah yang bercerita tentang kudeta terhadap diktator dan goresan sejarah besar lainnya. Satu instrumen itu bernama Pemuda Islam.

* * *

Dunia, seperti kata saya tadi, menjadi semakin menarik saja akhir-akhir ini.

Hari-hari akhir ini, kepala saya dipenuhi oleh beberapa instrumen tentang alur pemikiran yang jarang dan akhir-akhir ini datang dan tertancap secara mendalam ke dalam diri dan hidup saya. “Kebangkitan”, “Revolusi”, “Kebangkrutan Besar” dan “Peradaban Baru”, inilah beberapa dari sekian kata yang memenuhi hidup saya akhir-akhir ini. Ia kemudian menyihir saya untuk melakukan beberapa tindakan yang kemudian dianggap “berani” atau bahkan “konyol” bagi mereka (beberapa teman saya sendiri) yang kurang visioner dan terkurung dalam pikiran sempit.

Tulisan ini akan lanjut dalam beberapa seri. Mungkin dua, tiga, atau berakhir di sini.

Bogor, Hari Pahlawan, 2011

Muh. Ihsan Harahap


[1] Tulisan berseri tentang Hari Pahlawan ini mempunyai beberapa referensi. Saya sarankan anda untuk mendengar  dan membaca dulu referensi ini:

  1. Taujih Pergerakan dengan judul “Manhaj Dakwah” oleh Anis Matta. Bisa diunduh di halaman download blog ini
  2. Buku Sirah Nabawiyah, karya Ibnu Hisyam. Bisa juga membaca karya Al Mubarakfury
  3. Buku Al Manhajul Haroki lis Shirotin Nabawiyah, karya Munir Al Ghadban. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Manhaj Haroki”
  4. Buku “Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam”, oleh Tamim Ansary
  5. Orasi tentang 100 Pemimpin Muda Indonesia dalam acara Panggung Pemuda Indonesia oleh Anis Matta. Videonya bisa dilihat di sini.
Advertisements

6 thoughts on “Pahlawan Kebangkitan (1)

  1. Setetes Embun says:

    000

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: