Mendefinisikan Kembali Mimpi Kita

“Tanpa mimpi dan semangat, orang-orang seperti kita akan mati, kal!”
― Arai, kepada Ikal, Sang Pemimpi

Fakta: Bill Gates didrop-out Novel Sang Pemimpi -International Editiondari Harvard karena sibuk dengan “proyek kecil”-nya.

Di dalam hidup ini, kita tahu, masa remaja atau secara umum masa di umur muda kita, adalah sebuah fase di dalam rentang hidup kita yang paling berkualitas. Itulah mungkin yang menyebabkan bahwa di pengadilan Akhirat nanti, kita akan ditanya banyak pertanyaan, salah satu pertanyaan itu adalah “dimana kau habiskan masa mudamu?”. Mengapa? Karena masa mudalah yang menjadi harta paling berharga di dalam hidup kita yang hanya sekali terjadi.

Kemudian, berbicara tentang mimpi (atau impian), maka, menurut saya,  kita akan berbicara tentang beberapa hal: minat, bakat, usaha dan takdir. Saya akan membaginya membagi dua, yaitu tahap persiapan (minat dan bakat) dan tahap eksekusi (usaha dan takdir).

Tahap Persiapan

Pertama. Minat adalah semacam perasaan berupa ketertarikan kepada sesuatu. Maka, minat adalah terminal pertama dari perjalanan panjang untuk meraih mimpi kita. Dari terminal inilah, kita kemudian membuat titik pertama dari rancangan besar dari hidup kita -yang kita sebut sebagai impian. Jadi, sebelum menentukan cita-cita ataupun mimpi-mimpi kita, maka refleksi pertama yang harus kita tanyakan ke dalam diri kita adalah “apakah minat saya?” atau “apakah saya pernah menanamkan sebuah minat pada target ini?”. Karena sekali lagi, minat haruslah menjadi alasan pertama kita untuk tertarik pada sesuatu. Misalnya, karena profesi Dokter adalah sebuah profesi yang sedikit banyak mendapatkan “tempat khusus” di dalam hati masyarakat, dan mungkin menurut kita adalah sebuah profesi yang “keren”. Lalu karena alasan itu, kita, tanpa mempedulikan profesi apa yang sebenarnya sejalan dengan minat kita, kemudian menjadikan profesi Dokter tadi sebagai pilihan hidup kita. Maka, temukan diri kita: apa minat kita?

Kedua, bakat.

Setelah mendapatkan ketertarikan dan terjadi kecocokan dengan minat kita. Maka “bakat” menjadi tahap kedua dari perjalanan kita meraih mimpi, impian ataupun target-target di dalam hidup kita. Bakat adalah sebuah kemampuan bawaan yang dimiliki setiap orang. Di dalam teori multiple intelligences-nya Howard Gardner, dijelaskan bahwa setiap manusia dianugrahi oleh minimal satu macam kecerdasan. Dari kemampuan bawaan inilah yang menjadi “modal” setiap orang untuk mendefinisikan mimpinya dan akan menjadi apa dia nanti. Apa jadinya kemudian jika ayah dari Britney Spears menyuruh Britney untuk menjadi seorang pengacara? Apa jadinya jika ibu dari Albert Einstein menyuruh Einstein untuk menjadi penyanyi kelak jika dewasa? Inilah terminal kedua dari tahap persiapan sebelum kita mendefinisikan kembali mimpi kita: bakat.

Terminal lain: Penegasan

Sering seorang pemimpi menjadi lama atau gagal meraih mimpinya karena juga gagal dalam menegaskan apa yang ada di tahap persiapan: minat dan bakat. Maka sebelum menuju tahap eksekusi, maka buatlah penegasan untuk menentukan minat dan bakat apa yang ada pada diri kita. Penegasan ini menjadi penting, karena ia mengandung konsuekuensi nyata: kita berhasil atau kita belum berhasil.

Tahap Eksekusi

Kini, kita telah melalui tahap persiapan. Mari siapkan tenaga yang sudah terkumpul untuk menuju fase selanjutnya: tahap eksekusi.

Pertama, usaha.

Di terminal ini, mari kita mengambil nafas sejenak. Langkah selanjutnya akan lebih berat. Akan ada banyak aral dan rintangan yang menghalangi mimpi kita. Salah satu batu besar di jalan menuju mimpi yang paling sering menggagalkan banyak pemimpi untuk melanjutkan impiannya adalah realitas. Realitas adalah kenyataan, fakta, apa yang sebenarnya terjadi. Di dalam hidup ini, kita sering membuat mimpi yang terkadang “terlalu tinggi” jika dibandingkan keadaan faktual diri kita. Sebagai contoh, seorang Andrea Hirata yang bermimpi kuliah di Paris, sedangkan pada kenyataannya waktu itu Andrea tidak lebih kuli ngambat dan anak dari seorang kuli rendahan di PN Timah. Inilah realitas.

Apa jadinya jika Andrea berhenti bercita-cita pada waktu itu? Keadaannya memang berat: kesempatan kuliah semakin kecil dengan banyak pesaing, juga ditambah keadaan keluarga yang pas-pasan.

Tapi beda antara seorang pemimpi sejati dan para “pemimpi gadungan” adalah kemampuan untuk menghadapi realitas. Karena untuk mendidik seorang pemimpin, kata Anis Matta, adalah menerjunkannya langsung ke lapangan. Karena medan aplikasi yang paling nyata untuk mendidik seseorang menjadi seorang pemimpin adalah melatih dia untuk menghadapi kenyataannya. Contohnya, kita bisa memberikan materi sebanyak-banyaknya kepada orang lain tentang kejujuran, namun kita tidak bisa menjamin ia jujur ketika disodori uang.

Maka, realitas, adalah semacam “latihan” bagi para pemimpi sebelum ia meraih impiannya. Karena latihanlah yang membuat seseorang tahu bagaimana hakikat dari proses meraih impian-impian tersebut. Latihanlah yang membuat kita bisa mengendarai sepeda motor misalnya. Realitas adalah latihan.

Kedua, takdir.

Setelah tiga terminal penting sebelumnya: minat, bakat, usaha. Kita akan menghadapi terminal terakhir yaitu takdir. Takdir adalah sebuah ketentuan yang telah diatur oleh Tuhan. Megawati Soekarno Putri adalah anak dari Ir. Soekarno karena memang Tuhan telah mengatur demikian takdirnya. Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 karena memang begitulah yang tertulis di Lauh Mahfudz. Maka jika perjalanan mengejar impian tidak mengantarkan kita pada apa yang kita cita-citakan sedari awal, maka jalan terbaik darinya adalah menghadapi takdir.

Menghadapi takdir ini bisa macam-macam. Tapi jika anda adalah seorang pemimpi sejati, maka anda akan mencari semua jalan yang memiliki kemungkinan untuk mengantarkan anda menggapai impian tersebut. Setelah semua kemungkinan itu habis kita coba dan tidak ada jalan lagi untuk meraihnya, maka ada satu pesan dari Andrea Hirata di novel Edensor yang patut kita perhatikan:

“Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi sepahit apapun keadaanya.”
― Andrea Hirata

Bogor, 4 November 2011

Sehabis Jum’atan,

Muh. Ihsan Harahap

Advertisements

5 thoughts on “Mendefinisikan Kembali Mimpi Kita

  1. awanbiru says:

    ‘Maka jika perjalanan mengejar impian tidak mengantarkan kita pada apa yang kita cita-citakan sedari awal, maka jalan terbaik darinya adalah menghadapi takdir.’ sip..

    • “Tapi jika anda adalah seorang pemimpi sejati, maka anda akan mencari semua jalan yang memiliki kemungkinan untuk mengantarkan anda menggapai impian tersebut. Setelah semua kemungkinan itu habis kita coba dan tidak ada jalan lagi untuk meraihnya..”

  2. kamila ^^ says:

    hwaaaaaa!!!! aku tersengat! ^o^p

    • Mulailah membaca. Buka matamu.

      Waktu kuliah, seorang Anis Matta pernah meninggalkan seluruh literatur berbahasa Indonesia selama lebih dari satu tahun, untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab beliau. Beliau juga terbiasa membaca lima jam sehari -di luar mata kuliah yang beliau ambil di LIPIA.

      Mulailah membaca bacaan yang berat, Kamila.

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: