Liputan Perjalanan Pribadi: Sarasehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia – Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 28-30 Oktober 2011 (Bagian 1)

Bismillahirrahmanirrahim..

Mudah-mudahan kita semua berada dalam keadaan yang maksimal dan diberkahi serta dirahmati oleh Allah SWT. Salam dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Sekedar ingin berbagi kepada teman-teman semua tentang perjalanan kami dari LDK Al Hurriyyah Institut Pertanian Bogor dalam rangka mengikuti kegiatan Sarasehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia (selanjutnya disebut ‘Sarnas’) yang insya Allah akan berlangsung di Kampus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada tanggal 28-30 Oktober 2011. Insya Allah liputan ini akan dibuat secara berseri dimana setiap harinya akan ada liputan perjalanan pribadi, sekali lagi: pribadi,  yang diterbitkan di blog ini.

***

Bank BNI Kampus IPB Dramaga-Terminal Baranangsiang Bogor, pukul 13.10

Saya datang ke tempat yang disepakati oleh teman-teman dari LDK Al Hurriyyah IPB untuk berkumpul dan melakukan briefing sebelumnya, yaitu di Bank BNI Kampus IPB Dramaga pada pukul 13.15. Yang pertama terlihat kalau tidak salah adalah mbak Retno (BDP 44) di sudut gedung bank. Ternyata belum banyak yang berkumpul, padahal waktu yang dijanjikan untuk briefing sebelumnya tinggal lima menit lalu.

Saya melalui beberapa menit dengan bosan karena teman-teman yang ‘rela’ menerima gelar ‘ADK’ itu ternyata tidak tepat janji pada bab ini. Saya kemudian minta izin kepada mbak Retno untuk ke Babakan Raya[1] untuk sekedar mengganjal perut.

Sepuluh menit kemudian, sms masuk, teman-teman sudah datang semua. Kami kemudian berkumpul dan langsung berangkat ke Terminal Baranangsiang –tentu saja naik angkot Kampus Dalam dan 03 dulu. Hehe.. Kami sampai sekitar pukul 15.20 di terminal dan langsung naik ke bus Sinarmas, dan langsung cus ke Yogyakarta.

Bogor-Depok-Bekasi-Bandung, semuanya di atas Bus, pukul 19.47

Perjalanan menuju Yogyakarta dimulai dari Baranangsiang dengan sebuah bus dengan AC apa adanya, ditambah WC integrated di atas bus –dan ternyata hanya bisa dipakai untuk buang air kecil saja. Bus pun melaju, tapi harus melewati Depok, Bekasi, setelah itu ke Bandung dan terus melaju ke Yogyakarta.

Belum ada kesempatan untuk sholat, maka saya mengisi waktu yang begitu luang ini dengan beberapa kegiatan yang saya anggap bermanfaat: mengambil buku yang menurut saya berkategori “butuh konsentrasi yang cukup” yaitu “Dari Gerakan ke Negara”[2] dan memutar beberapa rekaman taujih ataupun ceramah pergerakan dari Rahmat Abdullah[3] dan Anis Matta.

Waktu berlalu. Tadi sewaktu mulai membaca dan mendengarkan taujih para Asatidz lewat rekaman, pukul 16.00 –beberapa lagu Iwan Fals, sekarang sudah pukul 19.54, dan sudah berada di Bandung.

Di tengah bacaan dan taujih para asatidz tadi, ada beberapa poin penting yang patut diperhatikan. Untuk membentuk peradaban Islam, ada setidaknya empat unsur yang harus kita bentuk lebih dahulu: Basis kepemimpinan, basis massa atau basis sosial, basis institus, dan yang terakhir: membentuk negara.

Yang pertama, basis kepemimpinan.

Umat itu senantiasa terbagi atas dua bagian, yaitu bagian inti dan bagian awam. Bagian awam selalu lebih banyak daripada bagian inti dan bagian inti inilah Basis Kepemimpinan itu dibangun. Yang patut diperhatikan dari poin yang pertama ini adalah bahwa bagian inti adalah bagian yang wajib dipenuhi sebelum kita melangkah menuju ke Basis Sosial, karenanya butuh waktu, modal, pengorbanan dan ‘kurikulum’ yang telah siap dan dipersiapkan oleh muassis dakwah ini. Dan inti sebuah ummat akan selalu lebih sedikit dari ummat.

Sebagai contoh, di dalam haji Wada’ di zaman Rasulullah, menurut riwayat ada sekitar 100.000 sampai 125.000 orang yang ikut dalam ibadah ini. Kemudian, Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengatakan hanya ada 100 sampai 110 orang yang dikategorikan sebagai ‘Ulama. Dari 100 sampai 110 orang itu, masih menurut Ibnul Qayyim, dikategorikan menjadi tiga: al muqfiruna fil fatwa (ulama dengan jumlah fatwa yang banyak), al mutawassituna fil fatwa (fatwanya menengah) dan al muqilluna fil fatwa (fatwanya sedikit). Yang dimaksud dengan al muqfiruna fil fatwa  adalah ‘Ulama yang apabila fatwa-fatwanya dikumpulkan seluruhnya maka akan mebentuk sebuah buku yang sangat besar. Yang termasuk dalam kategori pertama ini antara lain Umar bin Khattab, Ali bin Ali Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar dan dua sahabat lainnya. Sedangkan Abu Bakar As-Shiddiq dan Usman bin Affan dikategorikan ke dalam ulama yang jumlah fatwanya menengah.

Nah, dari sana kita bisa melihat bahwa INTI sebuah ummat selalu lebih sedikit dan lebih utama karena merekalah nanti yang akan menjadi kekuatan pondasi untuk menopang banyak energi, ide dan gagasan yang lahir pada generasi setelahnya.

Saya kira, cukup untuk poin pertama dulu: basis kepemimpinan. Yang lainnya akan kita bahas di kesempatan yang lain.

Tasikmalaya, pukul 23.15

Saya terbangun dan mendapati bus berhenti pada sebuah rest area di tempat yang kata mbak Retno: Tasikmalaya. Mendengar namanya, saya jadi ingat salah satu sahabat diskusi saya waktu masih duduk di kelas Tingkat Persiapan Bersama IPB, namanya Kusmana.

Di Rest Area ini, saya, kak Faiz, kak Abbas, kak Akhir dan beberapa teman-teman akhwat memutuskan untuk melaksanakan sholat yang sempat tertunda: Asar, Maghrib dan Isya. Karena pikirku kalau menunggu Shubuh maka rekor penundaan ini akan mengalahkan peristiwa perang Khandaq[4]. Kami masuk ke sebuah gedung terbuka, mengambil wudhu dan segera menjamak sholat. Setelah sholat, kami makan di sebuah rumah makan yang integrated dengan gedung terbuka tadi. Menu saya adalah nasi putih, sup hangat, ayam goreng sambel dan segelas teh hangat manis: Rp. 20.500. Harga yang cukup mahal untuk kami yang berkantong mahasiswa. Hehe.. Tapi karena benar-benar lapar maka saya segera melahap habis semua menunya dan segera naik ke bus.

Bus berjalan. Singgah di SPBU. Perjalanan berlanjut.

Karena rasa kantuk yang mulai menyerang, segera sisi melankolis saya bermain. Kuambil headset, kusambung ke handphoneku lalu memutar lagu andalan pengantar tidur: Untukmu Ananda, oleh Izzatul Islam.

             Tidurlah tidur.. Anakku sayang..

             Tidurlah tidur.. dalam pelukan..  

             Aku doakan.. kelak kau besar.

             Jadi Pejuang, pembela Islam..

Tasikmalaya, di atas bus menuju Yogyakarta
28 Oktober 2011, pukul 00.21

Muh. Ihsan Harahap


[1] Mahasiswa IPB menyebutnya dengan “Bara”. Ini salah satu tempat sakral di IPB. Salah satu pusat interaksi mahasiswa: ada pasar dengan berupa-berupa isinya.

[2] Buku ini ditulis oleh Anis Matta, salah satu penulis, pemikir, dan aktivis gerakan yang saya sukai. Beliau menulis beberapa buku yang memang menunjukkan betapa beliau sangat mencintai ilmu dan punya kerangka berpikir besar. Berkenalanlah dengan beliau lewat tulisannya..

[3] Judul: Rahmat Abdullah: 1. Mengenal Medan Dakwah; 2. Dakwah Sya’biah; 3. Kilas Balik 20 tahun Tarbiyah di Indonesia | Anis Matta: 1. Manhaj Dakwah (Side A); 2. Manhaj Dakwah (Side B) | Semua materi ini bisa didownload di https://memilihkeputusan.wordpress.com/downloads-2/

[4] Pada Perang Khandaq, Madinah dikepung dari luar oleh pasukan koalisi bangsa-bangsa Arab dan diabrik dari dalam oleh Yahudi dan kaum munafik. Di dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat berperang dari sejak waktu sahur sampai ba’da Isya, sehingga harus menjamak seluruh sholat itu pada ba’da Isya

Advertisements

4 thoughts on “Liputan Perjalanan Pribadi: Sarasehan Nasional Aktivis Dakwah Kampus Indonesia – Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 28-30 Oktober 2011 (Bagian 1)

  1. airisahara says:

    “merekalah nanti yang akan menjadi kekuatan pondasi untuk menopang banyak energi, ide dan gagasan yang lahir pada generasi setelahnya.”

    – Aku doakan.. kelak kau besar.
    Jadi Pejuang, pembela Islam.. –

  2. Perjalanan yang menarik. Saya juga sempet denger cerita dari temen-temen lain dari luar pulau, yang saat itu sempet ngobol bareng mereka di sela-sela acara sarnas.

    Sambil ngelipt acara, sambil ngobrol, haha..

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: