Mengapa saya keluar? (2)

Disadur dari catatan harian 2007-2009,

Bontokaddopepe, Agustus 2007

Hari ini hari kamis, bulan Agustus, tahun dua ribu tujuh.

Dimana-mana, di jalan, di pasar, di gang-gang sempit, di depan setiap rumah orang-orang kampung: Merah Putih! Meriah! Karnaval!

Bulan ini adalah bulan Agustus. Bulan bersuka cita. Semua orang senang gembira. Sebagaimana lalu-lalu, Agustus adalah bulan kemenangan bagi bangsa Indonesia, hari bersejarah, proklamasi kemerdekaan. Berbagai perlombaan dan pertandingan serta berupa-rupa kegiatan dilaksanakan di setiap desa. Mulai dari perkemahan, lomba gerak jalan indah antar sekolah, lomba makan kerupuk bagi remaja pengangguran, lomba sepakbola memakai sarung bagi bapak-bapak tukang ronda dan lomba lari bakiak yang diikuti para waria. Semua, semua orang larut dalam euforia Agustus.

Namun, bagiku, Agustus tahun ini adalah bulan kebingungan. Mengapa aku bingung? Bacalah tulisan sebelum ini.

***

Bukan lagi catatan harian,

Aku memasuki sebuah sekolah menengah atas negeri di daerahku. Hari itu hari senin. Dan aku ingat kelas kami, sepuluh satu, ditempatkan di Laboratorium Fisika untuk sementara waktu karena ruangan kelas yang sesungguhnya sedang direnovasi total. Dan pelajaran pagi itu adalah sosiologi oleh Bapak Sakri. Alhamdulillah, karena kesan pertama dengan sekolah ini dimulai dengan pelajaran yang sedikit banyak saya suka.

Satu hal yang agak kurang kusukai dari kelas ini adalah belum adanya orang yang bisa diajak diskusi dan punya selera dan kapasitas untuk berdiskusi secara matang.

Waktu berlanjut. Lima puluh dua kilometer, pulang balik, setiap hari. Kadang naik motor, kadang naik angkot. Ada beberapa keunikan, (karena angkot-angkot itu punya komunitas masing-masing: Nanabase, SP3. Fajar dll), kadang juga cari-cari alasan bolos untuk beberapa hal yang privat.

Desember 2007, semester dua masuk. Beberapa murid[1] berpindah. Semacam pertukaran tahanan Hamas-Israel, tapi sekarang jumlah tawanan berimbang jumlahnya. Beberapa orang dari kelas sepuluh satu pindah ke kelas lain, dan beberapa orang dari kelas lain berpindah ke sepuluh satu.

Di sinilah untuk pertama kalinya, saya mengenal seseorang. Orang ini kelak menjadi salah seorang sastrawan terhebat dalam hidupku, yang pernah kujumpai.

Kulitnya relatif lebih terang dibanding orang-orang pantai, apalagi yang di pelosok Takalar sana. Dia datang ke dalam kelas kami dengan langkah malu-malu. Tak kutahu dia pria normal waktu itu, karena dia langsung ambil langkah cepat duduk di bangku bagian belakang dengan seorang laki-laki gendut yang tampak absurd dan bermuka innocent. Sekarang resmi, mereka berdua, jadi bagian dalam kelas kami. Cerita berlanjut.

Saya adalah orang yang berusaha dengan sangat keras untuk mengenal karakter orang lain, mengetahui apa makanan favoritnya, bacaan kesukaannya, dan kadang-kadang menanyakan film apa saja yang ia suka. Seperti juga ketika bertemu pria ini.

Berbincang-bincanglah kami. Dari sana ada semacam sinyal bahwa orang seperti inilah yang saya cari: yang bisa diajak diskusi dan nyambung.

Beliau adalah seorang anak dari keluarga kecil di pelosok pesisir Takalar bernama pantai Punaga. Ayahnya adalah seorang pegawai di Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Takalar. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Kedua orangtua ini punya lima anak, dan temanku ini adalah anak yang pertamanya.

Punaga ini termasuk kategori dusun pesisir yang menurut saya masih sangat tertinggal. Apalagi dilihat dari masyarakatnya yang tidak percaya pada pendidikan. Ini dilihat dari jumlah anak-anak muda yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMA yang masih bisa dihitung jari. Benar, anda tidak salah dengar: dihitung jari! Dan sahabat saya ini adalah salah satu dari hitungan jari itu yang mendapatkan kesempatan untuk menyicip bangku SMA.

Ada beberapa hal yang unik dari Punaga dan –maaf, saya harus mengatakan ini- keterbelakangannya. Punaga mempunyai sebuah sekolah dasar. Di dinding sekolah itu ada gambar naga dengan tulisan “pu” di sebelah kirinya. Dulu, waktu sahabat saya ini sekolah di sekolah dasar ini, ada beberapa orang guru yang mengajar, dengan jumlah yang bisa dihitung jari. Dengan jumlah yang seperti itu, ada enam kelas yang diajar dan gurunya kurang dari enam orang, sehingga ketika kelas yang satu diajar pada jam ke-I dan II maka kelas lainnya akan kosong. Ini berlangsung selama enam tahun.

Nah, jam mata pelajaran yang kosong yang terjadi selama enam tahun ini biasanya diisi oleh murid-murid yang ada di sekolah itu dengan bermain bola, petak-umpet, bermain kasti dan permainan-permainan “laki-laki” lainnya. Dan sahabat saya ini, dengan ‘beruntung’ ternyata memiliki minat yang kurang terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada waktu kosong tadi.

Waktu aku bertanya, “Jadi, selama waktu kosong enam tahun itu kamu isi dengan apa?”. Dijawab, “Membaca.” Sahabatku ini ternyata mengisi waktu-waktu kosong  itu dengan memasuki perpustakaan, membuka buku, membaca. Selama enam tahun.

Pantas saja. Kemampuannya membuat orang terkagum-kagum dengan retorikanya, bait puisinya, tulisannya dan caranya memandang suatu masalah. Sejak diskusi sejak kelas satu SMA dulu, saya terheran-heran, anak lugu dari pelosok pesisir di tengah masyarakat yang tidak percaya pada pendidikan  itu  sudah membicarakan tokoh-tokoh besar sewaktu kami duduk untuk pertama kali di kelas yang sama: Aristoteles, Plato, Socrates, Mahatma Gandhi, Tagore, Soekarno, Chairil Anwar, Taufiq Ismail,  Wiji Tukhul dan sastrawan-sastrawan besar negeri ini.

Hari berlalu. Saya kagum pada laki-laki ini. Bukan suka atau cinta. Saya masih normal. Kalau tidak percaya, ayo kita buktikan. Abaikan. Kekaguman itu muncul akibat beberapa hal: wawasannya yang luas untuk anak seukuran kami.

Kelas dua SMA, hidupku kedatangan satu orang lagi. Orang kedua inilah yang kelak mengisi diskusi-diskusi dini hari kami di warung kopi pinggir jalan.

..bersambung

Bogor, 20 Oktober 2011
Pukul 01.23 WIB

Di Perpustakaan Masjid Al Hurriyyah IPB

Muh. Ihsan Harahap


[1] Setelah mendengarkan ceramah pergerakan dari Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah, tahun 2001 tentang Kilas Balik 20 tahun Tarbiyah di Indonesia yang disampaikan di Masjid UI, Depok, dijelaskan tentang lebih baiknya menyebut “murid” daripada “siswa”. Karena kata “murid” berasal dari kata Arodha, yang artinya “keinginan”. Silakan download file ceramah pergerakan yang sangat bermanfaat ini di http://www.4shared.com/audio/ekq-fiO7/Ust_Rahmat_Abdullah_Rahimahull.htm

Advertisements

4 thoughts on “Mengapa saya keluar? (2)

  1. Lanjuuutt san . . Masih panjang kayanya

  2. kamila ^^ says:

    wahh..

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: