Mengapa saya keluar? (1)

Waktu itu usiaku sekitar sembilan tahun.

Karena Ayah, kakek, bibi dan keluargaku secara umum sering membeli dan berlangganan beberapa majalah Islam, maka masa kecilku pun banyak diisi dengan menghabiskan waktu dengan majalah-majalah tersebut. Ada beberapa bacaan yang menarik: Suara Muhammadiyah, Suara Hidayatullah, Sabili dan beberapa majalah dari Mizan. Seingatku majalah Suara Muhammadiyah yang ada waktu itu banyak sekali, bahkan terbitan tahun 1989 pun ada. Saya masih ingat, waktu kecil sering membuka Suara Muhammadiyah untuk membaca profil para sahabat-sahabat Nabi –waktu itu berada di halaman-halaman terakhir, bahkan pernah membongkar isi sebuah lemari berukuran sedang (yang isinya majalah Suara Muhammadiyah semua) hanya untuk membalas keinginan membaca itu. Biasanya setelah menemukan tumpukan majalah itu, mataku akan berbinar-binar dan segera menyelesaikan semua bacaan yang ada. Nyatanya, juga karena Ayah membelikan beberapa komik kisah-kisah Nabi dan sejarahnya, saya benar-benar tertarik membaca sejarah.

Suatu hari, kubolak-balik sebuah majalah Islam yang baru dibeli oleh bibi -seingatku waktu itu Suara Hidayatullah. Isinya tentang beberapa profil tokoh-tokoh besar di negeri Islam yang menghasilkan karya-karya besarnya ketika berada di dalam penjara. Ada Sayyid Quthb dengan tafsir Fii Zhilalil Qur’an dan Ma’alim fii At-Thoriq, Ibn Taimiyah dengan Majmul Fatawa-nya, Ibnu Haitham dengan teori optiknya, M. Natsir dengan Kapita Selekta Dakwah-nya dan Buya Hamka dengan Tafsir Al Azhar-nya.

Seingatku, itulah untuk pertama kali saya tertarik untuk mengamati berbagai pola gerakan dakwah yang ada dan terus berkembang. Saya mulai rajin membaca banyak literatur tentang model beberapa gerakan yang ada: Muhammadiyah, NU, Hizbut Tahrir, Salafi, Jamaah Tabligh, Tarbiyah dan lainnya[1]. Kemudian dengan antusias mengikuti “gerak-gerik” dari setiap gerakan ini.

Sewaktu berumur kira-kira 10 atau 11 tahun, ada rombongan Jama’ah Tabligh yang datang ke masjid dekat rumah. Saya dengan rasa sangat ingin tahu mengikutinya. Apa yang mereka lakukan? Dengan cara apa? Saya juga awalnya heran mengapa ada orang yang rela menginap dan tidur menderita di masjid, meninggalkan keluarga berbulan-bulan dan berdakwah langsung ke tengah masyarakat dengan cara mendatangi rumahnya. Saya begitu tertarik melihatnya. Seingatku, waktu itu saya merengek minta izin kepada Ayah untuk diizinkan menginap bersama rombongan itu di masjid kampung kami. Namun, sayangnya Ayah belum mengizinkan saya. Mungkin melihat anaknya yang masih kecil. Jadilah saya menangis sepanjang malam waktu itu.

Kemudian hari berlanjut.

Setamat sekolah dasar, Ayah mendaftarkanku pada sebuah sekolah menengah pertama Muhammadiyah (karena saya berasal dari keluarga besar Muhammadiyah). Saya senang sekali, bertemu banyak orang baru. Kemudian masuk ke Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan menjadi pengurusnya sampai sekarang. Bertemu orang-orang luar biasa. Dari sinilah, pengetahuan berbicara di depan umum untuk pertama kalinya saya dapatkan. Komunitas ini isinya macam-macam. Mulai dari yang masih ‘lurus’ sampai yang tenggelam dalam paham liberalisme, sekularisme dan pluralisme. Maka mulailah saya berkenalan dengan pemikir-pemikir klasik seperti Aristoteles, Plato, Sokrates. Setelah itu mulai bersentuhan dengan pemikir-pemikir seperti Hegel[2], Marx[3], Engels, Lenin[4], Freud[5] sampai Bakunin[6]. Sewaktu kelas tiga SMP, juga mulai berkenalan dengan pikiran-pikiran Ulil Abshar Abdalla[7] dan sejenisnya.

Setamat SMP, saya kemudian memilih untuk memasuki sebuah Pesantren berlatarbelakang Nadhlatul ‘Ulama (NU) di kabupaten saya. Meskipun sudah mulai sedikit-sedikit belajar kitab kuning secara informal waktu SMP dulu (waktu itu pertama kali, seingat saya kitab Bulughul Marom-nya Ibnu Hajar Al Asqalani), di pesantren ini diajari kembali –meskipun pengajar bahasa Arab dengan kemampuan yang lemah.

Ada beberapa hal menarik jika saya mengingat ini.

Di saat saya sudah melihat beberapa model gerakan dakwah. Tapi semakin saya mencari dan mempelajari gerakan-gerakan dakwah itu, semakin saya menemukan hal ini: saya tidak menemukan hal yang saya cari.

Akibat itu, saya merasa pesantren yang saya masuki tidak lagi bisa menampung apa yang saya inginkan dan apa yang saya ingin cari. Saya memutuskan keluar.

..bersambung

Bogor, 18 Oktober 2011

Pukul 07.10 WIB

Di Perpustakaan Masjid Al Hurriyyah IPB

Muh. Ihsan Harahap


[1] Ada buku bagus yang membahas perbandingan harokah, judulnya “Mencari Format Gerakan Dakwah Ideal” , oleh Dr. Shadiq Amin. Juga pembahasan menarik (Alm) KH. Rahmat Abdullah dalam rekaman “Mengenal Medan Dakwah”. Bisa didownload secara gratis di sini: http://www.4shared.com/audio/hyEY9N59/Rahmat_Abdullah__Mengenal_Meda.htm

[2] Dikenal atas “Dialektika”

[3] Pendiri Komunisme. Bersama Engels.

[4] Pendiri Leninisme. Perdana Menteri Uni Soviet yang pertama.

[5] Dikenal atas Psikoanalisis. Dalam penjelasan teorinya sering menggunakan kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan seksual. Freud ini pulalah yang meneliti perempuan selama 32 tahun dan akhirnya menemukan  kesimpulan: perempuan tidak tahu apa yang mereka inginkan

[6] Pendiri Anarkisme

[7] Salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL)

Advertisements

10 thoughts on “Mengapa saya keluar? (1)

  1. sukses akh kedepannya.. mudah2an pilihan terbaik 🙂

  2. yonielviandri says:

    perbedaan yang sangt jauh,dimana waktu kecil dikenalkan dengan tanah,manjat pohon,cangkul,parang,berdiam dalam hutan,tenggelambersama angin laut,yahhhh begituuu hidup,semua mengajarkan tentang keikhlasan,,,semoga menjadi lebih baik dengan pilihan nya

  3. .ekstrim..hahahaha,,jangan terlalu banyak ingin tahu,,bahaya….

  4. Hikmah says:

    baca-baca blog-nya kak ihsan.. asiik

    tulisan-tulisannya mencerdaskan bangsa.

Komentar..

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: